.

Sejarah Munculnya Khawarij

 Makalah Ilmu Kalam, 
Sejarah Munculnya Khawarij
BAB II
PEMBAHASAN

A.    SEJARAH LAHIRNYA KAUM MU’TAZILAH

Secara harfiah kata mu’tazilah berasal dari i’tazalah, berarti berpisah atau memisahkan diri yang berarti  juga menjauh atau menjauhkan diri.  Golongan ini muncul karena mereka berbeda pendapat tentang pemberian status kafir kepada yang berbuat dosa besar. Beberapa versi tentang pemberian nama mu’tazilah kepada golongan ini berpusat pada peistiwa yang terjadi antara Wasil bin Atta’ serta temannya Amr bin Ash, dan Hasan Al-Basri ketika di Basrah yaitu ketika Wasil mengikuti pelajaran yang di berikan oleh Hasan Al-Basri di Masjid Basrah, datanglah seorang yang bertanya mengenai pendapat Hasan Al-Basri tentang orang yang berdosa besar. Ketika Hasan Al-Basri masih berpikir, Wasil mengemukakan pendapatnya dengan mengatakan “Saya berpendapat bahwa orang yang berdosa besar bukanlah mukmin dan bukan pila kafir, tetapi berada pada posisi diantara keduanya tidak mukmin dan tidak kafir”. Kemudian Wasil menjauhkan diri dari Hasan Al-Basri dan pergi ke tempat lain di lingkungan Masjid. Di sana Wasil mengulangi pendapatnya di hadapan para pengikutnya. Dengan adanya peristiwa ini, Hasan Al-Basri berkata “Wasil menjauhkan diri dari kita (i’tazala anna).”
Versi lain dikemukakan oleh Al-Bagdadi. Ia mengatakan bahwa Wasil dan temannya Amr bin Ubaid bin Bab,di usir oleh Hasan Al-Basri dari masjlisnya karena ada pertikaian antara mereka masalah  orang yang berdosa besar.Keduanya menjauhkan diri dari Hasan Al-Basri dan berpendapat bahwa orang yang berdosa besar itu tidak mukmin dan tidak pula kafir.Oleh karena itu golongan ini dinamakan Mu’tazilah.
Versi lain dikemukakan Tasy Kubra Zadah yang menyatakan bahwa Katadah bin Damah pada suatu hari masuk masjid Basrah dan bergabung dengan masjlis Amru bin Ubaid yang disangkanya adalah masjlis Hasan Al-Basri,setelah mengetahuinya bahwa majlis tersebut bukan masjlis Hasan Al-Basri,ia berdiri dan meninggalkan tempat sambil berkata”Ini kaum Mu’tazilah.” Sejak saat itulah kaum tersebut disebut kaum Mu’tazilah
Teori baru yang dikemukakan oleh Ahmad Amin menerapkan bahwa nama Muktazilah sudah terdapat sebelum peristiwa Wasil dan Hasan Al-Basri dan sebelum adanya pendapat tentang posisi diantara dua posisi. Nama Mu’tazilah diberikan kepada golongan orang yang tidak mau berintervensi dan pertikaian politik yang terjadi pada zaman Usman bi Affan dan Ali bin Abi Thalib.Ia menjumpai pertikaian politik yang terjadi disana.Satu golongan yang melakukan pertikaian itu,sedangkan golongan lain menjuhkan diri ke Karibia (I’tazalat ila kharbita).Oleh karena itu, dalam surat yang dikirimkan kepada Ali bin Abi Thalib,Qais menamai golongan yang menjauhkan diri dari Mu’tazilin, sedangkan Abu Al-Fida menamai dengan Mu’tazilah.
Kata I’tazalah dan Mu’tazilah telah dipakai kira kira seratus tahun sebelum peristiwa Hasan Al-Basri dan Wasil,yang mengandung arti golongan yang tidak mau ikut campur dalam pertikaian politik yang terjadi pada zamannya.  Menurut Ahmad amin,penyebut Mu’tazilah untuk wasil bin ata’ amr bin ubaida dan kawan kawannya hanya menghidupkan kembali sebutan nama suatu hal yang masuk  akal,kalau sebutan mu’tazilah sebagai suatu aliran yang mempuyai corak pemikiran dan metode yang tertentu terjadi karena perpindahann tempat yang di lakukuan oleh Wasil dari sudut masjid ke sudut yang lain.Dalam pada itu riwayat yang pertama masih diasingkan kebenaranya, karena menurut suatu ruwayat,yang mempunyai pengajian itu Qotadah,bukan Hasan al Basri.Menurut riwayat lain lagi,yang memisahkan diri hanya Wasil bin Ata’ saja atau amr bin Ubaidah saja.
Golongan yang disebut mu;tazilah sebelum Hasan basri ialah mereka yang tidak ikut  serta (bebas)dalam persengketaan yang terjadi sesudah Usman Ra.wafat,antara Talha dan Zubair disatu pihak dan Ali Ra. Dilain pihak,dan antara Ali Ra,kontra Muawwiyah,yang kesemuanya timbul sekitar pembunuhan atas diri khalifah Usman Ra.dan kekhalifahan Ali Ra.meskipun persoalan ini bersifat politik namun mempunyai corak agama,sebab semua persoalan hidup dalam islam,sosial ekonomi,politik kesemua ditandai dengan corak agama.
