0
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Hukum Syara'

Hukum syara' adalah seperangkat peraturan berdasarkan ketentuan Allah tentang tingkah laku manusia yang diakui dan diyakini berlaku serta mengikat untuk semua umat yang beragama Islam.

Pengertian Hukum  bisa ditinjau dari tiga aspek, yaitu:
1.   Hukum menurut bahasa yang berarti: mencegah dan memutuskan.
2. Hukum menurut istilah Ushuliyun, yaitu: Firman Allah swt (nash) yang berhubungan dengan perbuatan manusia baik yang bersifat tuntutan, pilihan ataupun kondisional.
3.  Hukum menurut Fuqaha, yaitu: efek dari penerapan firman Allah (nash) yang menghasilkan mubah, wajib, sunat, haram dan makruh. .

Yang dimaksud dengan Firman Allah pada dasarnya adalah Al-qur’an dan Sunnah, karena kedua sumber inilah yang menjadi sumber bagi dalil-dalil syar’i  yang lainnya. Tidak termasuk hukum Firman Allah yang tidak berhubungan dengan perbuatan manusia, seperti:

1.    Firman Allah tentang zat dan sifatnya, seperti: والله بكل شيئ عليم
2.    Firman Allah yang berhubungan dengan penciptaan makhluk-makhluk tidak berakal, seperti: والشمس و القمر و النجوم مسخرات بأمره
3.    Firman Allah yang berhubungan dengan perbuatan manusia namun dalam Firman tersebut tidak mengandung tuntutan, pilihan, syarat, sebab dan penghalang. Contohnya firman Allah:
الم غلبت الروم فى أدنى الأرض وهم من بعد غلبهم سيغلبون فى بضع سنين
Menurut Ulama Ushul yang dimaksud dengan hukum adalah nash syara’ itu sendiri,. Sebagai contoh Firman Allah swt: و أقيموا الصلاة Menurut Ulama Ushul firman inilah yang dikatakan dengan hukum. Sedangkan menurut Fuqaha hukum disini adalah shalat itu wajib.

Dengan demikian, apa yang disebut hukum dalam pembahasan ini adalah teks ayat-ayat ahkam dan teks hadist ahkam dan dari sini jelaslah kita lihat bahwasanya fiqh bersifat praktis dan ushul fiqh bersifat teoritis.

B.    Pembagian Hukum Syara’.
Hukum syara terbagi dua macam:
a.    Hukum taklifi adalah firman Allah yang menuntut manusia untuk melakukan atau meninggalkan sesuatu atau memilih antara berbuat atau meninggalkan.
b.    Hukum wadh’i adalah firman Allah swt. yang menuntuk untuk menjadikan sesuatu sebab, syarat atau penghalang dari sesuatu yang lain.
    1. Hukum Taklifi
Sebagaimana pengertiannya hukum taklifi adalah hukum yang menelaskan tentang perintah, larangan, dan pilihan untuk menjalankan sesuatu atau untuk menjalankannya.contoh hukum yang menunjukkan perintah adalah mendirikan sholat, membayar zakat dan menunaikan haji ke baitullah.
Bentuk-bentuk hukum taklifi menurut jumhur ulama ushul fiqih/mutakallimin ada lima macam, yaitu Wajib, Mandub, Haram. Makruh, Mubah.

1.1    Wajib
Wajib adalah suatu ketentuan yang diperintahkan untuk dilaksanakan dan bagi yang meninggalkannya mendapat dosa dan yang menjalankannya berpahala. Menurut Jumhur Ulama wajib di identikkan dengan Fardhu.
Sebagian ulama Mazhab Hanafi ada yang menyebut perbuatan wajib yang pasti itu sebagai fardlu ‘amali. Dengan demikian seakan-akan mereka membagi fardhu menadi dua macam, yaitu :
-   fardhu dalam keyakinan dan amal (perbuatan), yaitu fardhu yang berdasarkan dalil Qath’i.
- fardhu dalam perbuatan saja, yaitu fardhu yang berdasarkandali Zhanni. Hal tersebut  disebabkan karena menurut ketetapan dasar –dasar hukum mereka, bawa dalil Zhani itu wajib diamalkan tetapi tidak wajib di yakini.

