0
pernikahan yang dilarang dalam al-quran
BAB 1
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Allah SWT menciptakan manusia untuk di jadikan sebagai khalifah di muka bumi ini dan supaya memakmurkannya. Hal itu tidak akan tercapai dengan sempurna kecuali jika jenis makhluk ini tetap ada dan hidup terus di muka bumi. Ia bertanam, berindustri, membangun, memakmurkan, dan menunaikan kewjibannya kepada Allah SWT. Agar semua itu dapat berjalan dengan baik, Allah menciptakan sejumlah insting dan dorongan nafsu yang menggiring manusia kapada berbagai hal yang menjamin eksistensinya sebagai individu, juga sebagai spesies.

Dan diantara  bukti-bukti kebesaran Allah, di ciptakan_Nya untukmu pasangan hidup dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa tentram di sampingnya. Dan dijadikan_nya di antara kasih sayang. Sesungguhnya yang demikian itu menjadi tanda-tanda kebesaran_Nya bagi kaum yang brfikir.
    Di samping itu Allah juga menurunkan ayat-ayat yang melarang melakukan pernikahan dengan sebab-sebab yang telah di tentukan, yang akan di jelaskan dalam makalah ini.

B.    Rumusan Masalah

a.    Bagaimana ayat tentang pernikahan terlarang?
b.    Bagaimana menjelaskan tentang kosa kata yang sulit di pahami?
c.    Bagaimana penjelasan dari ayat per ayat?
d.    Bagaimana asbabun nuzul dari ayat tersebut?
e.    Bagaimana hikmah dari ayat tersebut?

C.    Tujuan Penulisan
a.    Untuk mengetahui ayat tentang pernikahan terlarang
b.    Untuk mengetahui tentang kosa kata yang sulit di pahami
c.    Untuk mengetahui penjelasan dari ayat per ayat
d.    Untuk mengetahui asbabun nuzul dari ayat tersebut
e.    Untuk mengetahui hikmah dari ayat tersebut

BAB II
PEMBAHASAN


A.    Ayat tentang perhikahan terlarang
    Ayat tentang menikahi perempuan yang mempunyai hubungan darah (An-Nisa’ : 22-23)
ولا تنكحوا ما نكح ءاباؤكم من النساء الا ما قد سلف انه كا ن فاحشة ومقتا وساء سبيلا(٢٢)حرمت عليكم أمهاتكم وبناتكم وأخواتكم وعماتكم وخالاتكم وبنات الأخ وبنات الأخت وآمهاتكم اللاتي أرضعنكم وأخواتكم من الرعة وأمهات سائكم وربائبكم اللاتي في حجوركم من نسائكم اللاتي دخلتم بهن فإن لم تكونوا دخلتم بهن فلا جناح عليكم وحلائل أبنائكم الذين من أصلابكم وأن تجمعوا بين الأختين إلا ما قد سلف إن الله كان غفورا رحيما (٢٣)
Artinya:

(22)” Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh)”

(23)”Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempua; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

B.    Mufradat

مقتا     di murkai oleh Allah SWT
ساء سبيلا Seburuk-buruk jalan ialah ijalan yang mereka biasa lakukan pada masa jahiliah, dan pelakunya adalah seburuk-buruk manusia. Semakin banyak melangkah tanpak semakin buruk.
الجناح    Dosa dan mempersulit

C.    Penjelasan ayat
Tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa, tidak juga menikahi bekas istri ayahmu, karena itu wahai orang-orang yang yang beriman janganlah kamu melakukan praktek buruk yang di lakukan oleh sementara masyarakat jahiliyah, yaitu menikahi apa, yakni wanita-wanita yang telah  di nikahi walau baru terbatas dalam bentuk akad nikah yang sahih dan belum di gauli sebagai suami istri oleh ayah-ayah kamu, baik ayah langsung maupun kakek, baik drai sisi ayah maupun ibu. Praktik pernikahan semacam itu maengakibatkan murka Tuhan dan siksa atas para pelakunya, terkecuali apa, yakni pada masa yang telah lampau, yakni masa jahiliyah dan sebelumdatangnya larangan ini, maka murka dan siksa itu tidak menyentuhnya dan Allah mengampuni perbuatan itu.

Sebagaimana di jelaskan di atas bahwa anak haram menikahi bekas istri bapaknya, walau pernikahan itu baru sampai pada batas pelaksanaan akad nikah. Di kalangan ulama’ timbul diskusi, apakah tidak terlarang seorang anak menikahi seorang yang pernah melakukan hubungan seks dengan ayahnya secara tidak sah? Imam malik dan syafi’i berpendapat bahwa perzinaan tidak menyebarkan keharaman dan dengan demikian, bila hubungan seks itu terjadi di luar pernikahan yang sah, maka tidak ada halangan bagi anak menikahi wanita yang pernah di zinai oleh ayahnya, demikianlah pula ayah tidak terlarang menikahi wanita yang pernah di zinai ayahnya.