Golongan bebas tersebut mencerminkan paham politik yang bercorak agama,dan mereka mengatakan sebagai berikut:”Kebenaran tidak mesti berada pada salah satu pihak yang bersengketa,melainkan kedua duanya bisa salah,sekurang kurangnya tidak jelas siapa yang benar.Sedang agama hanya memerintahkan memerangi orang orang yang menyeleweng.Kalau kedua golongan menyeleweng atau tidak diketahui siapa yang menyeleweng,maka kami harus menjauhkan diri(I’tazalah)”.
Apakah pendapat golongan bebas (Mu’tazilah)tersebut mirip dengan pendapat aliran mu’tazilah yang dipelopori oleh Wasil bin Ata’?persoaln dosa besar dan apakah pembuatnya mukmin atau kafir meskipun bersifat agama semata mata namun mempunyai latar belakang politik.menurut golongan khawarij,mengerjakan perintah perintah agama seperti puasa,solat,jujur adil dan sebagainya,menjadi bagian iman,karena iman bukhan hanya sekedar  kepercayan semata mata.siapa yang percaya kepada tuhan dan nabi Muhammad Saw.sebagai rasulnya,kemudian tidak mengerjakan kewajiban kewajiban agama atau kemudian mengerjakan dosa dosa besar maka ia menjadi orang orang kafir .
Sebalik nya golongan Murjiah mengatakan bahwa iman hanyalah kepercayaan iman semata mata,dan amalan lahir tidak menjadi bagian dari iman.Kelanjutanya ialah bahwa orang yang mengerjalkan dosa besar tidak akan mengeluarkaanya dari lingkungan iman.Jadi golongan murjiah membuka pintu seluas luasnya,sedang golongan khawarij menutup pintu iman serapat rapatnya,sehingga yang bisa memasukinya hanyalah mereka sendiri semboyan golongan murjiah yang terkenal sebagai berikut”Maksiat tidak berbahaya beserta iman (tidak membahayakan )sebagaimana ketaatan tidak berguna beserta kekafiran.
Pendapat tersebut diterapkan mereka dalam soal soal politik.Menurut golongan khawarij,karena khalifah khalifah umawi telah memperbuiat dosa dosa besar maka mereka dalam kafir dan tidak sah pula kekhalifahanya syarat syarat khalifah haruslah orang mukmin.
Menrut golongan murjiah semua orang yang terlbat dalam persengketaan kaum muslim tetap orang mukmin juga,tidak keluar dari islam karena soal iman menjadi pekerjaan hati semata mata .Kelanjutanya adalah khalifah umawi tetap menjadi orang mukmin ,meskipun mengerjakan dosa besar semikian pula  kawan kawanya.Selanjutnya golongan murjiah tidak setujuh dengn golongan khawarij,yaitu mengadakan perlawanan dan pertempuran terhadap khalifah khalifah tidak langsung,golonhgan murjiah menjadi penyokong umawi
Datanglah aliran Mu’tazilah untuk mengemukakan pendapat yang tengah tengah,tidak terlalu keras seperti golongan khawarij,tidak pula terlalu lunak  seperti pendapat golongan murjiah.Mereka mengatakan bahwa iman terdiri dari sifat sifat kebaikan,yang apabila terkumpul pada seseorang,maka ia disebut seorang mukmin sebagai pujian.Orang fasik tidak terkumpul pada dirinya sifat sifat kebaikan dan tiadak berhak akan sebutan pujian,yaitu mukmin,tetapi ia juga orang kafir sama sekali,karena syahadat  dan amalan baik terdapat padanya dan tidak bisa dingkari.Pendapat inipun diterapkanya pada sengketa yang terjadi dikalangan kaum muslimin dalam bidang politik dan sebagai kelanjutanya yang terpenting ialah menganalisa perbuatan pada sahabat pada umumnya mengkritik dan mengeluarkian keputusan keputusan atas perbuatan mereka
Dari uraian tersebut diatas,dapat ditarik kesimpulan,bahwa kedua macam aliran mu’tazilah sama pendiriannya ,yaitu menyalahi pendapat golongan golonghan lain yang ada pada masanya masing masing, meskipun aliran mu’tzilah yang kemudian (Wasil bin Ata’)menambah persoalan persoalan agama semata mata seperti soal metafisika,sifat tuhan,jisim,Aradh,dan sebagainya.Bedasarkan uraian tersebut,dapat dikuatkan pendapat golongan mu’tajilah menyalahi pendapat umat(orang banyak).Artinya mereka mempunyai pemecahan sendiri.Perpindahan tempat dari satu sudut kesudut yang lain boleh jadi hanya merupakan lambang penjahuannya dari golongan golongan yang ada dan menciptakan aliran aliran tersendiri.
Golonagn Mu’tazilah dikenal juga dengan nama nama lain seperti Ahl Al-Adl (golongan yang mempertahankan keadilan Tuhan) dan Ahl Al-Tawhidwa Al-Adl (golongan yang mempertahankan keesaan murni dan keadilan Tuhan). Mereka menamai dengan Al-Mu’attilah(Tuhan tidak memiliki sifat,dalam arti sifat mempunyai wujud diluar zat Tuhan). Dan mereka juga menamai W’idiah (ancaman tuhan itu pasti akan menimpa orang orang yang  tidak taat akan hukum-hukum Tuhan).


