0
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Setiap keterampilan itu berhubungan erat pula dengan proses-proses berfikir yang mendasari bahasa. Bahasa seseorang mencerminkan pikirannya. Semakin terampil seseorang berbahasa, semakin cerah dan jelas pula jalan pikirannya. Keterampilan hanya dapat diperoleh dan dikuasai dengan praktek dan banyak latihan. Melatih keterampilan berbahasa berarti berlatih pula keterampilan berfikir. (Tarigan, 1980:1; Dawson {et al}, 1963: 27).
Pembelajaran peningkatan keterampilan berbahasa dikembalikan pada peningkatan keterampilan berbahasa. Dalam memperoleh keterampilan berbahasa, biasanya kita melalui suatu hubungan urutan yang teratur: mula-mula pada masa kecil kita belajar menyimak bahasa, kemudian berbicara, sesudah itu kita belajar membaca dan menulis. Menyimak dan berbicara kita pelajari pada saat sebelum memasuki sekolah.

Linguis berkata bahwa “speaking is language”. Berbicara adalah suatu keterampilan berbahasa yang berkembang pada kehidupan seseorang, yang hanya didahului dengan keterampilan menyimak. Berbicara sudah barang tentu berhubungan erat dengan kosa kata yang diperoleh oleh seseorang; melalui kegiatan menyimak dan membaca. Kebelum-matangan dalam perkembangan bahasa juga merupakan suatu keterlambatan dalam kegiatan-kegiatan berbahasa. Perlu kita sadari pula bahwa keterampilan yang diperlukan bagi kegiatan berbicara aktif yang efektif banyak persamaan dengan dibutuhkan bagi komunikasi efektif.

Debat adalah sebuah tahapan yang harus dilalui oleh penyedia jasa konstruksi untuk dapat mengerjakan sebuah proyek. Didalam proses debat ini penyedia jasa konstruksi atau calon kontraktor mengajukan penawaran agar dapat pemahaman tentang debat dan penggunaan keterampilan bahasa memperoleh proyek tersebut. Namun dalam proses debat sering terjadi kesalahan – kesalahan yang dilakukan peserta debat. Hal ini diakibatkan karena kurangnya yang kurang baik, sehingga kurang di perhatikan oleh para owner.

1.2 RUMUSAN DAN BATASAN MASALAH
1.2.1 RUMUSAN MASALAH
Rumusan masalah dalam karya tulis ini adalah :
1. Apa yang dimaksud dengan dabat?
2. Apa saja norma-norma debat?
1.2.2 BATASAN MASALAH
Dalam makalah ini, penulis membatasi masalah yang akan dibahas. Adapun masalah tersebut adalah tentang debat.

1.3 TUJUAN
Makalah ini dibuat dan dipresentasikan dalam mata kuliah bahasa Indonesia di Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Universitas Pendidikan Indonesia Bandung pada tanggal 20 April 2011.

BAB II
DEBAT

2.1. KETERAMPILAN BERBAHASA

Berbicara untuk melaporkan, untuk memberikan informasi, atau dalam bahasa Inggris disebut informative speaking dilaksanakan kalau seseorang berkeinginan untuk:
1) memberikan atau menanamkan pengetahuan,
2) menetapkan atau menentukan hubungan-hubungan antara benda-benda,
3) menerangkan atau menjelaskan sesuatu proses, dan
4) menginterpretasikan atau menfsirkan sesuatu persetujuan ataupun menguraikan sesuatu tulisan.

Semua hal tersebut merupakan situasi-situasi informatif karena masing-masing ingin membuat pengertian-pengertian atau makna-makna menjadi jelas. Misalnya, menanamkan pengetahuan merupakan fungsi utama segala kuliah di perguruan tinggi. Apa yang dimiliki, yang dipahami oleh sang dosen dikomunikasikan kepada para mahasiswa. Namun, suatu pernyataan sederhana terhadap fakta-fakta baru, jelaslah tidak menendai. Segala perlengkapan yang dapat meyakinkan haruslah dipergunakan untuk membuat para mahasiswa menyadari sifat atau hakekat yang dikemukakan. Itulah sebabnya maka suatu kuliah merupakan suatu situasi berbicara yang tujuan umumnya adalah pengertian atau pemahaman, dan tujuan khususnya adalah menanamkan informasi.

