Makalah Komplit adalah situs penyedia Karya Ilmiah yang mengunakan refrensi Ilmiah dan terpercaya

Pengertian Musytarak


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Agama Islam yang diyakini oleh umatnnya sebagai agama Rahmatan lil ‘Aalamin. Hal itu dikarenakan Islam memiliki syariat atau hukum yang mengatur segala sendi-sendi kehidupan manusia, baik dalam kehidupan bermasyarakat maupun dalam masalah hubungan dengan tuhan.

Syariat Islam bersumber dari nash-nash berbahasa arab yang berbentuk Al Qur’an dan Al Hadits. Dalam setiap lafadz Al Qur’an dan Al Hadits mempunyai makna musytarak, ‘aam ataupun khaash. Makna musytarak, ‘aam ataupun khaash mempunyai kegunaan untuk membatasi objek hukum.

Memahami musytarak, ‘aam ataupun khaash sangatlah penting supaya pemahaman manusia tentang makna dari nash-nash itu sesuai dengan maksud yang dituju oleh Allah dalam nash tersebut. Karena jika suatu lafadz tidak diketahui musytarak, ‘aam ataupun khaash-nya maka lafadz itu belum jelas maksudnya karena maknanya tidak terbatas.

B.    Rumusan Masalah
1.    Apa yang dimaksud musytarak, ‘aam ataupun khaash ?
2.    Apa saja contoh-contoh lafadz yang musytarak, ‘aam ataupun khaash ?

C.    Tujuan
1.    Memahami maksud dari musytarak, ‘aam ataupun khaash.
2.    Mengetahui contoh-contoh lafadz yang musytarak, ‘aam ataupun khaash.

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Al Musytarak
1.    Pengertian Musytarak
Musytarak yaitu lafal yang dibentuk dengan memiliki makna yang bermacam-macam, seperti lafal as sanah diartikan Hijriyah dan Miladiyah (Masehi), lafal al yad diartikan dengan tangan kanan dan kiri.

Lafal yang Musytarak adalah lafal yang dibuat untuk dua makna atau lebih dengan pembuatan yang bermacam-macam yang dapat menunjukan kepada maknanya secara bergantian, artinya dapat menunjukan arti ini atau itu. Seperti lafal al ‘ain yang secara bahasa dapat berarti mata untuk melihat, mata air, dan mata-mata, lafal al qur-u yang secara bahasa dibuat untuk makna suci dan haid, lafal as sanah yang berarti tahun Hijriyah dan Miladiyah (masehi), lafal al yad yang artinya tangan kiri dan kanan.

2.    Sebab terjadinya lafal musytarak
Salah satu sebab yang paling penting dari lafal musytarak adalah karena adanya perbedaan suku dan kabilah dalam menggunakan satu lafal untuk makna yang berbeda-beda. Oleh sebab itu para ahli bahasa menetapkan lafal dengan cara memberi makna hakiki (makna dasar) dan majazi (makna kiasan).

Di dalam nash syara’ terdapat  beberapa lafal musytarak. Apabila lafal musytarak itu terjadi antara arti secara bahasa dan istilah syara’, maka yang harus digunakan adalah makna syara’. Dan jika musytarak itu terjadi antara dua makna bahasa atau lebih, maka yang harus digunakan adalah makna salah satunya dengan ijtihad dan mencari suatu petunjuk yang dapat menentukanya, tidak boleh menggunakan kedua atau semua makna musytarak tersebut secara bersamaaan.

3.    Bentuk-bentuk lafal musytarak
•    Berupa kalimat isim (kata benda)
•    Berupa kalimat fi’il (kata kerja)
•    Berupa kalimat huruf (kata sambung)

4.    Contoh-contoh lafal musytarak
Lafal al yad dalam firman Allah SWT :

Artinya : Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al Maidah : 38)

Lafal aidiya (jama’ dari al yad) musytarak antara hasta (dari ujung jari sampai pundak), antara telapak tangan dan lemgan bawah (dari ujung jari sampai siku), antara telapak tangan (dari ujung jari sampai pergelangan tangan), antara tangan kanan dan tangan kiri dan makna yang terahir yakni dari ujung jari sampai pergelangan tangan kanan.

Lafal al qur-u dalam firman Allah SWT :

Artinya : Wanita-wanitayang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quruu. (QS. Al Baqarah : 228)
Lafal quruu tersebut musytarak antara makna suci dan makna haid.

B.    Al ‘Aam
1.    Pengertian al ‘Aam
Al ‘Aam adalah yang menurut arti bahasanya menunjukan atas mencakup atau menghabiskan semua satuan-satuanya, yang sesuai dengan maknanya tanpa membatasi jumlah dari satuan-satuan itu.
Lafal yang umum tidak boleh dikhususkan kecuali dengan dalil sebanding atau lebih tinggi dalam hal kepastian atau dugaanya.