B.    AJARAN MU’TAZILAH
1.    At-tauhid
At-tauhid (pengesaan Tuhan) merupakan prinsip utama dan intisari ajaran Mu’tazilah. Setiap madzhab teologis dalam Islam memegang doktrin ini. Namun, bagi Mu’tazilah tauhid memiliki arti yang spesifik. Tuhan harus disucikan dari segala sesuatu yang dapat mengurangi arti kemahaesaan-Nya. Tuhanlah satu-satunya yang Esa, yang unik dan tak ada satupun yang menyamai-Nya. Oleh karena itu, hanya Dia-lah yang qodim. Bila ada yang qodim lebih dari satu, maka telah terjadi ta’addud al-qudama(berbilangnya dzat yang tak bermulaan).
Mu’tazilah berpendapat bahwa Tuhan itu Esa, tak ada satu pun yang menyerupai-Nya. Dia Maha Melihat, Mendengar, Kuasa, Mengetahui, dan sebagainya. Namun, mendengar, kuasa, mengetahui dan sebagainya itu bukan sifat melainkan dzat-Nya. Menurut mereka sifat adalah sesuatu yang melekat. Bila sifat Tuhan yang qodim, berarti ada dua yang qodim, yaitu dzat dan sifat-Nya. Wasil bin Atha’ seperti dikutip oleh Asy-Syahrastani mengatakan, “Siapa yang mengatakan sifat yang qodim berati telah menduakan Tuhan.”  Ini tidak dapat diterima karena merupakan perbuatan syirik.
Apa yang disebut sebagai sifat menurut Mu’tazilah adalah dzat Tuhan itu sendiri. Abu Al-Hudzail  berkata, “Tuhan mengetauhi dengan Ilmu dan ilmu itu dalah Tuhan sendiri. Tuhan berkuasa dengan kekuasaan dan kekuasaan itu adalah Tuhan sendiri.”  Dengan demikian, pengetahuan dan kekuasaan Tuhan adalah Tuhan itu sendiri, yaitu dzat dan esensi Tuhan, bukan sifat yang menempel pada dzat-Nya.
Mu’tazilah berpendapat bahwa Al-Qur’an itu baru (diciptakan). Al-Qur’an adalah manifestasi kalam Tuhan. Al-Qur’an terdiri dari atas rangkaian huruf, kata, dan bahasa yang satunya mendahului yang lainnya.
Harun Nasution mencatat perbedaan antara Al-Jubba’i  dan Abu Hasyim  atas pernyataan “Tuhan mengetahui dengan esensi-Nya”. Menurut Al-Jubba’i, arti pernyataan tersebut adalah bahwa untuk mengetahui, Tuhan tidak berhajat kepada suatu sifat dalam bentuk pengetahuan atau keadaan mengetahui. Adapun menurut Abu Hasyim, pernyataan tersebut berarti Tuhan memiliki keadaan mengetahui. Sungguh pun demikian, mereka sepakat bahwa Tuhan tidak memiliki sifat.
Doktrin Tauhid Mu’tazilah lebih lanjut menjelaskan bahwa tidak ada satu pun yang dapat menyamai Tuhan. Begitu pula sebaliknya, Tuhan tidak serupa dengan makhluk-Nya. Mereka berlandaskan pada Al-Qur’an QS. Asy-syura ayat 9 yang berbunyi:
“Tidak ada satu pun yang menyamai-Nya (QS. Asy-Syura : 9)”

Penolakan Mu’tazilah terhadap pendapat bahwa Tuhan dapat dilihat oleh mata kepala merupakan konsekuensi logis dari bentuk penolakannya. Tuhan adalah immateri, tidak tersusun dari unsur, tidak terikat oleh ruang dan waktu, dan tidak berbentuk. Adapun yang dapat dilihat hanyalah yang berbentuk dan memiliki ruang. Andaikata Tuhan dapat dilihat dengan mata kepala di akhirat, tentu di dunia pun Dia dapat dilihat oleh mata kepala.  Oleh karna itu, kata melihat(QS. Al-Qiyamah:22-23) ditakwilkan dengan mengetahui(know).