Pembicaraan-pembicaraan yang bersifat informatif menyandarkan diri pula pada lima sumber utama, yaitu:
1) pengalaman-pengalaman yang harus dihubung-hubungkan seperti perjalanan, petualangan, dan cerita roman/novel.
2) Proses-proses yang harus dijelaskan, seperti pembuatan sebuah buku, mencampur pigmen-pigmen untuk membuat warna, merekam, serta memotret bunyi.
3) Tulisan-tulisan yang harus dijelaskan/dipahami, seperti arti/ makna konstitusi, dan falsafah Plato.
4) Ide-ide atau gagasan yang harus disingkapkan, seperti makna estetika.
5) Instruksi-instruksi atau pengajaran-pengajaran yang harus digambarkan dan diragakan, seperti: bagaimana bermain catur, dan bagaimana cara membuat kapal.

Perlu disadari bahwa tuntutan serta pertimbangan dalam situasi-situasi informatif lebih bersifat intelektual dari pada emosional. Kita harus berusaha menempatkan segala sesuatu dalam posisi dan urutan yang mudah terlihat. Untuk dapat melakukan hal ini, kita perlu mempergunakan komparasi, kontras, jenis, spesis, dan definisi. Demikianlah, masalah atau pernyataan mengenai apakah “sesuatu“ itu dapat dijawab dengan jalan menempatkannya dalam hubungan dengan hal-hal yang telah diketahui, menunjukkan kesamaannya (komparasi) atau perbedaan (kontras); dengan cara menempatkannya dalam suatu kelas yang telah lebih diketahui (jenis); atau dengan jalan menyebutkan bagian-bagiannya (definisi). Pendekatan yang kita buat dapat bersifat deduktif atau pun induktif.

Selanjutnya, situasi-situasi yang dapat dikelompokkan ke dalam klasifikasi informatif ini, adalah sebagai berikut.
a) Kuliah, ceramah (lecture)
b) Ceramah tentang perjalanan (travelogue).
c) Pengumuman, pemberitahuan, dan maklumat (announcement).
d) Laporan (report).
e) Instruksi, pelajaran, dan pengajaran (instruction).
f) Pemberian sesuatu pemandangan atau adegan (description of a scene).
g) Pencalonan, pengangkatan, dan penunjukan (nomination).
h) Pidato atau kata-kata pujian tentang seseorang yang telah meninggal dunia (eulogy).
i) Anekdot, lelucon, dan lawak (anecdote).
j) Cerita, kisah, dan riwayat (story)
(Powers, 1951; 195-197).
Apapun tujuan yang hendak dicapai dalam suatu pembicaraan, perlu adanya suatu rencana terlebih dahulu. Dalam merencanakan suatu pembicaraan, kita harus mengikuti langkah-langkah berikut:

1) Memilih pokok pembicaraan yang menarik hati kita. Kalau pokok pembicaraan yang hendak disampaikan memang menarik hati kita sebagai pembicara, hampir-hampir dapat dipastikan akan menarik perhatian para pendengar juga. Kebanyakan orang akan lebih cenderung, mendengarkan suatu pembicaraan yang baik mengenai suatu pokok atau judul yang disenangi oleh sang pembicara dari pada suatu pembicaraan yang membosankan mengenai suatu hal yang sedikit diketahui oleh sang pembicara.