2.    Lafal-lafal al ‘Aam
•    Lafal “Kull” dan “Jami’”. Contoh :
كل راع مسئول عن رعيته
Artinya : Setiap pemimpin itu bertanggung jawab atas apa yang dipimpinya.

•    Lafal yang mufrod (tunggal) dima’rifatkan dengan “Al” al-jinsiyyah. Contoh :
الزانية و الزاني

Artinya : Wanita dan laki-laki yang berzina . . .

•    Jama’ (plural) yang dima’rifatkan dengan “Al” al-jinsiyyah atau idhafah. Contoh :
و المطلقات يترصن
Artinya : Wanita-wanita yang ditalak itu hendaklah menahan diri . . .
و المحصنات من الناس
Artinya : Diharamkan atas kamu ibumu . . .

•    Isim Maushul (kata sambung). Contoh :
و الذين يرمون المحصنات
Artinya : Dan orang-orang yang menuduh wanita baik-baik (berbuat zina).

•    Isim Syarat. Contoh :
و من قتل مؤمنا خطأ
Artinya : Dan barang siapa membunuh seorang mukmin karena tersalah, (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman.

•    Isim Nakirah (umum) yang dinafikan. Contoh :
ﻻﺿﺮﺮﻭﻻﺿﺮﺍﺮ
Artinya : Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan membahayakan orang lain.

3.    Macam-macam al ‘Aam
•    Al ‘Aam yang dimaksudkan adalah umum secara pasti. Yaitu, al ‘Aam yang disertai alasan yang dapat menghilangkan kemungkinan takhsish. Contoh :

Artinya : Dan dari air, Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka Mengapakah mereka tiada juga beriman ? (QS. Al Anbiyaa : 30)

•    Al ‘Aam yang dimaksudkan adalah khusus secara pasti. Yaitu al ‘Aam yang disertai alasan yang dapat menghilangkan ketetapanya atas makna umum dan menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah sebagian satuanya. Contoh :

Artinya : Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup Mengadakan perjalanan ke Baitullah. (QS. Ali Imran : 97)

•    Al ‘Aam yang ditakhsish. Yaitu al ‘Aam yang mutlak, tidak disertai alasan yang meniadakan kemungkinan takhsish, tidak pula alasan yang meniadakan petunjuknya atas umum. Contoh :
ﻭ ﺍﻟﻣﻃﻟﻗﺎﺕ ﻴﺗﺮﺑﺻﻥ   
      Artinya : Wanita-wanita yang di talak itu menahan diri . . .

C.    Al Khaash

1.    Pengertian al Khaash (khusus)
Lafal khusus adalah lafal yang dibuat untuk menunjukan satu satuan tertentu ; berupa orang, seperti Muhammad atau satu jenis, seperti laki-laki, atau beberapa satuan yang bermacam-macam dan terbatas, seperti tiga belas, seratus, kaum, golongan, jamaah, kelompok, dan lafal lain yang menunjukan jumlah satuan dan tidak menunjukan cakupan kepada seluruh satuanya.

Jika di dalam nash terdapat lafal yang khusus, maka hukumnya ditetapkan secara pasti yang ditunjukanya, selama tidak ada dalil yang mentakwil dan menghendaki makna lain. Jika lafal khusus itu berbentuk amar (perintah) maka harus diartikan wajib atas apa yang diperintahkan selama tidak ada dalil yang membelokkan dari arti wajib. Dan jika berbentuk nahi (larangan) maka harus diartikan haram atas apa yang dilarang selama tidak ada dalil yang membelokkan dari arti haram.

2.    Bentuk-bentuk dari al Khaash
•    Bentuk amar (perintah). Contoh :


Artinya : Maka potonglah tangan keduanya . . . .
Dari dalil di atas maka hukum memotong tangan pencuri laki-laki dan pencuri perempuan adalah wajib.
•    Bentuk nahi (larangan). Contoh :

Artinya : Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. (QS. Al Baqarah : 221)
Ayat di atas memberikan pengertian bahwa haram bagi laki-laki muslim mengawini wanita musyrik.



BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Dari setiap lafadz AlQur’an maupun Al Hadits, menurut kekhususan dan keumuman maknanya ada tiga macam, yaitu musytarak, ‘aam dan khaash. Lafadz musytarak yaitu lafal yang dibentuk dengan memiliki makna yang bermacam-macam. Lafadz al ‘Aam yaitu maknanya tidak membatasi jumlah dari satu satuan itu. Lafal khusus adalah lafal yang dibuat untuk menunjukan satu satuan tertentu.

B.    Saran
Secara terbuka kami menyadari masih banyak kekurangan ataupun kesalahan dari makalah yang kami buat ini. Oleh karena itu kepada seluruh pembaca makalah kami diharapkan untuk memberikan saran ataupun kritik yang bisa melengkapi ataupun membenarkan kesalahan dari makalah kami.


DAFTAR PUSTAKA
Khallaf, Abdul Wahab. Ilmu Ushul Fikih. Pustaka Amani. Jakarta : 2003.
0 Komentar untuk "Pengertian Musytarak"
Back To Top