0

BAB I
PENDAHULUAN

A.Latar belakang

Hadits Nabi SAW merupakan sumber hukum kedua sesudah al-Qur’an, al-Qur’an adalah sebuah Kitabullah dan Hadits adalah sebuah ketetapan, perkataan, dan pekerjaan yang disandarkan kepada Nabi SAW. Hadits Nabi SAW disamping sebagai sumber hukum yang kedua dalam Islam, juga memiliki dua fungsi: menjelaskan maksud al-Qur’an, dan menerangkan hukum-hukum yang tidak disebut al-Qur’an itu sendiri, sebagai contoh penyembelihan binatang dan hewan Qurban, tidak ditegaskan tatacaranya. Semua itu, hanya dapat diketahui dengan jelas dari perbuatan dan perkataan Nabi SAW.

Mengingat betapa pentingnya mengkaji ulang serta memahami sabda-sabda Rosulullah SAW, khususnya mengenai tatacara penyembelihan binatang dan hewan qurban demi memperoleh kehalalannya daging binatang dan hewan qurban yang sesui tatacara yang diteladani oleh rosulullah SAW dalam Hadits-haditsnya. Dalam hal ini, kami akan menyajikan sebuah tulisan yang mengkaji tentang tatacara mennyembelih binatang dan hewan qurban.

Peradaban zaman Klasik semakin terhapus dengan adanya peradaban zaman modern yang sangat instan dalam hal apapun, begitu juga dalam daging binatang yang kita konsumsi apakah halal kaitannya dengan proses penyembelihannya, apakah sesui dengan tatacara penyembelihan yang telah disebutkan dalam dasar hukum islam. Maka kita sebagai pelajar dan generasi Islam di zaman modern ini harus kritis dan responsif , lebih-lebih sebagai seorang ahli hukum, dengan pelbagai penyembelihan binatang dan hewan qurban disekitar kita.

B. Rumusan Masalah
Dalam pembahasan Hadits yang kaitannya dengan penyembelihan dalam kesempatan kali ini, maka  kami merumuskan permasalahan sebagai berikut:
1. Bagaimana tatacara penyembelihan Binatang yang sesui hadits Nabi SAW?
2. Bagaimana Penyembelihan Hewan qurban yang sesui hadits Nabi SAW?

C. Tujuan
Penulisan makalah ini bertujuan untuk mengetahui hadits-hadits Nabi SAW yang menerangkan tentang tata cara penyembelihan Binatang dan penyembelihan hewan qurban.


BAB II
PEMBAHASAN

A. Tata cara pennyembelihan Binatang
Firman Allah SWT sudah menerangkan hewan yang haram dimakan :
ِإلاَّمَاذَكَيْتُمْ   Artinya:“Kecuali hewan yang kamu sembelih” ( Alma’idah: 3)
Demi tercapainya kehalalan dagingnya suatu hewan bagi kita, perlu adanya tata cara dalam penyembelihannya, yang mana, ketika hewan yang disembelih itu lepas atau tidak sesuai aturan penyembelihan dalam aturan syar’i. Adapun tatacaranya penyembelihan itu, yaitu:

1. Adanya benda yang tajam.

Benda yang tajam itu, semisal Pedang, Pisau, batu, kayu, kaca, bambu, dsb. Sesuai hadits Nabi SAW,:
عَنْ رَافِعٍ بْنَ خُدَيْجٍ رَضِيَّ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قاَلَ : مَااَنْهَرَ الدَّمَ وَذُكِرَاسْمُ اللهِ عَلَيْهِ فَكُلْ لَيْسَ السِّنَّ وَالظُّفْرَ, اَمَّا السِّنُّ فَعَظْمٌ اَمَّا الظُّفْرُ فَمُدَى اْلحَبَشَةِ. متّفق عليه.
Artinya: “Dari Rofi’ bin Khudaij RA, dari Nabi Saw Beliau bersabda: Apa saja yang mengalirkan darah dan disebutkan nama Allah sewaktu penyembelihannya, maka makanlah, selain gigi dan kuku. Adapun gigi itu, maka sebenarnya tulang, sedangkan kuku adalah pisau orang habsyah, mutafaqun ‘alaih.
Sebab timbulnya (asbabul Wurud), bahwa Rfi’ bin Khudaij itu berkata: Ya Rasulullah sesungguhnya kita akan menghadapi musuh besok, sedangkan kita tidak mempunyai pisau. Lalu Rasullah bersabda: Apasaja yang dapat mengalirkan darah dan bacakan basmalah sewaktu penyembelihannya, maka makanlah, selain gigi dan kuku. Adapun gigi itu adalah tulang, sedangkan kuku adalah pisau orang habasyah.
Dalam hadits tersebut terdapat pentunjuk yang jelas, bahwa disyaratkan dalam penyembalihan itu sesuatu yang dapat memotong dan mengalirkan darah.
Hadits tersebut menjadi dalil bahwa cukup atau sah penyembelihan dengan setiap benda atau senjata yang tajam. Didalamnya termasuk, pedang, pisau, batu, kaca bambu, tembikar, pecehan keramik dan semua benda yang tajam. Adapun dalam hadits tersebut dilarang secara mutlak menyembelih dengan gigi dan kuku, alasannya karena sesungguhnya gigi itu adalah tulang, dan tulang itu menjadi najis binatang yang disembelih, sebab tulang itu adalah mkanan jin, jadi sama dengan larangan menyembelih dengan tulang, karena najis. Alasan larangan penyembelihan dengan kuku adalah karena kuku itu adalah pisaunya orang habsyah yaitu pisaunya orang kafir.
Dan juga terdapat larangan meleparkan batu kepada binatang, karena hal itu nantinya tidak cepat mati tapi akan tersiksa, sebagimana hadits Nabi SAW: yang diriwayatkan oleh ;Abdullah bin bin mughaffal: Aku telah mengatakan kepadamu bahwa Nabi SAW melarang atau tidak menyakai cara itu ( melempar batu pada hewan)tapi kamu masih melakukannya aku tidak akan berbicara denganmu hingga jangka waktu tertentu.

2. Orang Islam yang menyembelih dan disunahkan membaca Basmalah

Dalam penyembelihan binatang itu wajib hukumnya orang Islam yang menyembelih dan disunahkan membaca basmalah (menyebut nama Allah). Dalam hadits diatas pun sudah disebutkan, bahwa Nabi SAW memerintahkan dalam menyembelih binatang itu dengan menyebut nama Allah, dalam penyembelihan binatang itu wajib hukumnya orang Islam yang menyembelih dan disunahkan membaca basmalah ( menyebut nama Allah) dengan Hadits Nabi SAW:
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَّ اللهُ عَنْهُمَا اَنَّ النَبِيَّ صَلى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قاَلَ: اَلْمُسْلِمُ يَكْفِيْهِ اسْمُهُ, اِنْ نَسِيَ اَنْ يُسَمِّيَ حِيْنَ يَذْبَحُ فَلْيُسَمُّ ثُمَّ لَيَأْكُلْ . أخرجه الدّار القطنى.
Artinya : ”Dari Ibnu ‘Abbas r.a. : sesungguhnya Nabi SAW bersabda : Orang Muslim itu cukup namanya untuk jaminannya. Jika ia lupa menyebut nama Allah swaktu dia menyembelih, maka hendaknya dia sebut nama Allah, kemudian hendaklah dia makan. Diriwayatkan oleh Ad daraqathani ”.
Dan juga hadits Nabi yang berbunyi :
ذَبِيْحَةُ اْلمُسْلِِمِ حَلاَلٌ ذَكَرَ اسْمَ اللهِ عَلَيْهَا اَمْ لَمْ يَذْكُرْ. ورجاله موثوقون.
Artinya :  “Hewan yang disembelih orang Muslim itu halal, baik itu menyebut nama Allah sewaktu penyembelihannya atau tidak menyebutnya. Para perawinya orang-orang yang terpercaya”.