2.    Al-Adl
Adil ini merupakan sifat  yang gamblang untuk menunjukan kesempurnakan. Karena tuhan maha sempurna,dia sudah pasti adil.Ajaran ini bertujuan ingin menempatkan Tuhan benar-benar adil menurut sudut pandang manusia karena alam semesta ini sesungguhnya diciptakan untuk kepentingan manusia. Tuhan dipandang adil apabila bertindak hanya kepada yang baik(Ash-shalah)dan terbaik(Al-Ashlah),dan bukan yang tidak baik.Begitu pula Tuhan itu adil bila tidak melanggar janji-Nya. Dengan demikian, Tuhan terikat dengan janji-Nya.
Ajaran ini berkaitan erat dengan beberapa hal,antara lain:
a.    Perbuatan manusia
Manusia menurut muktazilah,melakukan dan menciptakan perbuatanya sendiri, terlepas dari kekuasaan Tuhan baik secara langsung ataupun tidak langsung.Maksudnya, munusia bebas menentukan pilihan perbuatanya,baik dan buruk. Tuhan hanya menyuruh dan menghendakkan yang baik, bukan yang buruk.Kosep ini memiliki konsekuensi logis  dengan keadilan Tuhan,yaitu apapun yang akan diterima manusia diakhirat merupakan balasan perbuatanya di dunia. Karena ia berbuat atas kemauan dan kemampuanya sendiri dan tidak dipaksa.
b.    Berbuat baik dan buruk
Dalam istilah Arabnya, berbuat baik dan terbaik disebut ash-sholah wa al-ashlah. Maksudnya adalah kewajiban Tuhan untuk berbuat baik, bahkan terbaik bagi manusia. Tuhan tidak mungkin jahat dan aniaya karna akan menimbulkan kesan Tuhan Penjahat dan Penganiaya, sesuatu yang tidaklayak bagi Tuhan. Jika Tuhan berlaku jahat kepada seseorang dan berbuat baik kepada orang lain berarti Ia tidak adil. Dengan sendirinya Tuhan juga tidak Mahasempurna.
Bahkan menurut An-Nazzam, salah satu tokoh Mu’tazilah, Tuhan tidak dapat berbuat jahat. Konsep ini berkaitan dengan kebijaksanaan, kemurahan, dan kepengasihan Tuhan, yaitu sifat-sifat yang layak bagi-Nya. Artinya, bila Tuhan tidak bertindak seperti itu, berarti Ia tidak bijaksana, pelit, dan kasar/kejam.
c.    Mengutus Rosul
Mengutus rasul kepada manusia merupakan kewajiban Tuhan karena alasan-alasan berikut ini:
1.    Tuhan wajib berlaku baik kepada manusia dan halitu tidak dapat terwujud, kecuali dengan mengutus rasul kepada mereka.
2.    Al-Qur’an secara tegas menyatakan kewajiban Tuhan untuk memberikan belas kasih kepada manusia (QS. As-Syu’ara : 29). Cara yang terbaik untuk maksud tersebut adalah dengan pengutusan rasul.
3.    Tujuan diciptakannya manusia adalah untuk beribadah kepada-Nya. Agar  tujuan tersebut berhasil,tidak ada jalan lain selain mengutus rasul.


3.    Al-Wa’d wa Al-Wa’id
Tuhan yang Mahaadil dan Maha Bijaksana, tidak akan melanggar janji-Nya.Perbuatan Tuhan terikat dan dibatasi oleh janji-Nya sendiri, yaitu memberi pahala surga bagi yang berbuat baik (al-muthi) dan mengancam dengan siksa neraka atas orang yang durhaka(al-ashi). Begitu pula janji Tuhan untuk memberi pengampunan pada orang yang bertaubat nasuha pasti benar adanya. Ini sesuai dengan prinsip keadilan. Siapapun yang berbuat kebaikan akan dibalas dengan kebaikan pula, begitupun sebaliknya siapapun yang berbuat jahat akan dibalas dengan siksaan yang sngat pedih.
Siapa yang keluar dari dunia dengan segala ketaatan dan penuh taubat, maka ia berhak akan pahala. Siapa yang keluar dari dunia tanpa taubat dari dunia besar yang penuh perbuatannya, maka ia akan diabadikan di neraka, meskipun siksaannya lebih ringan dari orang kafir. Pendirian ini adalah kebalikan dari dari golongan Murji’ah yang mengatakan kemaksiatan tidak mempengaruhi dari iman. Karena itu mereka mengingkari syafa’at (pengampunan) pada hari kiamat, dengan mengenyampingkan ayat-ayat yang menetapkan syafa’at (Al-Baqarah : 45 dan 254), karena syafa’at menurut mereka berlawanan dengan prinsip janji dan ancaman.
Ajaran ini tidak memberi peluang bagi Tuhan, selain menunaikan janji-Nya, yaitu memberi pahala orang yang taat dan menyiksa orang yang berbuat maksiat, kecuali orang yang sudah bertaubat nasuah. Tidak ada harapan bagi pendurhaka, kecuali bila ia tobat. Kejahatan  dan kedurhakaan yang menyebabkan pelakunya masuk neraka adalah kejahatan yang termasuk dosa besar, sedangkan terhadap dosa kecil, Tuhan mungkin mengampuninya. Ajaran ini tampaknya bertujuan mendorong manusia berbuat baik dan tidak melakukan perbuatan dosa.

