.

Makalah Muamalah (Pengertian Akad)

Dalam makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, namun makalah ini hasil usaha kerangka pemikiran salah satu mahasiswa syari'ah semester IV INISNU JEPARA.

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Akad
Secara lughawi, makna al-aqd adalah perikatan, perjanjian, pertalian, permufakatan (al-ittifaq). Sedangkan secara istillahi, akad di definisikan dengan redaksi yang berbeda-beda, di antaranya akad adalah pertalian ijab dan kabul dari pihak-pihak yang menyatakan kehendak, sesuai dengan peraturan syari’at. Definisi lain adalah suatu perikatan antara ijab dan kabul dengan cara yang dibenarkan oleh syarak dengan menetapkan adanya akibat-akibat hukum pada objeknya.


Definisi- definisi tersebut mengisaratkan bahwa, pertama, akad merupakan keterikatan atau pertemuan ijab dan kabul yang berpengaruh terhadap munculnya akibat hukum baru. Kedua, akad merupakan tindakan hukum dari kedua belah pihak, ketiga, dilihat dari tujuan dilangsungkannya akad, ia bertujuan untuk melahirkan akibat hukum baru.
Namun sebelum kita membahas lebih jauh perlu kiranya kita ketahui lebih lanjut tentang pengertian ijab dan kabul terlebih dahulu. KH. Ahmad Azhar Basyir, MA, dalam bukunya yang berjudul Asas-Asas Hukum Muamalat, mengatakan ijab adalah peryataan pihak pertama mengenai isi perikatan yang diinginkan, sedangkan kabul adalah peryataan pihak kedua untuk menerimanya.
Misalnya, dalam akad jual beli, pihak pertama menyatakan, “ aku jual sepeda ini kepadamu dengan harga sekian, tunai,” dan pihak kedua menyatakan menerima, “ aku beli sepeda ini dengan harga tunai”. Dapat pula pihak pertama adalah pembelinya yang mengatakan. “ aku beli sepedamu dengan harga sekian, tunai”, dan pihak kedua menyatakan menerima, “ aku jual sepedaku kepadamu dengan harga sekian tunai”. Peryataan pihak pertama itu disebut ijab dan peryataan pihak kedua disebut kabul.
Adapun maksud diadakanya ijab dan kabul, untuk menunjukkan adanya suka rela timbal-balik terhadap perikatan yang dilakukan oleh dua pihak yang bersangkutan. Dan dapat kita simpulkan bersama bahwa akad terjadi diantara dua pihak dengan sukarela. Dan menimbulkan kewajiban atas masing-masing secara  timbal balik. Maka dari itu sudah jelas pihak yang menjalin ikatan perlu memperhatikan terpenuhinya hak dan kewajiban masing-masing pihak tanpa ada pihak yang terlangar haknya. Disinilah pentingnya batasan-batasan yang menjamin tidak terlangarnya hak antar pihak yang sedang melaksanakan akad.
Dasar hukum dilakukannya akad dalam al-Qur’an adalah :
Artinya : "Hai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad itu " (QS. Al Maidah : 1).
Berdasarkan ayat tersebut dapat dipahami bahwa melakukan isi perjanjian atau akad itu hukumnya wajib.
B.    Asas-asas Akad
Dalam hukum Islam telah menetapkan beberapa asas akad yang berpengaruh kepada pelaksanaan akad yang dilaksanakan oleh pihak-pihak yang berkepentingan adalah sebagai berikut :
a.    asas kebebasan berkontrak
Asas kebebasan berkontrak didasarkan firman Allah dalam Al Quran, yakni :
                     •      
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu*. Dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu. (yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya.”(QS. Al Maidah : 1)
*Aqad (perjanjian) mencakup: janji prasetia hamba kepada Allah dan Perjanjian yang dibuat oleh manusia dalam pergaulan sesamanya.
Kebebasan berkontrak pada ayat inidisebutkan dengankata “akad-akad” atau dalam teks aslinya adalahal-‘uqud, yaitu bentuk jamak menunjukkan keumuman artinya orang bolehmembuat bermacam-macam perjanjian dan perjanjian-perjanjian itu wajib dipenuhi. Namun kebebasan berkontrak dalam hukum Islam ada batas- batasnya yakni sepanjang tidak makan harta sesama dengan jalan batil. Sesuai firman Allah:
                    •      
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang Berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu; Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu”(QS. An Nisa : 29 )
b.     asas perjanjian itu mengikat
Asas perjanjain itumengikat dalam Al Qur’an memerintahkanmemenuhi perjanjian seperti berikut ini :