Diharamkan atas kamu menikahi ibu-ibu kamu baik ibu kandung, maupun ibu dari ibu dan ayah kandung; anak-anak kamu perempuan, termasuk cucu perempuan dan anak perempuan cucu; saudara-saudara kamu yang perempuan, sekandung atau bukan, saudara bapak-bapak kamu yangperempuan; yakni semua wanita yang mempunyai hubungan dengan bapak dari segi asal usul kelahiran ibunya baik ibu bapak, maupun hanya salah satunya, demikian juga halnya dengan saudara-saudara ibu kamu yang perempuan ; anak-anak perempuan dari saudara-saudara kamu yang laki-laki; sekandung atau tidak, demikian juga anak-anak perempuan dari saudara-saudara kamu yang perempuan;Itulah tuju macam yang haram dinikahi dari segi hubungan keturunan.

Selanjutnya di uraikan yang haram di nikahi karena adanya faktor-faktor ekstern yang dimulai penyebutannya dengan ibu-ibu kamu yang menyusui kamu, karena persamaannya dengan ibu dari menyusukan, sehingga semua wanita yang pernah menyusui seorang anak dengan penyusuan yang memenuhi syarat yang ditetapkan Allah dan Rasul_Nya, maka ia sama dengan ibu kandung. Demikian juga haram di nikahi semua wanita yang berhubungan keibuan dengan ibu susu itu, baik karena keturunan atau karena penyusuan. Sebagaimana haram juga menikahi saudara-saudara permpuan sepersusuan, yakni wanita yang mengisap lima kali penyusuan pada tetek yang sama dengan yang kamu isap, baik sebelum, bersamaan atau sesudah kamu mengisapnya.

 Setelah menjelaskan wanita-wanita yang haram dinikahi selama-lamanya, ayat ini melanjutkan penjelasan tentang yang haram dinikahi tetapi tidak mutlak selama-lamanya yaitu menghinpun dalam pernikahan dan saat yang sama dua perempuan yang bersaudara, kecuali pernikahan yang serupa yang telah terjadi masa lampau, maka untuk kasus-kasus demikian itu Allah tidak menjatuhkan sanksi atas kamu karena sesungguhnya Allah Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang.

    Hadits
Dari Aisyah r.a bahwa Rasulullah SAW bersabda, “ susuan mengharamkan apa yang diharamkan oleh sebab kelahiran.” (H.R al- Bukhari dan Muslim)

D.    Asbabun Nuzul
Pada masa ketika Abu Qais bin Aslat salah seorang sahabat Anshar yang shalih meniggal dunia dengan meninggalkan useorang Istri. Anaknya yang bernama Qais berkeinginan untuk menikahi ibu tirinya, janda dari ayahnya itu. Ketika ada pembicaraan tantang keinginannya itu si ibu tiri berkata: “Aku telah menganggap sebagai seorang anak istri”. Setelah itu janda Abu Qais datang menghadap kepada Rasulullah SAW untuk mengadukan masalahnya tersebut. Sehubungan dengan itu Rasulullah SAW bersabda: “Pulanglah kamu ke rumahmu!”. Sehubungan dengan peristiwa itu Allah SWT menurunkan ayat ke 22 yang dengan tegas melarang mengawini ibu tiri, janda ayah kanbung sendiri.(HR. Ibnu Abi Hatim, Faryabi dan Thabrani dari Adiyyi bin Tsabit dari seorang sahabat Anshar).

Ayat ke 23 diturunkan sehubungan dengan pernikahan Rasulullah SAW dengan janda anak angkat, Zaid bin Haritsah. Pada suatu ketika Ibnu Juraij pernah mengajukan pertanyaan kepada Atha tentang latar belakang turunya ayat ke 23. Atha mengatakan: “Pernah kami perbincangkan sehubungan dengan pernikahan Rasulullah SAW dengan janda Zaid bin Haritsah, yang Zaid adalah putra angkat Rasulullah SAW. Oleh karena itu orang-orang yahudi menggunjing pernikahan Rasulullah SAW. Sehingga turunlah ayat ke abaa 40 dari surat Al-Ahzab yang berebunyi: Maa kaana muhammadin -ahadin...= Bukanlah Muhammahd ayah dari seseorang... dan ayat ke-4 dari surat Al-Ahzab yang berbunyi: Wamaa ja’ala ad’iyaa-akum abnaa-akum...= Dan Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri).... , yang pada dasarnya memberikan ketegasan tentang halalnya menikahi janda anak angkatnya. Alhasil menikahi bekas istri anak angkat adalah dibolehkan oleh ajaran Islam.(HR. Ibnu Jarir dari Ibnu Juraij).