2) Membatasi pokok pembicaraan. Tidaklah mungkin menceritakan segala sesuatu secara terperinci dari setiap pokok pembicaraan dalam waktu singkat. Dengan jalan membatasi pokok pembicaraan maka mungkinlah kita mencakup suatu bidang tertentu secara baik dan menarik. Kalau kita coba mempelajari terlalu banyak hal, mau tidak mau pembicaraan kita menjadi terlalu umum dan akan meninggalkan kesan yang samar-samar pada para pendengar.

3) Mengumpulkan bahan-bahan. Andaikata kita telah biasa dengan pokok masalah yang hendak disampaikan maka yang menjadi masalah adalah mencari bahan yang lebih banyak yang diperlukan. Akan tetapi, bila kita membutuhkan bahan tambahan, kita dapat mengumpulkannya dari berbagai sumber, misalnya dari buku-buku, ensiklopedia, majalah, makalah, dan lain-lain. Dan, kalau kebetulan ada orang-orang ahli dalam bidang itu yang dapat kita hubungi, kita dapat mengadakan wawancara dengan mereka.

4) Menyusun bahan. Pembicaraan yang hendak disampaikan hendaknya (dan biasanya) terdiri atas tiga bagian, yaitu: (a) pendahuluan, (b) isi, dan (c) simpulan.
(a) Pendahuluan. Rencanakanlah menarik perhatian para pendengar dalam kalimat pembuka. Kita dapat memulai dengan suatu pertanyaan yang merangsang atau suatu pernyataan yang menimbulkan rasa ingin tahu dari para pendengar.

(b) Isi. Dalam merencanakan isi pembicaraan, kita harus membuat suatu bagan butir-butir penting yang akan ditelusuri. Rencanakanlah mempergunakan kata-kata peralihan yang akan memudahkan para pendengar mengikuti gagasan kita. Misalnya:
Pertama-tama, … kedua … ketiga … akhirnya …
Langkah pertama … langkah kedua …
Kalimat-kalimat dalam isi pembicaraan kita hendaklah bersemangat, bergairah, antusias, logis, dan spesifik.
(c) Simpulan. Simpulan sebaiknya tidak lebih dari satu atau dua kalimat. Simpulan hendaknya merangkum butir-butir penting dari pembicaraan kita. Beberapa kata terakhir hendaklah dipilih yang tepat dan baik yang diucapkan dengan penuh semangat dan penekanan.

2.2. Debat
Setelah anggota suatu kelompok mempergunakan teknik diskusi untuk mencapai penyelesaian yang paling baik terhadap suatu masalah, maka mereka pun memakai prinsip-prinsip debat untuk mempengaruhi orang lain di luar kelompok untuk menerima usul yang terpilih itu. Teknik yang satu tidak dapat digantikan oleh yang lainnya. Keduanya mempunyai bidang masing-masing yang tidak dapat dipertukarkan

Diskusi terlukis dengan jelas di dalam pertimbangan-pertimbangan mendalam yang dilakukan oleh suatu komite yang menangani tugas pengkajian serta penganjuran suatu kebijaksanaan bagi seluruh kelompok atau organisasi orang tua.

Debat terlukis dengan jelas dalam pembicaraan-pembicaraan atau pidato-pidto yang pro dan kontra dalam organisasi yang lebih besar sebelum diadakan pemilihan atau pemungutan suara ddilangsukan, menentukan kebijaksanaan yang mana yang akan diterima. Pada dasarnya debat merupakan suatu latihan atau praktek persengketaan atau kontroversi.

A. Penggunaan Debat
Dalam masyarakat demokratis, debat memegang peranan penting dalam perundang-undangan, dalam politik, dalam perusahaan (bisnis), dalam hukum, dan dalam pendidikan

Perundang-undangan. Amademen-amedemen dapat diketengahkan dan debat perlu tidaknya mengenai amdemen-amademen akan mendahului tindakan yang akan diambil terhadapnya. Kalau dalam perdebatan kedua belah pihak mengemukakan suatu analisis yang lengkap mengenai kegunaan dan kelemahan rencana undang-undang itu, maka para pembuat undang-undang (legislator) haruslah siap melaksanakan pemungutan suara(voting) terhadap masalah itu.