               •     
Artinya : “Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih baik (bermanfaat) sampai ia dewasa dan penuhilah janji; Sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya” (QS. Al Isra : 34)
c.    asas konsensualisme
Asas konsensualisme juga didasarkan surat An-Nisaa’ ayat 29 yang telah dikutip di atas yakni atas dasar kesepakatan bersama.
d.    asas ibadah
Asas ibadah merupakan asas yang berlaku umum dalam seluruh muamalat selama tidak ada dalil khusus yang melarangnya. Ini didasarkan kaidah Fiqh yakni hukum asal dalam semua bentuk muamalah adalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya.
e.    asas keadilan dan keseimbangan prestasi.
Asas keadilan dan keseimbangan prestasi asas yang menegaskan pentingnya kedua belah pihak tidak saling merugikan. Transaksi harus didasarkan keseimbangan antara apa yang dikeluarkan oleh satu pihak dengan apa yang diterima
f.    asas kejujuran (amanah).
 Asas kejujuran dan amanah, dalam bermuamalah menekankan pentingnya nilai-nilai etika di mana orang harus jujur, transparan dan menjaga amanah.
C.    Rukun dan Syarat akad
 Agar suatu akad dipandang terjadi atau sah harus diperhatikan rukun dan syarat-syaratnya. Sedangkan rukun adalah unsur yang mutlak dan harus ada dalam sesuatu hal (akad), peristiwa atau tindakan. Jumhur Ulam’ mempunyai beberapa pendapat mengenai hal tersebut, yaitu:
1.     Al-Aqidain (pihak-pihak yang berakad)
2.     Obyek akad
3.     Sighat al-Aqd (peryataan untuk mengikatkan diri)
4.     Tujuan akad
Pendapat tersebut berbeda dengan jumhur Ulama’ Mazhab Hanafi yang berpendapat bahwa rukun akad hanya ada satu sighatu al-Aqd. Menurut-nya yang dimaksud dengan rukun akad adalah unsur-unsur yang pokok yang membentuk akad. Unsur pokok tersebut hanyalah peryataan kehendak masing-masing pihak berupa ijab dan kabul. Adapun pihak dan obyek akad adalah unsur luar, tidak merupakan esensi akad. Maka mereka memandang pihak dan obyek akad bukan rukun. Meskipun demikian mereka tetap memandang bahwa pihak yang berakad dan obyek akad merupakan unsur-unsur yang harus dipenuhi dalam akad. Karena letaknya diliar esensi akad, para pihak dan obyek akad merupakan syarat, bukan rukun.
Beberapa unsur dalam akad yang kemudian dikenal sebagai rukun tersebut masing-masing membutuhkan syarat agar akad dapat terbentuk dan dapat mengikat antar pihak. Adapun syarat-syarat nya meliputi:
1.    Syarat terbentuknya akad: dalam hukum Islam syarat ini dikenal dengan nama al-syuruth al-in’iqad. Syarat ini terkait dengan sesuatu yang harus dipenuhi oleh rukun-rukun akad ialah:
a)    Pihak yang berakad (aqidain), disyaratkan tamyiz dan berbilang atau terucap.
b)    Shighat akad (pernyataan kehendak): adanya kesesuaian antara ijab dan kabul (munculnya kesepakatan) dan dilakukan dalam satu majlis akad.
c)    Obyek akad: dapat diserahkan, dapat ditentukan dan dapat di transaksikan (meliputi benda yang bernilai dan dimiliki).
d)    Tujuan akad tidak bertentangan dengan syara’
2.    Syarat keabsahan akad, adalah syarat tambahan yang dapat mengabsahkan akad setelah syarat in-iqad tersebut dipenuhi. Setelah rukun akad terpenuhi beserta beberapa persyaratanya yang menjadikan akad terbentuk, maka akad sudah terwujud. Akan tetapi ia belum dipandang syah jika tidak memenuhi syarat-syarat tambahan yang terkait dengan rukun-rukun akad, yaitu:
a)    Peryataan kehendak harus dilakasanakan secara bebas. Maka jika peryataan kehendak tersebut dilakukan dengan terpaksa, maka akad diangap fasid.
b)    Penyerahan obyek tidak menimbulkan madlarat.
c)    Bebas dari gharar, adalah tidak adanya tipuan yang dilakukan oleh para pihak yang berakad.
d)    Bebas dari riba.
Empat syarat keabsahan tersebut akan menentukan syah tidaknya sebuah akad. Apabila sebuah akad tidak memenuhi empat syarat tersebut meskipun rukun dan syarat iniqad  sudah terpenuhi, akad tidak syah dan disebut akad fasid. Maksudnya adalah akad yang telah memenuhi rukun dan syarat terbentuknya, tetapi belum memenuhi syarat keabsahanya.
3.    Syarat-syarat berlakunya akibat hukum; adalah syarat yang diperlukan bagi akad agar akad tersebut dapat dilaksanakan akibat hukumnya. Syarat-syarat tersebut adalah:
a.    Adanya kewenangan sempurna atas obyek akad, kewenangan ini terpenuhi jika para pihak memiliki kewenangan sempurna atas obyek akad.
b.    Adanya kewenangan atas tindakan hukum yang dilakukan, persyaratan ini terpenuhi dengan para pihak yang melakukan akad adalah mereka yang dipandang mencapai tingkat kecakapan bertindak hukum yang dibutuhkan. Artinya sudah baliqh atau berakal.
4.    Syarat mengikat yaitu sebuah akad yang sudah memenuhi rukun-rukunya dan bebrapa macam syarat sebagaimana yang telah dijelaskan.
Sebelum membahas jauh saya akan memberikan sedikit penjelasan tentang shighat. Dari segi pengertian sighat akad adalah dengan cara bagaimana ijab dan kabul yang merupakan rukun-rukun akad itu dinyatakan. Sighat akad dapat dilakukan dengan secara lisan, tulisan atau isyarat yang memberi pengertian dengan jelas tentang adanya ijab dan kabul, dan dapat juga berupa perbuatan yang telah menjadi kebiasaan dalam ijab dan kabul.
D.    Syarat Objek dan Subjek Akad
Objek akad bermacam-macam, sesuai dengan bentuknya. Dalam akad jual beli, objeknya adalah barang yang diperjualbelikan dan harganya. Agar sesuatu akad dapat dipandang sah, objeknya memerlukan syarat sebagai berikut:
1.    Telah ada pada waktu akad diadakan, jadi barang yang belum berwujud tidak dapat menjadi objek akad menurut jumhur Ulama’ sebab hukum dan akibat akad tidak mungkin bergantung pada sesuatu yang belum wujud.
2.    Dapat ditentukan dan diketahui, artinya barang yang akan dijadikan akad jelas, karna jika tidak jelas maka banyak kemungkinan akan menimbulkan sengketa dikemudian hari.
3.    Dapat diserahkan pada waktu akad terjadi, maksudnya adalah pada saat yang telah ditentukan dalam akad, objek akad dapat diserahkan karena memang benar-benar ada dibawah kekuasaan yang sah pihak yang bersangkutan.
E.    Hal Yang Merusak Akad
1.    Akad yang Batal
Berdasarkan pemenuhan antara syarat dan rukunnya, akad yang batal dapat dibagi menjadi dua, yaitu :
1.    Akad Batil
Akad batal apabila terjadi pada orang-orang yang tidak memenuhisyarat-syarat kecakapan atau obyeknya tidak menerima hukum akad hingga pada akad itu terdapat hal-hal yang menjadikannya dilarang syarak.