3. Putusnya Dua Urat Nadi

Berdasarkan Sabda Nabi SAW . “Apa saja yang mengalirkan darah”. Pengaliran darah itu berarti penumpahan darah. Sedangkan penumpahan darah itu hanya terjadi hanya dengan pemotongan dua urat nadi lehernya itu, karena sesungguhnya itulah tempat aliran darah. Adapun saluran makanan, tidak ada darah yang mengalir ditempat itu.
Ulama berbeda pendapat tentang itu, ada yang berkata harus putus empat macam urat itu. Abu hanifah mengatakan : cukup pemutus tiga saja dari sisi mana saja. Kata imam syfi’i : cukup putus dua urat nadi dan saluran makanan. Ats Tsauri mengatakan : sah pemotongan dua urat nadi lehernya saja. Kata imam Malik disyaratkan putus kerongkongannya dan dua urat nadi lehernya.
Maka adanya benda yang tajam untuk memutuskan kedua urat nadinya, dengan cepat. Karena ketika begitu lama dan tidak putus-putus itu sama saja menyiksanya, dan hal tersebut dapam mengharamkan daging hewan yang memang halal dagingnya.

B. Penyembelihan Hewan Qurban

1. Istilah Qurban.

Istilah penyembelihan Hewan Qurban itu hanya di laksanakan pada hari raya ‘Idul Adlha dan hari tasyrik. Menurut sejarahnya hari ‘idul adlha itu adalah waktu disyari’atkannya penyembelihan hewan qurban.
اَخْبَرَنَا سُفْيَانُ اَنْبَأَنَا عَبْدُ الرَّحْمنِ بْنُ حُمَيْدٍ عَنْ سَعِيْدِابْنِ اْلمُسَيَّبِ عَنْ اُمِّ سَلَمَةَ قاَلَتْ : قاَلَ رَسُوْلُ اللهُ صَلى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اِذاَ دَخَلَ اْلعَشْرُ فَاَرَادَ اَحَدُكُمْ اَنْ يُضَحِّيَ فَلاَ يَمَسَّنَّ مِنْ شَعْرِهِ وَلاَ مِنْ بَشَرِهِ شَيْئاً.

Artinya: ”Telah mengkhabarkan kepada kami Sufyan, dia berkata: telah   meriwayatkan kepadaku Abdurrahman bin khumaid dari syaaid bin musyaab dari umi salamah, dia berkata: Rasulullah Saw telah bersabda: Apabila telah masuk sepuluh hari pertama bulan Dhulhijjah, kemudian ada diantara kamu yang bermaksud menyembelih binatang qurban, maka jangan sampai mencukur rambut dan memotong kukunya”.
Lafadz al Al adzahi adalah bentuk jamak dari udhhiyah yang berarti hewan qurban yang disembelih pada hari raya korban untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Dalam riwayat lain disebutkan: “maka jangan sekali-kali dia memotong rambut, dan pula kukunya”. Pengertian lahiriyah hadits ini menunjukan tentang diharamkannya mengambil sesuatu daru rambut dan kuku bagi orang yang hendak berkorban. Imam Syfi’I dan temen-temen yang lain mengatakan, bahwa hal tersebut makruh tanzih, Imam Syafi’I menginterpretasikan hadits-hadits larangan hanyalah mengandung pengertian makruh tanzih.
Disunahkan menyembelih kambing yang telah bertanduk dan berwarna putih, sebagaimana hadits Nabi SAW:
عَنْ أَنَسٍ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَّ اللهُ عَنْهُ انَّ النَّبِيَّ صَلى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُضَحِّى بِكَبْشَيْنِ اَمْلَحَيْنِ اَقْرَنَيْنِ وَيُسَمِّيَ وَيُكَبِّرُ وَيَضَعُ رِجْلَهُ عَلَى صِفاَحِهِمَا.
Artinya: “Dari Anas Bin Malik r.a. sesungguhnya Nabi SAW pernah berqurban dua ekor kibasy yang putih mulus, yang  bertanduk dan Beliau menyebut nama Allah, mengagungkan dan meletakan kakinya pada bagian belikatnya”.