Politik. Selama kampanye-kampanye politik berlangsung, debat-debat bersama memudahkan pra pemilih atu pemberi suara mendengar para calo yang bertentangan salaing mempertahankan pendapat dan menyerang kekemahan lawan.

Bisnis. Dewan pimpinan dan komite-komite eksekutif dalam suatu perusahaan, disamping diskusi, mempergunakan juga debat untuk memperoleh keputusan dalam berbagai kebijakan

Hukum. Dalam kantor-kantor pengadilan, kehidupoan seseorang sering kali tergantung pada debat yang terjadi anatara pihak penuntut dan pembela, dimuka dewan juri atau hakim, hak-hak milik, hak-hak penduduk, tuntutan-tuntutan kerugian, dan banyak lagi masala h kewarganegaraan yang membutuhkan keputusan hakim.

Pendidikan. Pada beberapa kampus perguruan tinggi di universitas, debat telah menjadi suatu sarana penting untuk memperkenalkan komunitas atau masyarakat tersebut dengan masalah-masalah yang hangat diperbincangkan kehidupan sehari-hari. Debat yang demikian bermanfaat sekali apabila dibarengi oleh komentor-komentor yang terperinci, analitis oleh suatu panel yang terdiri dari tiga atau empat orang ahlidan dilanjut dengan forum tanya jawab. (Mulgrave, 1954 :64-65)

B. JENIS-JENIS DEBAT

Berdasarkan bentuk maksud dan metodenya debat diklasiikasikan menjadi :
1. Debat parlementer / majelis
2. Debat pemeriksaan ulangan untuk mengetahui kebenaran pemeriksaan terdahulu
3. Debat formal, konvensional, atau debat pendidian
Ketiga tipe ini dipergunakan di sekola-sekolah dna pergurauan tinggi , namun debat parlemeneter merupakan ciri- badan legislatif. Debet pemeriksaan ulanagan aadalah suatu teknik yang dikembangkan di kantor-kantor pengadilan dan debta formal berdasarkan pada konversi-konversi debat bersama secar politis (Mulgrave, 1954 :650)
1. Debat Majelis atau Debat Parlementer
Maksud dan tujuan debat majelis adalah untuk memberi dan menambah dukungan bagi undang –undang tertentu dan semua anggota yang ingin menyatakan pandangan dan pendapatnya,berbicara mendukung atau menentang usul tersebut setelah mendapat izin dari majelis. Pembatasan-pembatasan waktu berdebat dapat diatur oleh tindakan parlementer majelis itu.
2. Debat Pemeriksaan Ulangan
Debat ini merupakan suatu bentuk perdebatan yang lebih sulit dan menuntut persiapan yang lebih matang dari pada gaya perdebatan formal.Prosedurnya , adalah sebagai berikut .
a) Pembicara afirmatif yang pertama menyampaikanpidato resminya. Segera setelah itu,dia diperiksa dengan teliti oleh pembicara negatif yang pertama.

b) Setelah tujuh menit pemeriksaan,sang penanya di beri kesempatan selama empat menit untuk menyajikan kepada para pendengar pengakuan-pengakuan apa yang telah diperolehnya dengan pemeriksaan ulang itu. Dia dibatasi pada apa-apa yang telah diperolehnya secara aktual dengan pengakuan-pengakuan itu,dan tidak di perkenankan memperkenalkan fakta-fakta atau argumen-argumen baru.

c) Selanjutnya, anggota pembicara negatif yang kedua mengemukakan kasus negatif,dan seterusnya diteliti ulang oleh pembicara afirmatif yang kedua.teknik ini memang agak sulit dan menuntut keterampilan berbahasa yang tinggi yang ada hubungannya dengan pokok permasalahannya.