4.    Al-manzilah bain al-Manzilatain.

Ajaran ini terkenal dengan status orang beriman (mukmin) yang melakukan dosa besar. Seperti tercatat dalam sejarah, Khowarij menganggap orang tersebut sebagai kafir bahkan musyrik, sedangkan Murji’ah berpendapat bahwa orang itu tetap mukmin dan dosanya sepenuhnya  diserahkan kepada  Tuhan, boleh jadi dosa tersebut diampuni Tuhan. Adapun pendapat Wasil bin Atha’ (pendiri madzhab Mu’tazilah) lain lagi. Menurutnya,  orang tersebut berada di antara dua posisi (Al-manzilah bain al-Manzilatain). Pokok ajaran ini adalah bahwa mukmin yang melakukan dosa besar dan belum taubat bukan lagi mukmin atau kafir, tetapi fasik.
Kaum Mu’tazilah mengambil jalan tengan ini dari berbagai sumber antara lain:
1.    Al-Qur’an    : “Jangan engkau jadikan tanganmu terbelenggu di lehermu dan jangan pula membeberkannya seluruhnya (QS. Al-Isra : 31)
2.    Al-hadits    : “khoirul umuri ausathuha” (sebaik-baiknya perkara ialah jalan tengah)
3.    Kata-kata    : perkata’an Ali r.a “Kun fiddunia wasathan”  (Jadikan kaum dalam dunia ini tengah-tengah).
Sumber lain dari prinsip jalan tengah ialah filsafat yunani, antara lain Aristo, yang terkenal dengan teori “jalan tengah emas” (Golden means).DanPlato dalam suatu dialog. Dengan dasar sumber-sumber keislaman dan sumber-sumber yunani tersebut, maka aliran Mu’tazilah lebih memperdalam pemikirannya tentang jalan tengah tersebut, sehingga menjadi prinsip dalam lapangan berfikir dan akhlak dan menjadi landasan berfilsafat.
Menurut pandangan Mu’tazilah, pelaku dosa besar tidak dapat dikatakan sebagai mukmin secara mutlak. Hal ini karena keimanan menurut adanya kepatuhan terhadap Tuhan, tidak cukup hanya pengakuan dan pembenaran. Berdosa besar bukanlah kepatuhan melainkan kedurhakaan. Pelakunya tidak dapat dikatakan sebagai kafir secara mutlak karena ia masih percaya kepada Tuhan, rasul-Nya, dan mengerjakan pekerjaan yang baik. Hanya saja kalau meninggal dunia sebelum bertaubat, ia dimasukkan ke neraka dan kekal di dalamnya. Orang mukmin masuk surga dan orang kafir masuk neraka. Orang fasik pun dimasukkan ke neraka, hanya saja siksaannya lebih ringan dari orang kafir. Mengapa ia tidak dimasukan ke surga dengan “kelas “yang lebih rendah dari mukmin sejati?. Nampaknya disini Mu’tazilah ingin mendorong agar manusia tidak menyepelekan perrbuatan dosa, terutama dosa besar.
5.    Al-Amr bi Al-Ma’ruf wa An-Nahy wa Al-Munkar.
Ajaran ini menekankan keberpihakan kepada kebenaran dan kebaikan. Ini merupakan konsekuensi logis dari keimanan seseorang. Pengakuan keimanan harus dibuktikan dengan perbuatan baik, diantaranya dengan menyuruh orang berbuat baik dan mencegahnya dari kejahatan.
Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi seoarang mukmin dalam beramar ma’ruf  dan nahi mungkar, seperti yang dijelaskan oleh salah seorang tokohnya, Abdul Al-Jabar, yaitu:
1.    Ia mengetahui perbuatan yang disuruh itu memang ma’ruf dan yang dilarang itu memang mungkar.
2.    Ia mengetahui bahwa kemungkaran telah nyata dilakukan orang.
3.    Mengetahui bahwa perbuatan amr ma’ruf atau nahi mungkar tidak akan membawa moderat yang lebih besar.
4.    Ia mengetahui atau paling tidak menduga  bahwa tindakanya tidak akan membahayakan dirinya dan hartanya.
Al-Amr  bi Al-Ma’ruf wa An-Nahy Al-Munkar bukan monopolio konsep Mu’tazilah. Frase tersebut seruan untuk berbuat sesuatu sesuai dengan kenyakinan dengan sebenar-benarya serta, menahan diri dari perbuatan yang bertentangan dengan norma Tuhan.
Perbedaan madzhab Mu’tazilah dengan madzhab lain mengenai ajaran ini terletak pada tatanan pelaksaannya. Menurut Mu’tazilah,jika memang diperlukan kekerasan dapat ditempuh untuk mewujudkan ajaran tersebut.