Hadits ini jelas menunjukan tentang kesunatan menyembelih kambing yang telah bertanduk dengan warna bulu yang putih mulus, tapi tidak ada larangan menyembelih hewan yang biasa, yang tidak bertanduk. Hanya saja bertentangan dengan hal yang berkait dengan keutamaan.
Ucapan Anas, bahwa Nabi menyebut nama Allah da mengagungkanNya, telah dijelaskan maksudnya oleh hadits riwayat muslim, bahwa Beliau membaca : “Bismillah Walla huakbar” (dengan nama Allah dan Allah itu maha Besar). Mengenai menyebut nama Allah ini sudah lebih dahulu pembicaraannya. Adapun takbir, maka seakan-akan khusus diucapkan pada waktu penyembelihan hewan qurban. Adapun peletakan Kaki Nabi pada bagian leher kibasy yaitu pada bagian samoingnya. Maka cara itu adalah agar tetap baginya dan tidak bergerak hewan qurban itu. Hadits tersebut menunjukan bahwa beliau melaksanakan sendiri penyembelihan qurbannya, karena hukumnya sunnah.

2. Cara Penyembelihan Qurban

Dalam sebuah Hadits Nabi SAW menurut riwayat muslim dari ‘Aisyah ra. Beliau Nabi SAW memerintahkan bahwa kibasy yang bertanduk, yang bagian kakinya hitam, bagian perutnya hitam dan bagian keningnya hitam. Lalu dibawakan kibasy itu kepadanya untuk beliau qurban, lalu ia bersbda kepadanya : Ya ‘Aisyah bawalah pisau. Kemudian Beliau bersabda lagi : asahlah pisau itu dengan batu, setelah dia kerjakan. Kemudian beliau mengambil pisau itu dan mengambil kibasy itu. Kemudian beliau menyembelihnya sambil mengucapkan : Dengan nama Allah, Ya Allah terimalah dari Muhammad, keluarga Muhammad dan dari umat Muhammad, kemudian baliau menyembelih hewan qurbannya.
Dalam hadits tersebut terkandung dalil bahwa sunat pembaringan kambing, tidak boleh menyembelih dalam keadaan berdiri dalam keadaan tidur. Karena, sesungguhnya dengan membaringkan, lebih bersifat penyantun terhadap hewan. Dalam hadits pula sunat berdo’a agar qurban dan amal-amal lainnya duterima oleh Allah. Ibnu majah telah meriwayatkan hadits, bahwa Rasulluh SAW, sewaktu menyembelih hewan qurban dan mengarahkan hewan itu kearah kiblat.

3. Hukum berqurban

  Bahwa hukum berqurban itu wajib bagi yang mempunyai kemampuan untuk berkorban, sebagai hadits Nabi SAW:
عَنْ اَبِىْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قاَلَ: قاَلَ رَسُوْلُ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ كَانَ لَهُ سَعَة ٌوَلَمْ يُضَحِيٍّ فَلاَ يَقْرَبَنَّ مُصَلاَّناَ. رواه احمد وابن ماجة وصحّحه الحاكم ورجّح الامّة غيره وقفه
Artinya: “Dari abu hurairah ra. Beliau berkata : Rasulullah SAW bersabda : Barang siapa yang ada kemampuan, tetapi dia tidak berkurban, maka jangan sekali-kali dia mendekati tempat shalat kami. Diriwayatka oleh : Ahmad dan Ibnu Majah, serta dinilai shahih oleh Al Hakim, tetapi para tokoh ahli hadits menguatkan kemaukufannya.
عَلَى اَهْلِ بَيْتٍ فِىْ كُلِّ عَامٍّ اُضْحِيَّة
Artinya: “Wajib atas setiap penghuni rumah pada setiap tahun satu qurban”.
Sabda Nabi SAW, itu menunjukan wajib. Dan kewajiban tersebut menjadi pendapat abu hanifah, sedangkan menurut Imam Syafi’I dan mayoritas ulama’ bahwa qurban itu hanya sunat mu’akkad.