Maksud dan tujuan debat ini adalah mengajukan serangkaian pertanyaan yang satu dan lainnya berhubungan erat, yang menyebabkan para individu yang ditanya menunjang posisi yang hendak ditegakan dan di perkokoh oleh sang penanya. Setiap pertanyaan haruslah disampaikan dengan tepat dan jawabanya haruslah singkat, lebih disukai ya atau tidak . batas waktu dari setiap pembicara telah ditetapkan sebelumnya,biasanya 8 -15 menit perorang.

3. Debat Formal
Tujuan debat formal adalah memberi kesempatan bagi dua tim pembicara untuk mengemukakan kepada para pendengar sejumlah argumen yang menunjang atau membantah suatu usul. Setiap pihak diberi jangka waktu yang sama bagi pembicara-pembicara konstruktif dan bantahan.

C. SYARAT-SYARAT SUSUNAN KATA PROPOSIS
Proposisi atau usul menentukan ruang lingkup dan pembatasan-pembatasan suatu perdebatan. Bergantung kepada tipe debat yang dilaksanakan, maka suatu usul mungkin merupakan suatu mosi, suatu resolusi, atau suatu rancangan undang-undang yang yang akan diputuskan oleh suatu majelis parlementer. Sang pembicara hendaklah meneliti agar usulnya sudah jelas memenuhi tuntutan-tuntutan atau syarat-syarat tersebut, yaitu:
1) Kesederhanaan
Usul-usul yang rumit dan berbelit menyebabkan analisis yang sukar. Semakin sederhana suatu pernyataan maka semakin bergunalah bagi perdebatan yang sedang berlangusng
2) Kejelasan
Pernyataan-pernyataan yang samar-samar dan tidak jelas menimbulkan beragam penafsiran yang timbul dalam perdebatan yang membingungkan.
3) Kepadatan
Kata-kata hendaklah dipergunakan sedikit dan sepadat mungkin. Kebertele-telean atau kepanjang lebaran akan mengakibatkan suatu usul menjadi tidak praktis dan menyebabkan salah pengertian.
4) Susunan kata afirmatif
Usul yang negative seakan-akan dapat memutarbalikan posisi-posisi afirmativ dan negative. Susunan kata suatu usul hendaklah bersifat afirmativ atau mengiyakan jangan bersifat negative atau meniadakan.
5) Pernyataan Deklaratif
Suatu pernyataan yang tegas lebih disukai, lebih baik daripada suatu pertanyaan. Pertanyaan pada umumnya dipergunakan bagi diskusi karena maksud dan tujuannya adalah menyelidiki. Pernyataan diperlukan bagi debat karena maksud dan tujuan adalah untuk menyokong dan membela.
6) Kesatuan
Sebuah gagasan tunggal sudah cukup bagi satu perdebatan. Misalnya usul “ Badan pembuat undang-undang haruslah mengadakan pemilihan wajib dan haruslah membuat regristrasi tetap” mengadung dua pokok perdebatan yang berbeda: “pemilihan wajib” dan “registrasi tetap”.
7) Usul Khusus
Usul-usul yang bersifat umum akan mengakibatkan perdebatan-perdebatan yang terpencar dan tidak memuaskan
8) Bebas dari Prasangka
Bahasa yang berprasangka akan memperkenalkan asumsi-asumsi atau praanggaran yang tidak tepat ke dalam usul.
9) Tanggung Jawab untuk Memberikan Bukti yang Memuaskan Terhadap Afirmatif
Susunan kata usul hendaknya dibuat sebaik dan secepat mungkin sehingga pembicara afirmatif akan menganjurkan serta menyokong suatu perubahan.