Menurut Adiwarman A. Karim, akad batal, bila rukun-rukun akad tidak terpenuhi (baik satu rukun atau lebih), maka akad menjadi batal. Menurut Gemala Dewi, akad batal yaitu akad yang tidak memenuhi salah satu rukunnya atau ada larangan langsung dari syarak. misalnya obyek jual beli tidak jelas. Ahli-ahli hukum Hanafi mendefinisikan akad batil yakni akad yang secara syarak tidak syah pokok dan sifatnya yang dimaksud adalah akad yang tidak memenuhi seluruh rukun dan syarat pembentukannya akad, apabila salah satu saja dari rukun dan syarat pembentukannya akad tidak terpenuhi, maka akad itu disebut batal. Hukum akad batil, bahwa dipandang tidak pernah terjadi menuruthukum oleh karenanya tidak mempunyai akibat hukum sama sekali.
2.    Akad Fasid
Akad Fasid yakni, bila rukun sudah terpenuhi tetapi syarat tidak terpenuhi, maka rukun menjadi tidak lengkap sehingga transaksitersebut menjadi fasid.
Menurut Gemala Dewi akad Fasid adalah akad yang pada dasarnya disyari’atkan, tetapi sifat yang diakadkan itu tidak jelas. Menurut ahli-ahli hukum Hanafi, akad fasid adalah,”akad yang menurut syarak sah pokoknya, tetapi tidak sahsifatnya”.
Yang dimaksud pokok, adalah rukun-rukun dan syarat-syarat keabsahan akad, jadi akad fasid adalah akad yang telah memenuhi rukun dan syarat pembentukan akad, akan tetapi tidak memenuhi syarat keabsahan akad. Hukum akad fasid, menurut Jumhur ulama, tidak membedakan antara akad batil dan akad fasid, keduanya sama-sama akad yang tidak ada wujudnya, yaitu sama-sama tidak sah karena akad tersebut tidak memenuhi ketentuan undang-undang syarak. Sedangkan menurut Mazhab Hanafi, membedakan akad batil dan akad fasid kalau akad batil sama sekali tidak ada wujudnya, tidak  pernah terbentuk, sedangkan akad fasid telah terbentuk dan telah memiliki wujud syar’i hanya saja terjadi kerusakan pada sifat-sifatnya.
Hukum akad fasid menurut Mazhab Hanafi bila belum dilaksanakan wajib dibatalkan oleh para pihak maupun oleh Hakim. Bila sudah dilaksanakan akad mempunyai akibat hukum tertentu dapat memindahkan hak milik, tetapi tidak sempurna.
3.    Akad Maukuf
 Akad Maukuf ialah akad yang terjadi dari orang yang memenuhi syarat kecakapan, tetapi tidak mempunyai kekuasaan melakukan akad. Akad Mauquf hanya mempunyai akibat hukum apabila mendapat izin secara sah dari orang yang mempunyai kekuasaan melakukan akad.
Sebab-sebab akad menjadi Maukuf ada dua yakni :
a.    Tidak adanya kewenangan yang cukup atas tindakan hukum yang dilakukan dengan kata lain kekurangan kecakapan.Orang-orang tersebut yakni :Remaja yang mumayyiz, orang yang sakit ingatan tetapi tidak mencapai gila, orang pandir yang memboroskan harta, orang yang mempunyai cacat kehendak karena paksaan.
b.    Tidak adanya kewenangan yang cukup atas obyek akad karena adanya hak orang lain pada obyek tersebut. Yang meliputi :
-Akad fuduli (pelaku tanpa kewenangan).
-Akad orang sakit mati yang membuat wasiat lebih dari sepertiga hartanya.
-Akad orang di bawah pengapuan.
-Akad penggadai yang menjual barang yang sedang digadaikannya.
-Akad penjualan oleh pemilik terhadap benda miliknya yangsedang disewakan.
Hukum akad maukuf adalah sah, hanya saja akibat hukumnya digantungkan artinya hukumnya masih ditangguhkan hingga akad itu dibenarkan atau dibatalkan oleh pihak yang berhak untuk memberikan pembenaran atau pembatalan tersebut.
4.    Akad Nafiz Gair Lazim
Akad Nafiz Gair lazim ialah akad Nafiz yang mungkin difasakh oleh masing-masing pihak, atau hanya oleh salah satu pihak yang mengadakan akad tanpa memerlukan persetujuan pihak lain.