•    Pembagian wajib
Wajib terbagi menjadi beberapa bagian, dan setiap bagian dapat ditinjau dari segi tertentu, misalnya dari segi waktu, segi Dzatiayah Hukum, yang diperintahkan: segi umum dan khususnya perintah, dan sgi kadar/ukuran perintah, dan lain-lain.

a. Wajib dari segi waktu pelaksanaannya.
-    Wajib Muthlaq.
Kewajiban yang dapat dilaksanakan tanpa ada batas waktu tertentu. Misalnya, kewajiban membayar kafarat sumpah, boleh dibayar kapan saja tanpa ada terikat dengan waktu tertentu.
-    Wajib yang harus dilakukan pada waktu-waktu tertentu (pelaksananya dibatasi oleh waktu) terbagi menjadi dua macam yaitu:

1.    Wajib Muwassa’. Yaitu: waktu yang tersedia untuk mengerjakan perbuatan lebih panjang dari perbuatan itu sendiri sehingga bisa melakukan perbuatan yang lain. . Contohnya Shalat lima waktu. Waktu Dzuhur misalnya cukup untuk melaksanakan shalat dzuhur dan shalat-shalta yang lain. Bhaka shalt dzuhur itu hanya memerlukan waktu yang relatif sedikit.  Dan wajib ini dikenal dengan Dharf dikalangan hanafiyah.

2.    Wajib Mudhayyaq. Yaitu: waktu yang tersedia untuk melakukan perbuatan sama panjangnya dengan perbuatan yang dilaksanakan. Misalnya, Puasa pada bulan Ramadhan, dimana sepanjang hari pada bulan tersebut hanya dapat di gunakan hanya untuk ibadah puasa bulan Ramadhan saja.
b.Wajib dari segi tertentunya tuntutan.

-    Wajib Mu’ayyan
Wajib Mu’ayyan adalah suatu kewajiban yang hanya mempunyai satu tuntutan. Kewajiban dimana yang menjadi obyeknya adalah tertentu tanpa ada pilihan lain. Misalya, kewajiban shalat lima waktu, puasa ramadhan dan zakat. Termasuk juga seperti membayar hutang dan memenuhi akad. Dan terbebas mukallaf dari kewajiban tersebut dengan melaksanakan perbuatan yang tertentu ini saja.

-    Wajib Mukhayyar.
Kewajiban dimana yang menjadi objecknya boleh dipilih antara beberapa alternatif. Misalnya, kewajiban membayar kafarat sumpah yang boleh dipilih antara memberi makan 10 orang fakir miskin, memberikan pakaian atau memerdekakan budak. Contoh lain adalah masalah Haji, dimana orang yang menjalankan ibadah haji diperbolehkan memilih antara haji ifrad dan haji tamathu’.

c.    Wajib dari segi kadar /ukuran perintah
-    Wajib yang mempunyai ukuran tertentu, seperti dalam pembagian harta pusaka
-    Wajib yang tidak mempunyai ukuran konkrit,seperti kadar mengusap kepala (ketika berwudlu).

d.    Kewajiban dari segi pelaksanaannya
-    Wajib ‘ain yaitu: Kewajiban yang berhubungan dengan pribadi perorangan. Yaitu kewajiban yang harus di jalankan oleh orang mukallaf, sehingga ika ia meninggal, berdosalah ia dan berhak di siksa. Sebagai contoh sholat, zakat, memeuhi akad (memenuhi janji).
-    Wajib kifai,yaitu: Kewajiban yang berhubungan dengan orang banyak. Yaitu suatu kewajiban yang hanya menuntut terwujudnya suatu pekerjaan dari sekelompok masyarakat, maka bebaslah yang lain dari kewajibanitu, tanpa menanggung dosa.
-  
1.2.     Mandub
Mandub adalah Perbuatan yang dilakukan oleh Mukallaf berpahala dan jika ditinggalkan tidak mendapat siksa.