    Ayat Tentang Menikahi Perempuan Sedang Iddah (Q.S. Al-Baqarah 235)

ولا جناح عليكم فيما عرضتم به من خطبة الساء أو أكننتم في أنفسكم علم الله أنكم ستذكرونهن ولكن لا تواعدوهن سرا إلا أن تقولا قولا معروفا ولا تعزموا عقدة النكاح حتى يبلغ  الكتاب أجله واعلموا أن الله يعلم ما في أنفسكم فا حذروه واعلموا أن الله غفور حليم (٢٣٥)
Artinya:“ Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu dengan sindiran atau kamu menyembunyikan (keinginan mengawini mereka) dalam hatimu. Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka, dalam pada itu janganlah kamu mengadakan janji kawin dengan mereka secara rahasia, kecuali sekedar mengucapkan (kepada mereka) perkataan yang ma'ruf]. Dan janganlah kamu ber'azam (bertetap hati) untuk beraqad nikah, sebelum habis 'iddahnya. Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu; maka takutlah kepada-Nya, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun”.

•    Mufradat
عرضتم Yang kalian sindirkan dan kalian isyaratkan
اكننتم Yang kalian sembunyikan
: يبنغ الكتاب اجله Telah berlaku masa Iddah
•    penjelasan ayat
Setelah ayat lalu menguraikan masa tunggu bagi wanita, yang di susul dengan larangan kawin, maka pada ayat ini di jelaskan batas-batas yang di benarkan dalam  konteks perkawinan.
Tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu pada saat masa tunggu (‘iddah) mereka, dengan syarat pinangan itu disampaikan dengan sendiran, yakni tidak tegas dan terang-terangan menyebut maksud menikahinya.

Ayat ini tidak secara mutlak melarang para priya mengucapkan sesuatu kepada wanita-wanita yang sedang menjalani masa ‘iddah, tetapi kalau ingin mengucapkan kata-kata keparanya, ucapkanlah kata-kata yang ma’ruf, sopan, dan terhormat, sesuai dengan tuntunan agama, yakni sindiran yang baik.

Memang masa tunggu wanita terasa panjang bagi yang ingin mengawininya, sehingga izin melamarnya dengan sindiran dapat mengundang langkah untuk bercampur dengannya, atau paling tidak melakukan sekedar akat nikah walau belum bercampur. Untuk itu, lanjitan ayat ini mengigatkan, Janganlah kamu berketetapan hati untuk berakad nikah, sebelum habis smasa ‘Iddahnya.

BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan

Allah mengharamkan pernikahan dengan siapa yang masih memiliki hubungan kekeluargaan yang dekat kepadanya.
Beberapa ulama’ menegaskan bahwa pernikahan antara keluaraga dekat,dapat melahirkan anak cucu yang lemah jasmani dan rohani. Imam ghazali dalam kitabnya ihya’ ulum ad-din mengemukakan beberapa riwayat yang di nisbahkan kepada rasul SAW, dan umar ibn Khattab r.a antara lain “janganlah kamu menikahi kerabat yang dekat karena anak akan lahir dalam keadaan lemah” (H.R. ibrahim al- Harbi).

Menurut sementara pakar belakangan ini ditemikan secara ilmiah bahwa pernikahan antar kerabat yang dekat berpotensi menyebabkan keturunan mudah terjagkit penyakit, cacat fisik, serta tingkat kesuburan yang rendah, bahkan mendekati kemandulan. Sebaliknya dengan pernikahan dengan orang yang tidak saling berhubungan kekeluargaan yang dekat. Tentu saja yang di maksud adalah terutama kerabat dekat yang di larang oleh ayat di atas, bukan semua kekerabatan , sebagaimana tidak selalalu mutlak terjadi karena nabi SAW sendiri menukahkan putri beliau dengan Ali ibn Abi Thalib r.a yang merupakan anak paman beliau.

B.    Kritk dan saran
Demikian dalam pembuatan makalah ini apabila ada kesalahan atau kekurangan dalam makalah saya, saya minta maaf.


DAFTAR PUSTAKA
Shihab. M. Quraish. Tafsir Al-Mishbah. Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an. Jakarta: Letera Hati. 2002.
Mahali, A. Mudjab. Asbabun Nuzul = Studi Pendidikan Al-Qur’an Surat Al-Baqarah-An-Nas.: PT RajaGrafindo Persada. Jakarta.2002

Poskan Komentar

 
Top