D. POKOK-POKOK PERSOALAN
Untuk memeroleh pokok-pokok persoalan yang menarik serta merangsang bagi suatu perdebatan, sepatutnyalah pembicara mempertimbangkan masak-masak mengapa usul atau proposisi yang dikemukakannya merupakan masalah penting bagi perdebatan pada saat ini. Pembicara haruslah membatasi secara tegas dan tepat segala istilah yang terdapat pada proposisi tersebut. Dia harus menentukan dengan tegas apa yang harus diakui/diterima, dilepaskan, atau dikeluarkan karena tidak ada hubungannya dengan masalah yang dikemukakan. Masalah-masalah utama akan membuahkan pokok-pokok persoalan dasar dalam perdebatan dan selanjutnya membimbing ke arah pokok-pokok persoalan tambahan.

Terhadap usul-usul yang ada kaitanya dengan kebijaksanaan, biasanya tiga persediaan pokok persoalan dapat dimanfaatkan, yaitu :
1) Apakah diperlukan suatu perubahan ?
2) Apakah usul itu menawarkan terbaik yang mungkin dibuat ?
3) Apakah usul itu memberikan kerugian-kerugian yang lebih besar ketimbang keuntungan-keuntungan yang diharapkan ?

E. PERSIAPAN LAPORAN SINGKAT

Hal ini dimaksudkan untuk merekam bentuk kalimat uraian mengenai usul yang diajukan oleh pembicara. Laporan singkat dapat mencerminkan yang sewajarnya, maka seorang pembicara pun telah mengetahui setiap aspek masalah yang berhubungan dengan masalah lainnya. Pembicara hendaklah mempersiapkan laporan singkat afirmatif dan negatif untuk mengetahui kasus bagi kedua belah pihak.

1. Bentuk dan pengembangan laporan
Laporan singkat hendaknya mempergunakan simbol-simbol yang tetap dengan susunan : angka-angka romawi, huruf-huruf capital, huruf-huruf, arab, huruf-huruf non capital. Dalam pendahuluan hubungan maju langkah demi langkah dari umum ke khusus menuju penalaran-penalaran terhadap fakta-fakta. Segala pernyataan haruslah diserasikan dengan baik.
2. Bagian-bagian laporan
Suatu laporan terdiri atas tiga bagian, yaitu : a) pendahuluan,
b) isi,
c)kesimpulan.
Biasanya pendahuluan terdiri dari :
1) alasan pengadaan diskusi
2) asal usul masalah
3) batasan istilah-istilah
4) masalah yang diakui
5) hal-hal yang tidak relevan
6) pendirian-pendirian utama pihak afirmatif
7) pokok-pokok permasalahan
Isi laporan membuat argument-argumen dan fakta-fakta penunjang bagi pihak afirmatif dan negatif. Argumen utama merupakan jawaban-jawaban terhadap pokok-pokok persoalan. Untuk menguji hubugan setiap argumen kata sebab atau karena dapat disisipkan dibelakang setiap pernyataan dalam isi laporan.

Kesimpulan laporan mengikhtiarkan secara berurutan argument-argumen utama dalam bentuk “anak kalimat sebab“ atau “klausa selagi” yang diikuti atau “maka dengan demikian”. Bagian afirmatif dan negative masing-masing mempunyai kesimpulan sendiri, yang jelas bertentangan satu dan lainya.

F. PERSIAPAN PIDATO DEBAT
Para anggota debat haruslah mempersiapkan dua jenis pidato yang berbeda yaitu :
1.PidatoKonstruktif
Setiap anggota debat haruslah merencanakan suatu pidato konstruktif yang diturunkan dari argumen – argumen dan fakta – fakta dalam laporannya serta disesuaikan dengan kebutuhan – kebutuhan para pendengarnya maupu argumen – argumen yang timbul dari para penyanggahnya.