•    Pembagian sunnat.
2.1    Sunnat Muakkad
Sunat mukkad yaituSunah yang dijalankan Rasulullah SAW secara kontinyu,enjelaskan bahwa hal tersebut bukan fardhu  yang harus dilakkan. Contonya, seperti sholat witir dua rekaat sebelum sholat shubuh.

2.2    Sunnat ghairu muakkad
Sunnah Ghairu muakkad yaitu sunah yang tidak di kerjakan oleh Rasulullah SAW secara kontinyu. Seperti sholat empat rakaat sebelum dhuhur, empat rakaat sebelum asahr,empat rakaat sebelum isya’, dan bershadaqah yang tidak fardhu.

2.3    Sunnat Zaidah.
Yaitu sunnah yang tingkatannya di bawah dua tingkatan di atas. Sunah ini mengikuti adat kebiasaan Rasulullah SAWyang tidak ada hubungannya dengan tugas tabligh (penyampaian ajaran) dari Allah atau penyampaian hukum Syara’. Seperti cara makan, berpakaian Rasulullah SAW.

1.3.     Haram
Haram ialah larangan Allah yag pasti terhadap suatu perbuatan, baik ditetapkan melalui dalil qath’i dan dalil zhanni.

•    Pembagian Haram.
3.1. Haram Lizatihi
Yaitu perbuatan yang di haramkan oleh Allah, karena bahaya tersebut dalam perbuatan itu sendiri. Seperti makan bangkai, minum khamr, berzia, mencuri.

3.2  Haram li ‘aridhihi.
Yaitu perbuatan yang di larang oleh syara’, di mana adanya larangan tersebut bukan terletak pada perbuatan itu sediri, tetapi perbuatan tersebut dapat menimbulkan haram li dzati. Seperti melihat aurat perempuan dapat menimbulkan zina, sedang zina diharamkan karena dzatiyahnya sendiri.

1.4.     Makruh
Makruh adalah suatu larangan syara’ terhadap suatu perbuatan, tetapi larangan tersebut tidak bersifat pasti, lantaran tidak ada dalil yang menunjukkan atas haramnya perbuatan tersebut.

•    Pembagian Makruh.
4.1. Makruh Tahrim
Yaitu larangan yang pasti yang di dasarkan pada dalil zhanniyan masih mengandung keraguan.

4.2. Makruh Tanjih
Definisinya sama dengandefinisi yang dirumuskan oleh umhur fuqaha’. Makruh tanzih ini merupakan lawan (kebaikan) dari hukum mandub.

1.5     Mubah
Mubah ialah suatu hukm, dimana Allah SWT memberika kebebasan kepada orang Mukallaf untuk memilih untuk mengerjakan suatu perbuatan atau meninggalkannya.
“ Mubah ialah suatu perbuatan yang apabila di kerjakan atau di tinggalkan sama-sama tidak memperoleh tiga pujian”.

Hukum mubah di tetapkan karena ada salah satu dari tiga hal, yaitu:

5.1 Tiada berdosa bagi orang yang mengerjakan perbuatan yang semula di haramkan, dengan ada qarinah (tanda-tanda) atas dierbolehkannya perbuata tersebut.
5.2. Tiada dali yang menunjukkan haramnya perbuatan
5.3. Ada nash yan menunjukkan atas halanya perbuatan tesebut.
  • Rukhsah dan Azimah.
Rukhsah adalah suatu hukum yang dikerjakan lantaran ada suatu sebab yang memperbolehkan untuk meinggalkan hukum yang asli. Sedangkan
‘Azimah adalah hukum yang mula-mula harus dikerjakan lantaran tidak ada sesuatu yang menghalang-halanginya.

Abu Zahrah memasukkan rukhsah dan ‘azimah dalam rangkaian hukum taklifi, dengan alasan bahwasanya salah satu dari konsekuensi hukum taklifi adalah berpindah dari hukum yang haram kepada hukum mubah, atau dari hukum wajib kepada jaiz pada waktu-waktu tertentu. Dan masalah yang dibahas dalam rukhsah dan ‘azimah ini adalah perpindahan dari satu hukum taklifi ke yang lain.