C.    SEKTE-SEKTE MU’TAZILAH
Ada beberapa sekte dalam Mu’tazilah, antara lain:

1.    Al-Washiliyah
Mereka adalah pegikut Abu Hudzaifah Washil bin Atha' Al- Ghazzal Al- Altsag (80-131 H.), dengan empat dasar ajarannya : meniadakan sifat- sifat Allah, meniadakan taqdi Allah (sependapat dengan Ma'bad Al- Juhaini dan Ghilan Ad- Dimasyqi) dan faham Manzilah Baina Manzilatain.
2.    Al-Hudzailiyyah
Mereka adalaah pengikut Abu Hudzail Hamdan bin Al Hudzail Al- 'Allaf (135-226 H.). Dia mengambil fikroh mu'tazilah dari Utsman bin Khalid At Thawil (murid Washil), diantra pandangannya adalah : manusia di dunia bebas berbuat apa saja tanpa campur tangan Allah sedikitpun (Qodariyul 'Ula), namun di akhiat perbuatan mereka diciptakan Allah (Jabariyyul Akhiroh), proses orang yang kekal di dalam neraka terputus dan tidak menerima perubahan (pendapat ini mirip dengan Jahm bin Shafwan yang menurutnya surga dan neraka fana' juga). Adapun yang mendukung Abu Hudzail, diantaranya Abu Ya'qub As- Syaham (267 H.) dan Al- Adami.
3.    An-Nazhzhamiyah
Mereka adalah pengikut Ibrahim bin Sayar bin Hani An-Nazhzham (tokoh Mu'tazilah yang banyak mengkaji filsafat). Diantara pendapatnya : Allah tidak mampu menciptakan keburukan dan kemaksiatan,  seluruh perbuatan hamba itu gerak dan diam termasuk gerak hati, ijma' dan qiyas bukanlah hujjah, hujjah itu hanya imam yang ma'shum dan mereka cenderung kepada Rafidhah.
4.    Al-Khobithiyah dan Al-Haditsiyah
Mereka adalah pengikut Ahmad bin Khabit (w. 232 H) dan Fadhl Al Haditsi (w. 257 H), keduanya murid An Nazhzham. Diantara ajarannya : menetapkan sifat ketuhanan Al Masih bin Maryam, manusia yang berbuat dosa nantinya akan dihidupkan kembali dalam wujud binatang atau manusia yang sesuai dengan kadar kejahatan dan kebaikannya, mena'wilkan seluruh hadits shahih tentang melihat Allah dan berpegang kepada hadits palsu tentang akal : "makhluq yang pertama kali diciptkan oleh Allah adalah akal." Al-Khabit pun berpendapat, karenanya setiap ummat ada rasul dari bangsanya. Dengan demikian ada rasul dari semut, gajah dan seterusnya.
5.    Al-Bisyriyyah
Mereka adalah pengikut Bisyri bin Mu'tamar. Diantara ajarannya adalah : siapa yang bertaubat atas dosa lalu mengulangi dosa itu lagi, maka ia akan mendapat hukuman atas dosa pertama yang dikerjakan sebelum taubat.
6.    Al-Mu'ammariyyah
Mereka adalah pengikut Mu'ammar bin 'Ibad As-Sulaimi (220 H). diantara ajarannya adalah : bahwa yang dimiliki manusia adalah hanya keinginan saja, adapun perbuatan taklifiyah seperti makan, bergerak, ibadah dan seterusnya tak lain adalah wujud dari keinginannya. Allah mustahil mengetahui dirinya karena apabila hal itu terjadi berarti antara 'alim (yang mengetahui) dengan yang ma'lum (yang diketahui) tidak satu.
7.    Al-Mardariyyah
Mereka adalah pengikut 'Isa bin Shabih (226 H) yang dijuluki dengan nama Abu Musa atau Mardar (ia murid Bisyr bin Mu'tamar). Dikenal dengan hidup zuhudnya sehingga dijuluki Rahibul Mu'tazilah, artinya pendeta Mu'tazilah. Diantara ajarannya adalah : Al Qur'an itu makhluq, karena itu manusia bisa saja membuat buku yang semisal denga Al Qur'an baik segi balaghoh, fashahah maupun nazhmnya. Adapun murid-murid Mardar, diantaranya Ja'far bin Harb Ats- Tsaqofi, Ja'far bin Mubasyir Al Hambali (keduanya dikenal Ja'faran), Abu Zufar dan Muhammad bin Suwaid.
8.    As-Tsumamiyyah
Mereka adalah pengikut Tsumamah bin Asras An-Numairi (213 H). Dia merupakan pimpinan Mu'tazilah.
9.    Al-Hisyamiyyah
Mereka adalah pengikut Hisyam bin 'Amr Al-Fuwathi (226 H). Tokoh ini pandangannya lebih ekstrim dari rekan-rekannya yang semadzhab tentang taqdir, yaitu menolak penyandaran suatu perbuatan kepada Allah dan saat ini surga belum diciptakan karena tidak ada gunanya. Dalam hal politik menolak Imamah yang diangkat pada masa fitnah..
10.    Al-Jahizhiyyah
Mereka pengikut 'Amr bin Bahr Abi Utsman Al-Jahizh. Dia termasuk tokoh Mu'tazilah yang banyak menulis buku madzhab Mu'tazilah yang dalam tulisannya, Al-Jahizh menggunakan metode, gaya bahasa dan argumentasi yang sangat menarik. Hidup pada masa pemerintahan Al-Mu'tashim dan Al-Mutawakkil. Salah satu ajarannya adalah : diantara penduduk neraka ada yang tidak kekal, namun sifatnya beubah menjadi sifat api dan Al Qur'an mempunyai jasad, suatu saat bisa berwujud laki laki dan suatu saat bisa berwujud hewan.
11.    Al-Khayyathiyyah dan Al Ka'biyyah
Mereka adalah pengikut Abu Husain bin Abi 'Amr Al-Khayyath (300 H), guru Abu Qosim bin Muhammad Al-Ka'bi. Diantara ajarannya adalah : Kehendak Allah (irodah) bukanlah sifat yang terdapat pada dzat Allah, irodah bukan sifat dzat-Nya. Yang dimaksud Allah maha berkehendak adalah Allah maha mengetahui, maha kuasa atas perbuatan-Nya dan tidak ada yang mempengaruhi-Nya. Maka apabila dikatakan bahwa Allah maha berkehendak dalam perbuatan-Nya itu berarti Allah menciptakan sesuatu sesuai dengan ilmu-Nya, apabila dikatakan bahwa Allah menghendaki atas perbuatan makhluk-Nya, itu berarti Allah yang memerintah dan Allah senang terhadap pebuatan manusia.
12.    Al-Jubaiyyah dan Al-Bahsyaniyyah
Mereka adalah pengikut Abu Muhammad bin Abdul Wahhab Al-Jubbai (wafat 295 H), dan anaknya Abu Hasyim Abdus Salam (wafat 321 H). keduanya mengakui bahwa Allah maha bekata-kata dan kalam Allah adalah ciptaan-Nya yang ditempatkan pada suara dan huruf. Karena itu hakikat kalam menurut mereka berdua terdiri dari suara yang terputus-putus dan terdiri dari huruf. Pendapat lainnya mereka sepakat dengan Ahlus Sunnah bahwa Imam itu dipilih, urutan Khulafaur Rasyidin menunjukkan keutamaan mereka. Mereka pun ekstrim dalam kema'shuman nabi baik dari dosa kecil maupun dosa besar sampai niat berbuat dosa sekalipun, disamping itu mereka pun mangingkari karomah para wali (baik di masa sahabat ataupun sesudahnya).

