0
Peta Pemikiran dan Gerakan Radikalisme Islam di Indonesia
Oleh : Imdadun Rahmat, M.S.I

Karakter Fundamentalis/Dakwah Salafi;
1.  Membid’ahkan dan memusyrikkan amalan-amalan kaum pesantren: Mauludan, Ziarah Kubur, Dzibaan, Tahlil, Dzikir, Toriqoh, dan sebagainya. Ini dianggap menodai kemurnian Islam.

2. Literalis (harfiyyah): menolak ta’wil dan penafsiran Qur’an dan Sunnah secara yang tersurat.

3. Tidak mengakui akal: membatasi sumber istinbath hanya dengan wahyu. Wahyu merupakan sumber satu-satunya dalam Islam.

4.  Anti imam-imam madzhab dan membuang kitab kuning. Hanya menganut Imam Ahmad Bin Hambal versi Ibnu Taymiyyah, dan Muhammad Bin Abdul Wahhab.

5. Intoleran: cenderung memusuhi kelompok lain dan menganggap hanya ajaran kelompoknya sendiri yang benar. Mudah mengkafirkan orang yang tidak seajaran dengan mereka.

Karakter Islamis-Radikal dan Kelompok Teroris
1.Kelompok ini memiliki persamaan dengan karakter kelompok fundamentalis (sebagaimana diuraikan di depan).

2. Radikal: menganggap kehidupan Islam dan sistem kenegaraan yang telah ada di dunia muslim sebagai penyimpangan, dan harus diubah dengan cara yang mendasar.

3. Pro-kekerasan: kondisi yang menyimpang harus diluruskan baik dengan jalan dakwah maupun jalan jihad (perang).

4. Fanatik-militant: meyakini dengan mutlak bahwa ajarannya sendiri sebagai kebenaran tunggal yang harus disebarluaskan dengan jalan apapun.

5. Anti-Barat: Barat dipersepsikan sebagai “biang kerok” hancurnya sistem kehidupan yang Islami baik budayanya, intelektualnya, ekonominya, maupun sistem politiknya.

Mereka punya teori “al-ghazwu al-fikr” (perang pemikiran). Mereka menolak semua pemikiran yang datang dari Barat, seperti rasionalisme, dll. mereka hanya mengabil teknologinya saja dari Barat. Jadi mereka ngebom dan pake HP itu kan dari Barat teknologinya, itu bagi mereka tidak apa-apa.

6. Politis: meyakini bahwa kekuasaan politik negara harus diraih karena merupakan kewajiban agama. Mereka yang tidak menerapkan Negara Islam adalah kafir dan boleh dibunuh meskpun orang Islam.

7. Tatharruf: menempatkan yang sunnah sebagai wajib, menjadikan yang furu’ sebagai ushul, mengubah yang profan sebagai sakral

Agenda Islamis-Radikal dan Kelompok Terorisme
Pertama: Merobohkan NKRI dan anti Pancasila. Menjadikan Islam sebagai entitas politik. Islam difahami, dipersepsikan dan dipakai sebagai ideologi politik untuk membentuk sistem negara yakni negara Islam (al-daulah al-Islamiyyah) atau Khilafah Islamiyah versi mereka sendiri.

Kedua: Menerapkan ajaran Islam dalam masyarakat menurut versi mereka. Perempuan harus memakai cadar, pemisahan yang ketat antara laki-laki-perempuan, laki-laki harus memakai jenggot, celana ngatung dan gamis. Tanpa menerapkan hal tersebut, masyarakat  dianggap jahiliyah.
Sosialisasi Islam Damai oleh Kiai dan Dai Pesantren
1). Memagari ummat dari firus radikalisme; khususnya teology of hate.
2). Mengubah ber-Islam “versi pendek” (instant) menjadi ber-Islam “versi panjang” (ilmiyyah-manhajiyyah).
3). Mengangkat kembali ajaran (ayat-ayat dan hadits-hadits) tentang peace and harmony.
4). Meneguhkan prinsip tasamuh, tawazun, I’tidal (Khittoh NU) 
5). Mereposisi pengertian jihad.
6). Mensosialisasikan rumusan NU tentang pilar-pilar kenegaraan: Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Kebhinekaan.

MENJINAKKAN HABITUS TERORISME

Terorisme pada hakekatnya sama dengan wabah penyakit menular yang menjakiti manusia. Para ahli kesehatan punya solusi yang bisa diadopsi. Dalam menangani wabah penyakit menular, mereka sangat memperhatikan faktor inti yakni virus. Virus harus dimatikan atau dilokalisasi agar tidak meluas penyebarannya. Maka, meminjam ilmu kesehatan, prosedur yang dilakukan dalam memberantas terorisme adalah: pertama, mereka yang terbukti teroris harus dikarantina dalam penjara dan diharapkan berubah ideologinya sebelum bebas. Penjara mestinya betul-betul berfungsi sebagai pengasingan agar mereka terputus dari sel-sel terornya maupun dari eksponen ormas-ormas radikal basis pendukungnya. Maka manajemen penjara bagi kaum teroris harus didesain sedemikian rupa agar memberi jaminan prinsip eks-komunikasi ini.  

Kedua, mereka yang dicurigai (supect) tertular virus diberi faksin penangkal dan dibatasi daerah aktivitasnya agar tidak berinteraksi langsung dengan orang lain dan tidak menulari yang lain. Dalam konteks terorisme, virus  “teologi kebencian” (theology of hate) yang dikemas dengan doktrin jihad harus ditangkal. Orang-orang maupun lembaga-lembag yang berideologi ini idealnya bisa dilokalisasi dan diputus aksesnya ke ruang-ruang publik.

Ketiga, area asal virus dan area wabah harus dinyatakan sebagai daerah tertutup untuk menutup akses penyebaran virus. Artinya, lembaga atau orang yang menjadi sumber ajaran kekerasan seharusnya dieks-komunikasi tidak justru dicitrakan menjadi tokoh panutan dan idola. Elit-elit politik sungguh tidak elok untuk bermain mata dengan kelompok ini demi kepentingan sempit kekuasaan.

Keempat, daerah-daerah sekitar wabah perlu diberikan faksin imunisasi pencegah penularan. Teologi kebencian ini mesti ditangkal dengan vaksin yang bisa melemahkan dan mematikannya. Paradigma peaceful Islam harus diketengahkan secara lebih serius oleh para ulama dan ormas Islam seperti NU, Muhammadiyah dan MUI. Prinsip beragama yang rahmatan lil-alamin bisa menyembuhkan atau minimal membuat masyarakat menjadi imun terhadap virus kekerasan.

Kelima, mengenali mutasi virus-virus tersebut serta pola penggabungan gen virus-virus sejenis sebab, semakin banyak terjadi penggabungan gen, ia semakin kuat bertahan terhadap vaksin. Pengenalan ideology para actor teroris ini menjadi penting. Penelusuran latarbelakang, pengalaman serta apa yang dilakukan sangat penting untuk menentukan prioritas pengawasan terhadap mereka yang dicurigai berpotensi teror. Mereka yang berpengalaman di banyak daerah konflik hendaknya menjadi target utama pengawasan dan pembinaan (deradikalisasi dan rehabilitasi). Sebab  mereka yang turun di semua front-front jihad seperti Afghanistan, Moro, Ambon dan Poso semakin berbahaya dan sukar dikalahkan.

Poskan Komentar

 
Top