•    Macam-macam Rukhsah.
Rukhsah itu ada beberapa macam antara lain:
1.    Membolehkan hal-hal yang diharamkan disebabkan karena darurat. Misalnya, diperbolehkan makan bangkai bagi orang yang terpaksa.
2.    Membolehkan meninggalkan sesuatu yang wajib karena ada uzur. Misalnya, boleh tidak berpuasa di bulan ramadhan karena sakit atau berpergian.
3.    Memberikan pengecualian-pengecualian dalam transaksi dagang karena dibutuhkan dalam lalu lintas perdagangan. Misalnya, Transaksi salam.

2.  Hukum Wadh’i.
Berdasarkan pengertian hukum wadh’i yang telah dijelaskan diatas maka hukum wadh’i itu pada dasarnya adalah sebab, syarat dan mani’. Akan tetapi Al-Amidi, al-Ghazali, asy-Syatibi dan Khudhari Bik  menambahkan shahih, fasid, ‘azimah dan rukhsah.
2.1. Sebab.
Sebab menurut bahasa: sesuatu yang bisa menyampaikan kepada sesuatu yang lain. Dan menurut istilah adalah: sesuatu yang dijadikan oleh syari’at sebagai tanda adanya hukum dimana adanya sebab adanya hukum dan tidak adanya sebab tidak adanya hukum.

Pembagian Sebab.
1.    Sebab yang merupakan bukan perbuatan mukallaf dan berada diluar kemampuan manusia. Namun demikian, sebab itu mempunyai hubungan dengan hukum taklifi karena syariat telah menjadikannya sebagai alasan bagi adanya suatu kewajiban yang harus dilakukan oleh mukallaf. Misalnya, masuknya bulan Ramadhan menjadi sebab untuk berpuasa ramadhan.

2.    Sebab yang merupakan perbuatan mukallaf dan berada dalam batas kemampuan mukallaf. Misalnya, safar merupakan sebab bolehnya berbuka puasa.
Jumhur Ushuli tidak membedakan antara sebab yang bisa ditelusuri oleh akal (logis) dan sebab yang tidak bias ditelusuri oleh akal. Sedangkan sebagian ulama ushul yang lain membedakannya dan menyatakan bahwasanya sebab adalah sesuatu yang tidak bisa ditelusuri oleh akal, seperti tergelincirnya matahari sebab wajibnya shalat dhuhur. Sedangkan yang bisa ditelusuri oleh akal disebut dengan ‘illat, seperti mabuk sebab tidak bolehnya shalat.

1.    Pembagian Sebab menurut Hanafiyah.
2.    Sebab waktu, yaitu: waktu menyebabkan adanya hukum. Misalnya, waktu shalat.
3.    Sebab ma’nawi, yaitu: suatu perkara yang menyebabkan adanya hukum. Misalnya, nisab sebab wajibnya zakat.

2. Syarat.
Syarat menurut bahasa adalah tanda-tanda yang mesti ada, sedangkan menurut istilah syarat adalah sesuatu yang membuat tidak adanya hukum tanpa adanya syarat dan tidak semestinya hukum itu ada ataupun tidak dengan adanya syaratdan syarat ini berada diluar dari hakikat perbuatan yang tergantung kepadanya.