D.    PENGARUH MU’TAZILAH
AliranMu’tazilahsebagaisalahsatualiranmutakalliminmempunyaiperananbesardalamsejarahpemikiran Islam. Aliraninilah yang pertama kali mempersenjatai Islam denganfilsafatdalamusahamempertahankan Islam dariserangan-seranganluar.Demikian pula, aliranMu’tazilah yang meletakkandasarbagilahirnyafilsafat Islam dengantokoh-tokohnya yang datangkemudianseperti; Al-Kindi, al-Farabi, IbnSinadansebagainya.
Dalamperkembangannya,aliranMu’tazilahpernahmemperolehpengaruhdalammasyarakat Islam.Pengaruhitumencapaipuncaknya di Zamankhalifah-khalifahBani Abbas, al-Ma’tasimdan al-Watsiq (813 M. – 847 M.), diakuisebagaimazhabresmi yang dianutnegara, khususnyapadamasa al-Ma’mun (827 M).Pengakuansepertiitu, karena al-Ma’munadalahseorangmuriddari Abu al-Hudzaih al-Allaf, seorangtokohMu’tazilah.Lagi pula al-Ma’mundankaumMu’tazilahmencapaihubungan yang serasidalamilmupengetahuan yang berkaitandengankeagamaan, antara lain ajarantentangkemakhlukan al-Quran. KaumMu’tazilaholehpenguasadiserahkanuntukmelaksanakan dialog-dialog seputar al-Quran.KarenaitufahamMu’tazilahterutamaajarantentangkemakhlukan al-Quran menjadiisuteologis yang pemasyarakatannyadilaksanakanolehpenguasa.
Di sisilain, para hakim dantokoh-tokohmasyarakatbaikdarikalanganahlifiqhmaupunahlihadisberpendirianbahwa al-Quran bukanlahmakhluktetapiqadim. Fahamini yang banyakdianutolehmasyarakatpadawaktuitu.FahamsepertiituditokohiolehAhmad ibnHambaldan Muhammad ibnNuh yang padasaatdiujitetapberkerasdantidakmaumerubahkeyakinanitu.BagikaumMu’tazilah, termasuk al-Ma’munmemandangbahwafahamtersebutadalahsuatukekeliruandantermasuksyirik yang harusdiluruskandanpelaksanaannyaakanberjalanefektifbiladilakukanolehpenguasamelaluipemaksaankehendak. Pemaksaankehendakinilah yang melahirkangerakanal-mihnah.
Dengangerakan al-mihnahagaknyamempunyaipengaruhbesarterhadapperkembanganaliranMu’tazilah, yang mencapaipuncakpadamasakhalifah-khalifahAbbasiyah yang telahdisebutkansebelumnya.Namunpadamasapasca al-mihnah, padamasa al-Mutawakkil, mulailahpengaruhMu’tazilahmengalamikemundurankarenafahamMu’tazilahtidaklagimenjadimazhabnegara.
PengaruhMua’tazilah di Dunia Islam
Mu’tazilahdalammenyelesaikanberbagaimasalahkeagamaanselalumenggunakankekuatanakalpikiran.Bahkanmerekadiberinamakaumrasionalis. KamumMu’tazilahsangatseriusmembeladanmempertahankanakidahdarimereka yang bermaksudmerusaknya.
Dalamsejarah, padamasapemerintahanAbbasiyah, kaummusliminterancamdariberbagaialiran yang merupakanlawan-lawankepercayaan Islam.Lawan-lawanitu di antaranya, pahamal-Mujassimah, al-Rafidhah, mulhiddanzindik di sampingitujugadapatmenumpaspahamreinkarnasi.Karenaitudalamsejarahumat Islam tidakmengenalpembahasan yang bercorakfilsafatdanlengkaptentangTuhan, sifat-sifatdanperbuatannyadengandisertaidalil-dalilakalpikirandanalasan-alasannaqlsebelumlahiraliranMu’tazilah.
Dengandemikian, tidaklahberlebihanbiladikatakanbahwaMu’tazilahsangatbesarpengaruhnya di dunia Islam, di antaranya:
a.    Bidang orator danpujangga.
b.    Bidangilmubalaghah (rethorika)
c.    Ilmuperdebatan (jadal)
d.    BidangilmuKalam (Theologi Islam).
Aliran Mu’tazilah mengalami kemunduran. Sebagai suatu golongan yang kuat, berangsur-angsur menjadi lemah dan mengalami kemunduran, terutam asesudah al-Asy’ari dapat mengalahkan mereka dalam bidang pemikiran. Akan tetapi kemundurannya tidaklah menghalangi bagi simpatisan dan pengikut yang setia yang selalu menyiarkan ajaran-ajaran Mu’tazilah, antara lain al-Khayyat pada akhir abad ketiga Hijriyah, Abu Bakar al-Zamakhsyari (wafat 320 H./932 M.) pada sepanjang abad keempat Hijriyah, al-Zamakhsyari dengan tafsirnya al-Kassyaf yang pengaruhnya sangat besar dikalangan Ahlussunah wal jamaah.
Kegiatan orang-orang  Mu’tazilah hilang sama sekali setelah terjadi serangan orang-orang Mongol atas dunia Islam. Tetapi paham dan ajaran Mu’tazilah yang penting masih hidup dikalangan Syi’ah  Zaidiah. Harun Nasution mengatakan bahwa di zaman modern dan kemajuan ilmu pengetahuan sekarang, ajaran-ajaran kaum Mu’tazilah yang bersifat rasionil itu telah mulai timbul kembali dikalangan umat Islam, terutama dikalangan kaum terpelajar.


BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Mu’tazilah berasal dari kata i’tazalah yang berarti berpisah atau memisahkan diri.Nama ini diambil dari peristiwa yang terjadi antara Wasil bin ata’, Hasan Al-Basri, Amr bin Ubaid ketika mengikuti pelajaran Hasan Al-Basri di Masjid Basra.Versi kedua mengatakan penyebutan mu’tazilah sudah ada 100 tahun yang lalu yaitu mereka yang tidak ikut serta (bebas)dalam persengketaan yang terjadi sesudah Usman bin Affan ra. wafat. Tetapi keduanya sama pendiriannya, yaitu menyalahi pendapat golongan Murji’ah dan khowarij.
Mu’tazilah memiliki lima ajaran pokok yang tertuang dalam al-ushul al-khamsah, yaitu at-tauhid (pengesaan Tuhan), al-adl (keailan Tuhan), al-wa’ad wa al-wa’id (janji dan ancaman), al-manzilah bain al-manzilatain (posisi diantara dua posisi), dan al-amr bi al-ma’ruf wa al-nahy an al-munkar(menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran).
B.    Saran
Penulis banyak berharap para pembaca dapat memberikan kritik dan saran yang membangun kepada penulis demi sempurnanya makalah ini dan penulisan makalah di kesempatan–kesempatan berikutnya.
Semoga makalah ini berguna bagi penulis pada khususnya juga para pembaca pada umumnya.
Judul Artikel: Sejarah Munculnya Khawarij
Rating: 100% based on 99998 ratings. 5 user reviews.
Ditulis Oleh Sang Pecinta

Link: http://makalahkomplit.blogspot.com/2013/06/makalah-ilmu-kalam-sejarah-munculnya.html Terimakasih atas kunjungan Sobat beserta kesediaan Anda membaca artikel ini (http://makalahkomplit.blogspot.com/2013/06/makalah-ilmu-kalam-sejarah-munculnya.html). Kritik dan Saran sobat dapat sampaikan melalui Kotak komentar dibawah ini. http://makalahkomplit.blogspot.com/2013/06/makalah-ilmu-kalam-sejarah-munculnya.html, http://makalahkomplit.blogspot.com/2013/06/makalah-ilmu-kalam-sejarah-munculnya.html, http://makalahkomplit.blogspot.com/2013/06/makalah-ilmu-kalam-sejarah-munculnya.html, Selamat membaca di Makalah Komplit

Temukan Judul: semua Artikel , Manfaat dari , Ikut sertakan judul , , , , dan

0 komentar:

Poskan Komentar