Hukum Akad Nafiz gair lazim adalah sah, akan tetapi terdapat beberapa macam akad yang karena sifat aslinya terbuka untuk di fasakh secara sepihak. Seperti akad pemberian kuasa, hibah, penitipan, pinjam pakai, gadai, penanggungan dan akad yang salah satu pihak mempunyai hak khiyar.
2.    Cacat Dalam Akad
Tidak setiap akad (kontrak) mempunyai kekuatan hukum mengikat untuk terus dilaksanakan. Namun ada kontrak-kontrak tertentu yang mungkin menerima pembatalan, hal ini karena disebabkan adanya beberapa cacat yang bisa menghilangkan keridaan (kerelaan) atau kehendak sebagian pihak. Adapun faktor-faktor yang merusak ketulusan atau keridaan seseorang adalah sebagai berikut :
a.    Paksaan / Intimidasi (Ikrah)
Ikrah yakni memaksa pihak lain secara melanggar hukum untuk melakukan atau tidak melakukan suatu ucapan atau perbuatan yangtidak disukainya dengan gertakan atau ancaman sehingga menyebabkan terhalangnya hak seseorang untuk bebas berbuat dan hilangnya kerelaan. Suatu kontrak dianggap dilakukan di bawah intimidasi atau paksaan bila terdapat hal-hal seperti, yaitu :
-Pihak yang memaksa mampu melaksanakan ancamannya.
-Orang yang diintimidasi bersangka berat bahwa ancaman itu akandilaksanakan terhadapnya.
-Ancaman itu ditujukan kepada dirinya atau keluarganya terdekat.
-Orang yang diancam itu tidak punya kesempatan dan kemampuanuntuk melindungi dirinya
Kalau salah satu dari hal-hal tersebut tidak ada, maka intimidasi itu dianggap main-main, sehingga tidak berpengaruh sama sekali terhadapkontrak yang dilakukan.
Menurut Ahmad Azhar Basyir, bila akad dilaksanakan ada unsur  paksaan, mengakibatkan akad yang dilakukan menjadi tidak sah danmenurut Abdul Manan, bila kontrak atau akad dibuat dengan cara paksa diianggap cacat hukum dan dapat dimintakan pembatalankepada pengadilan.
b.    Kekeliruan atau kesalahan (Ghalath)
Kekeliruan yang dimaksud adalah kekeliruan pada obyek akad atau kontrak.Kekeliruan bisa terjadi pada dua hal :
-Pada zat (jenis) obyek, seperti orang membeli cincin emas tetapiternyata cincin itu terbuat dari tembaga.
-Pada sifat obyek kontrak, seperti orang membeli baju warna ungu,tetapi ternyata warna abu-abu. Bila kekeliruan pada jenis obyek, akad itu dipandang batal sejak awal atau batal demi hukum. Bila kekeliruan terjadi pada sifatnya akad dipandang sah, tetapi pihak yang merasa dirugikan berhak memfasakh atau bisa mengajukan pembatalan ke pengadilan.
c. Penyamaran Harga Barang (Ghubn)
Ghubun secara bahasa artinya pengurangan. Dalam istilah ilmu fiqih, artinya tidak wujudnya keseimbangan antara obyek akad (barang) dan harganya, seperti lebih tinggi atau lebih rendah dari harga sesungguhnya. Di kalangan ahli fiqh ghubn ada dua macam yakni :
-Penyamaran ringan. Penyamaran ringan ini tidak berpengaruh pada akad.
-Penyamaran berat yakni penyamaran harga yang berat, bukan saja mengurangi keridaan tapi bahkan melenyapkan keridaan. Maka kontrak penyamaran berat ini adalah batil.
 -Penipuan (al-Khilabah). Penipuan yaitu menyembunyikan cacat pada obyek akad agar tampiltidak seperti yang sebenarnya. Maka pihak yang merasa tertipu berhak fasakh.
-Penyesatan (al-Taqrir). Menggunakan rekayasa yang dapat mendorong seseorang untuk melakukan akad yang disangkanya menguntungkannya tetapi sebenarnya tidak menguntungkannya. Taqrir tidak mengakibatkan tidak sahnya akad, tetapi pihak korban dapat mengajukan fasakh.