4. Hewan-hewan yang tidak sah dijadikan qurban
عَنِ البَرَّاءِ بن عَازِبٍ رَضِيَّ اللهُ عَنْهُ قاَلَ: قاَمَ فِيْنَا رَسُوْلُ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقاَلَ : اَرْبَعٌ لاَ تَجُوْزُ فِى الضَّحَايَا : اَلْعَوْرَاءُ اْلبَيِّنُ عَوْرُهَا وَاْلمَرِيْضَةُ اْلبَيِّنُ مَرَضُهَا وَاْلعَرْجَاءُالبَيِّنُ ضِلَعُهَا وَاْلكَبِيْرَةُ الَّتِى لاَ تُنْقِى . رواخ احمد والاربعة.
Artinya: “Dari Barra’ bin ‘azib r.a. beliau berkata : Rasulullah SAW berdiri ditengah-tengah kami lalu beliau bersabda : Empat macam hewan yang tidak bolehdalam qurban : yang juling yang nyata julingnya, yang sakit yang nyata sakitnya, yang pincang yang nyata pincangnya dan yang tua bangka yang tidak mempunyai sum-sum /lemak. Diriwayatkan oleh Ahmad dan Al Arba’ah.
Hadits tersebut sebagai dalil bahwa empat cacat tersebut ini mencegah sahnya qurban dan dima’afkan cacat-cacat yang lain selain itu. Menurut pendapat Ulama zahiri, bahwa tidak ada cacat lain selain cacat empat cacat tersebut. Menurut mayoritas ulama, bahwa dikiaskan dengan empat cacat tersebut cacat-cacat yang lain yang lebih berat atau mnyamainya : misalnya hewan yang buta dan yang patah kakinya.

Menurut hadits yang lain, bahwa hewan qurban itu yang berumur dua tahun masuk tiga tahun (Musinnah) yaitu hewan yang tumbuh gigi yang berumur dua tahun masuk tiga tahun dari semua binatang ternak, dari unta, sapi, kambing, dan yang lebih kecil dari itu. Karena Nabi sudah bersabda dalam haditsnya yang artinya : Jangan kamu sembelih selain yang musinnah (hewan umur dua tahun masuk tiga tahun), kecuali jika sulit bagi kamu mendapatkannya. Maka kamu boleh menyembelih yang jadz’ah ( hewan yang berumur 4 tahun  masuk 5 tahun) dari kambing.
Juga terdapat larangan berqurban hewan yang Mushfirah yaitu hewan yang sangat kurus kering. Sebagaimana dijelaskan dalam kitab An Nihayah. Dalam suatu riwayat Al mashfirah yaitu hewan yang tidak mempunyai telinga.

5. Pembagian Daging Hewan Qurban
عَنْ عَلٍى بْنِ اَبِى طَالِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قاَلَ: اَمَرَنِى رَسُوْلُ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَنْ اَقُوْمَ عَلى بُدْنِهِ وَاَنْ اُقًسِّمَ لُحُوْمَهَا وَجُلُوْدَهَا وَجَلاَلَهَاعَلى الْمَسَاكِيْنَ وَلاَ اُعْطِى فِى جَزَّارَتِهَا شَيْئاً مِنْهَا . متفق عليه.
Artinya: “Dari ‘Ali bun Abi Thalib r.a. beliau berkata: Rasulullah SAW memerintahkan saya untuk mengurus hewan-hewan qurbannya dan supaya saya membagikan daging-daging, kulitnya dan kotorannya kepada orang-orang miskin dan tidak saya berikan sedikit pun dari bagian hewan qurban itu untuk upah penyembelihannya. Muttafaqun ‘alaih.
Hadits itu menunjukan bahwa hewan qurban itu disedahkan kepada orang-orang miskin dan juga menunjukan bahwa tidak diberi penyembelihannya sedikit pun dari daging itu sebagai upahnya, karena hal itu adalah termasuk dalam hal hukum jual beli yang berhak mendapatkan banyaran. Sedangkan hukum qurban itu adalahseperti hukum denda dan hewan untuk dam, tentang tidak dijual belikan dagingnya dan kulitnya. Oleh karena itu tidak diberi penyembelihannya sedikitpun daging qurban itu sebagai upahnya.
Sedangkan para Ulama sepakat atas larangan menjual belikan dagingnya, akan tetapi mengenai kulitnya dan bulunya yang termasuk bagian hewan qurban yang dapat dimanfaatkan, kata mayoritas ulama: tidak boleh, akan tetapi kata Abu hanifah boleh menjual dengan selain dinar dan dirham.
Adapun mengenai qurban secara bersam –sam itu boleh, sebagaimana hadits Nabi SAW, yang diriwayatkan oleh Jabir bin ‘Abdullah r.a. beliau berkata, kami menyembelih bersama Rasulullah SAW. Pada masa perjanjian Hudaibiyah seekor unta untuk tujuh orang dan seekor sapi untuk tujuh orang. Diriwayatkan oleh Muslim.
Selanjutnya disunahkan bagi yang berqurban untuk mensedekahkan daging qurban dan memakannya sebagian. Mayoritas ulama menganggap sunah pembagian qurban itu menjadi tiga bagian: yaitu sepertiga untuksimpanan/persediaan makanan, sepertiga untuk disedahkan kepada fakir miskin dan sepertiga lagi untuk makan hari qurban itu, pendapat ini berdasarkan hadits Nabi SAW:
كُلُوْا وَتَصَدَّقُوْا وَادَّخَرُوْا
Artinya: “Makanlah kamu sekalian, sedekahkanlah dan simpanlah bagian, hadits ini diriwayatkan oleh At tirmidzi”.