•    . Perbedaan antara syarat dan rukun.
Syarat dan rukun sama-sama menjadi penentu terpenuhinya suatu perbuatan dengan sempurna. Namun keduanya berbeda dari segi:
1.    Rukun merupakan bagian dan hakikat perbuatan sedangkan syarat berada di luar perbuatan tersebut.Misalnya, ruku’ adalah rukun shalat dan merupakan bagian dari dari shalat. Sedangkan wudhu syarat bagi shalat dan bukan merupakan bagian dari shalat.
2.    Syarat harus ada dari awal hingga akhir perbuatan dan rukun berpindah-pindah dari satu ke yang lainnya.
. Pembagian syarat.
1.    Syarat dari segi hubungan dengan hukum.
1.    Syarat yang merealisasikan hukum taklifi, misalnya, terpenuhinya haul merupakan syarat wajibnya zakat.
2.    Syarat yang merealisasikan hukum wadh’i. misalnya, muhsan merupakan syarat dirajamnya orang yang berzina.
2.    Syarat dari segi sumbernya.
1.    Syarat Syar’i yaitu syarat yang datang sendiri dari syari’at, seperti, dewasa merupakan syarat wajib untuk menyerahkan harta kepada anak yatim dan ini telah diatur oleh syari’at dalam surat an-nisa’ ayat 6.
2.    Syarat Ja’li yaitu syarat yang datang dari kemauan mukallaf sendiri, seperti, syarat yang dibuat oleh pihak tertentu dalam akad tertentu.
2.3. Mani’.
.
Mani’ menurut bahasa adalah penghalang dari sesuatu. Dan menurut istilah mani’ adalah sesuatu yang ditetapkan oleh syari’at sebagai penghalang bagi adanya hukum atau penghalang bagi berfungsinya suatu sebab.[31]
Pembagian Mani’
1.    Mani’ terhadap hukum. Yaitu sesuatu yang ditetapkan oleh syari’at yang menjadi penghalang bagi hukum. Seperti, haid bagi wanita yang menjadi mani’ untuk melaksanakan shalat.
2.    Mani’ terhadap sebab. Yaitu suatu penghalang yang ditetapkan oleh syari’at yang menjadi penghalang berfungsinya sebab. Seperti, berhutang menjadi penghalang wajibnya zakat pada harta yang dimiliki.[32]
  • Sah, Rusak dan Batal.
Pengertian sah menurut syara’ adalah perbuatan yang dilakukan mempunyai akibat hukum. Dan perbuatan dianggap sah jika memenuhi syarat dan rukun. Adapun batal adalah perbuatan yang dilakukan oleh mukallaf tidak mempunyai akibat hukum. Jumhur ulama tidak membedakan antara batal dan rusak (fasid). Misalnya, shalat dikatakan batal adalah sama dengan dikataka fasid, yaitu tidak bisa menggugurkan kewajiban. Jumhur ulama hanya membagi amal perbuatan kepada dua hal saja yaitu sah dan batal.

Aliran Hanafiyah membagi perbuatan mukallaf kedalam dua bagian:
1.    Amal perbuatan yang berhubungan dengan ibadat, adakalanya sah dan adakalanya batal. Tujuan yang hendak dicapai disini semata-mata ta’abud.
2.    Amal perbuatan yang berhubungan dengan muamalah mereka membaginya kedalam tiga bagian yaitu sah, rusak dan batal. Dan tujuan yang hendak dicapai disini adalah menciptakan kemaslahatan.

BAB III
PENUTUP


Kesimpulan
1. Hukum syara adalah seperangkat peraturan berdasarkan ketentuan Allah tentang tingkah laku manusia yang diakui dan diyakini berlaku serta mengikat untuk semua umat yang beragama Islam.
2. Hukum syara terbagi menjadi dua macam yaitu hukum taklifi dan hukum wadh’i.
3. Bentuk-bentuk hukum taklifi menurut jumhur ulama ushul fiqih/mutakallimin ada lima macam, yaitu wajib,mandub, mubah,makruh ,haram,
4. Hukum wadh’i terbagi menjadi tiga macam yaitu sebab, syarat, mani.
5. Hukum menurut ahli hukum adalah kumpulan aturan-aturan yang dapat di paksakan berlaknya oleh penguasa yang berhak.
6. Hukum menurut ahli ushul yaitu ketetntuan dari yang menetapkan syariat yang bertalian dengan perbuatan mukallaf yang mengandung tuntutan, kebolehan serta larangan yang mengandung ketentuan sebab syarat dan mani’atau halangan terlaksananya hukum.
Demikian makalah ini kami buat, sebagai manusia biasa tentu banyak sekli kesalan dan kekhilafan. Mohon bapak dosen dan teman-teman mau memberi pengarahan dan saran. Semoga makalah ini bisa ber manfaat bagi kita semua. Amin,

DAFTAR PUSTAKA

1.    Prof.Muhammad AbuZahrah,Ushul Fiqih,Pejaten Barat.
2.    Amir Syarifuddin,. 1997. Ushul Fiqh. Ciputat: Logos Wacana Ilmu

Poskan Komentar

 
Top