F.    Khiyar Akad Dan Berakhirnya Akad
1.    Khiyar
Di dalam pembahasan ini meliputi tentang, khiyar dan pembagiannya yang penjelasannya adalah sebagai berikut :
Khiyar adalah hak yang dimiliki oleh kedua belah pihak yang berakad untuk memilih antara meneruskan akad atau membatalkannya. Hak khiyar dimaksudkan guna menjamin agar akad yang diadakan benar-benar terjadi atas kerelaan penuh pihak-pihak bersangkutan karena sukarela itu merupakan asas bagi sahnya suatu akad.Ada bermacam-macam khiyar diantaranya :
a.    Khiyar majlis, yaitu hak kedua belah pihak untuk memilih antara meneruskan atau membatalkannya sepanjang keduanya belum berpisah seperti, akad jual beli dan ijarah.
b.    Khiyar Ta’yin, yaitu hak yang dimiliki oleh pembeli untuk memastikan pilihan atas sejumlah benda sejenis dan setara sifat dan harganya,seperti jual beli. Pendapat tersebut yang dikemukakan Fuqaha Hanafiyah dan harus memenuhi tiga syarat yakni :
-Maksimal berlaku pada tiga pilihan obyek.
-Sifat dan nilai benda-benda yang menjadi obyek pilihan harussetara dan harganya harus jelas. Jika masing-masing benda berbeda jauh, maka tidak ada khiyar ta’ yin.
Tenggang waktu khiyar ini tidak lebih tiga hari khiyar ta’ yin dipandang telah batal apabila pembeli telah menentukan pilihan secara jelas barang tertentu yang dibeli.
c.    Khiyar Syarat, yakni hak kedua belah pihak yang berakad, untuk melangsungkan akad atau membatalkan akad selama batas waktu tertentu yang dipersyaratkan ketika akad berlangsung. Khiyar ini hanya berlaku pada akad lazim yang dapat menerimafasakh seperti jual beli, ijarah, muzaro’ah, musyaqah, mudarabah,kafalah, hawalah dan lain-lain.Khiyar syarat berakhir bila telah terjadi sebab :
-Terjadi penegasan pembatalan akad.
-Berakhirnya batas waktu khiyar.
-Terjadi kerusakan pada obyek akad.
d.    Khiyar ‘Aib (karena adanya cacat), yakni hak yang dimiliki oleh salah seorang dari kedua belah pihak yang berakad untuk membatalkan atau meneruskannya ia menemukan cacat pada obyek akad yang mana pihak lain tidak memberitahukannya pada saat berlangsungnya akad.Khiyar ‘aib harus memenuhi persyaratan yakni 1). Terjadinya ‘aib (cacat) sebelum akad atau sebelum terjadi penyerahan, 2). Pihak  pembeli tidak mengetahui cacat tersebut ketika berlangsung akad,3). Tidak ada kesepakatan bersyarat, bahwa penjual tidak bertanggung jawab terhadap segala cacat yang ada
  Hak Khiyar ‘aib gugur apabila : pihak yang dirugikan merelakan setelah ia mengetahui cacat tersebut, pihak yang dirugikan tidak menuntut pembatalan akad, terjadi cacat baru dalam penguasaan pembeli, dan terjadi penambahan saat dalam penguasaan pembeli.
e.    Khiyar Rukyat (melihat), adalah hak pembeli untuk membatalkan akadatau tetap untuk melangsungkannya ketika ia melihat obyek dengan syarat ia belum melihatnya ketika berlangsung akad.
f.    Kemungkinan khiyar rukyat bisa terjadi karena sebelumnya hanya disebutkan sifat-sifatnya. Namun kemudian setelah melihat barangnya tidak sesuai dengan sifat-sifat yang disebutkan.
2.    Berakhirnya Akad
Berakhirnya akad bisa juga disebabkan karena fasakh, kematian ataukarena tidak adanya izin pihak lain dalam akad yang mauquf ;
a.    Berakhirnya akad karena fasakh
Yang menyebabkan timbulnya fasakhnya akad yakni :
1)    Fasakh karena fasadnya akad
Jika suatu akad berlangsung secara fasid maka akad harusdifasakhkan baik oleh pihak yang berakad maupun oleh putusan pengadilan atau dengan kata lain sebab ia fasakh, karena adanyahal-hal yang tidak dibenarkan syara’ seperti akad rusak.
2)    Fasakh karena khiyar, baik khiyar rukyat, cacat, syarat atau majlis,yang berhak khiyar, berhak memfasakh bila menghendakinya,kecuali dengan kerelaan pihak lainnya atau berdasarkan keputusan pengadilan.