 BAB III
PENUTUP


A. Kesimpulan

Dari pembahasan yang telah di paparkan, dapat disimpulkan bahwa penyembelihan yang berdasarkan Hadits Nabi SAW itu, harus menggunakan denda tajam, oleh orang Islam, membaca Basmalah dan dalam pelaksanaan penyembelihannya kedua urat nadinya harus putus karena hal tersebut yang dapat mengalirnya darah. Adapun dengan hewan Qurban itu cara penyembelihannya tak jauh beda dengan penyembelihan binatang yang halal dimakan dagingnya, hanya saja penyembelihan hewan qurban ada ketentuan-ketentuan yaitu baik dalam pelaksanaannya dan hewan yang dijadikan qurban yang disembelih, dalam pelaksanaannya yaitu disembelih pada waktu hari raya qurban dan hari tasyrik, setelah sholat idul ‘adhha, hewan yang dijadkan qurban terbebas dari cacat.dan hukumnya quban menurut hadits –hadits tersebut mengandung pengertian sunat mu’akkad, serta dagingnya disedakahkan tidak boleh dijual belikan.

B. Saran
Dalam melestarikan budaya hukum di masyarakat terkait dengan penyembelihan binatang dan hewan qurban perlu adanya analisa dan peimplikasikan hukum dan tatacaranya yang terkandung dalam hadits Nabi SAW dan pendapat para ulama, supaya izzul islam tetap jaya dipelbagai penjuru nusantara pada khusunya dan penjuru dunia pada umumnya.

C. Penutup
Demikianlah yang dapat kami sajikan pembahasan hadits Nabi SAW, tentang tatacara penyembelihan binatang dan hewan qurban semoga bermanfaat bagi kita. Amiin. Demi perbaikan dalam karya penulisan kami, kami mengharap kritik yang kontruktif dari Ibu Dosen dan sahabat-sahabati, dan akhirnya atas segala perhatiannya kami sampaikan terima kasih.


DAFTAR PUSTAKA

1. Muhammad Ilyas Ruchiyat. Ringkasan Shahih Bukhari. Bandung. Mizan.thn 2000
2. Ahmad Mudjab mahalli. Hadits-Hadits Ahkam Riwayat As syfi’i jilid I. Jakarta. PT.
    Raja grafindo Persada, thn 2003
3. Abu Bakar Muhammad. Terjemah Sulubus Salam. Surabaya. Al Ikhlas. Thn.....
4. Moch Anwar. Terjemah Fathul mu’in. Jilid I. Bandung. Sinar Baru Algensindo Offset.
    2005


Poskan Komentar

 
Top