3)    Fasakh berdasarkan iqalah. Iqalah ialah memfasahkan akad berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak. Atau salah satu pihak dengan persetujuan pihak lain membatalkan karena merasa menyesal.


4)    Fasakh karena tiada realisasi. Karena kewajiban yang ditimbulkan oleh adanya akad tidak dipenuhi oleh pihak-pihak yang bersangkutan. Fasakh ini berlaku pada khiyar naqd (pembayaran) yakni pembeli tidak melunasi pembayaran, atau jika pihak penjual tidak menyerahkan barangdalam batas waktu tertentu.


5)    Fasakh karena jatuh tempo atau karena tujuan akad telah terealisir. Jika batas waktu yang ditetapkan dalam akad telah berakhir atautujuan akad telah terealisir maka akad dengan sendirinya menjadifasakh (berakhir) seperti sewa menyewa.


b.    Berakhirnya Akad Karena Kematian
Kematian menjadi penyebab berakhirnya sejumlah akad adalah sebagai berikut ;
1)    Ijarah. Menurut Fuqaha Hanafiyah kematian seseorang menyebabkan berakhirnya akad ijarah. Menurut jumhur fuqahaselain Hanafiah, kematian tidak menyebabkan berakhirnya akad ijarah.


2)    Al-Rahn (gadai) dan Kafalah (penjaminan hutang). Jika pihak  penggadai meninggal maka barang gadai harus dijual untuk melunasi hutangnya. Dalam hal kafalah (penjamin) hutang, makakematian orang yang berhutang tidak mengakibatkan berakhirnya kafalah, dilakukan pelunasan hutangnya.


3)    Syirkah dan wakalah. Keduanya tergolong akad yang tidak lazimatas dua pihak. Oleh karena itu, kematian seorang dari sejumlahorang yang berserikat menyebabkan berakhir syarikah. Demikian juga berlaku pada wakalah.


c.    Berakhirnya Akad Karena Tidak adanya izin pihak lain
Akad mauquf berakhir apabila pihak yang mempunyai wewenangtidak mengijinkannya dan atau meninggal.



BAB III
KESIMPULAN


A.    Kesimpulan
Bahwa pada dasarnya akad dilakukan dengan keadaan terbuka dalam artian kedua belah pihak sama-sama suka dan sama-sama rela. Hal ini yang kemudian masuk dalam rukun serta syarat sah nya sebuah akad dalam jual beli. Berbicara tentang akad banyak sekali syarat-syaratnya mulai dari adanya obyek dan subyek akad. Selain itu barang yang dijadikan obyek juga harus jelas, dalam artian tidak samar seperti hutan, burung terbang, artinya barang tersebut sudah sah jadi pemiliknya karna dikhawatirkan dikemudian hari akan ada perselisihan.

B.    Saran dan Kritik
Dengan segala keterbatasan kami sehingga terselesaikan-nya tugas makalah ini dengan kekurangan refrensi yang kami punya. Maka dari itu kami selaku penyusun makalah mengharapkan sebuah saran dan kritikan yang membangun agar kami nantinya memperbaiki dalam tugas dikemudian hari.



Akhirnya, semoga makalah ini bermanfaat bapi para pembaca yang budiman khusunya bagi penulis. Kiranya bagi pembaca untuk menyebarluaskan makalah ini.



DAFTAR PUSTAKA

Makalah fiqih Muamalah, UIN Syarif Hidayatullah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, 2011.
Afandi M. Yazid, Fiqh Muamalah,Logung Pustaka; Yogyakarta, 2009.
Azhar Basyir Ahmad, Asas-Asas Hukum Muamalat, UII Press; Yogyakarta, 2000

Judul Artikel: Makalah Muamalah (Pengertian Akad)
Rating: 100% based on 99998 ratings. 5 user reviews.
Ditulis Oleh Sang Pecinta

Link: http://makalahkomplit.blogspot.com/2013/03/makalah-pengertian-akad.html Terimakasih atas kunjungan Sobat beserta kesediaan Anda membaca artikel ini (http://makalahkomplit.blogspot.com/2013/03/makalah-pengertian-akad.html). Kritik dan Saran sobat dapat sampaikan melalui Kotak komentar dibawah ini. http://makalahkomplit.blogspot.com/2013/03/makalah-pengertian-akad.html, http://makalahkomplit.blogspot.com/2013/03/makalah-pengertian-akad.html, http://makalahkomplit.blogspot.com/2013/03/makalah-pengertian-akad.html, Selamat membaca di Makalah Komplit

Temukan Judul: semua Artikel , Manfaat dari , Ikut sertakan judul , , , , dan

0 komentar:

Poskan Komentar