Pidato – pidato hendaklah tetap bersifat fleksibel pada pendahuluan sanggahan kalau perlu dan juga bagi kesinambungan penyesuaian terhadap argumen – argumen yang dikemukakan olehoposisi. Karena waktu yang tersedia bagi pembicara atau pidato debat memang terbatas, masalah yang dipilih serta usul yang diajukan dalam pengembangan kasus merupakan pertimbangan – pertimbangan penting, merupakan konsiderasi – konsiderasi utama. Hal – hal yang harus ditekankan, fakta – fakta yang paling persuasif, minat serta kepercayaan umum atau khusus para pendengar yang dapat dimanfaatkan, serta susunan ide – ide yang akan dapat menimbulkan daya pikat yang paling kuat.

Untuk menemui serta memenuhi segala tuntutan bagi persiapan pidatonya, pembicara debat hendaklah menelaah baik masalah – masalah yang bersifat argumentatif maupun yang persuasif. Dimana akan menemui segala hal yang perlu sekali bagipersiapan pidato, dalam pembuktian kasus nya, dalam penemuan oposisi, dan dalam menarik perhatian serta meyakinkan para pendengar.

2.Pidato Sanggahan
Dalam pidato sangahan tidak diperkenankan adanya argumen – argumen konstruktif yang baru. Akan tetapi fakta – fakta tambahan demi memperkuat yang telah dikemukakan dapat diperkenalkan dalam mengikhtisarkan kasus tersebut.

Pidato sanggahan tidak dapat dikatakan baik dan sempurna kalau ternyata gagal memperlihatkan kekuatan kasusu tersebut secara keseluruhan. Sang pembicara hendaknya mengakhiri serta menyimpulkan pembicaraannya dengan cara mengarahkan kembali perhatian para pendengar kepada pokok – pokok persoalan utama dalam perdebatan itu dan dengan jalan memperlihatkan secara khusus bagaimana pembuktiannya menjawab masalah –masalah tersebut secara lebih memuaskan ketimbang yang dilakukan oleh kasus penentang atau oposisinya itu.

G.SIKAP DAN TEKNIK BERDEBAT
Para anggota debat yang tidak berpengalaman acap kali menimbulkan kebencian para pendengar karena sikap mereka yang suka bertengkar, suka bercecok, dan menganggap dirinya selalu benar. Seorang pedebat haruslah bersifat rendah hati, wajar, ramah, dan sopan tanpa kehilangan kekuatan dalam argumen – argumennya. Dia harus menghindarkan pernyataan yang berlebih – lebihan terhadap kasus nya dan mempergunakan kata – kata dan ekspresi – ekspresi yang samar – samar yang tidak di kehendaki oleh fakta – fakta nya.

Dalam halini mereka mrnghadapi kemungkian dan bukan kepastian mereka harus yakin bahwa tidak mengemukakan sesuatu yang tidak ingin dan tidak dapat diterima oleh para pendengar. Para anggota debat tidak mengizinkan diri mereka berbuat marah karena adanya sindiran tajam ataupun tuduhan tidak langsung dari para lawan mereka.sikap tenang dan santai serta sopan santun terhadap para lawan dan para pendengar akan menimbulkan kesan yang paling baik.

Pada setiap peristiwa pembicara harus engingat bahwa tujuan utama nya adalah komunikasi langsung dan persuasif dengan para pendengarnya. Harus dijaga benar – benar agar tujuan utama ini jangan tersingkir oleh hal – hal kecil yang tidak penting sama sekali.

H.KEPUTUSAN

Dalam suatu badan legislatif, keputusan terhadap suatu perdebatan diadakan dengan cara pemungutan suara atau voting, resolusi, atau rancangan undang – undang. Dalam kantor pengadilan keputusan yang diambil oleh hakim atau juri. Dalam perdebatan – perdebatan yang berhubungan dengan pendidikan, keputusan mempunyai jenis yang beraneka ragam. Beberapa perdebatan diadakan tanpa suatu keputusan resmi diantaranya :

1. Jenis jenis keputusan pada perdebatan antar perguruan tinggi
Pada perdebatan antar perguruan tinggi, keputusan dapat diambil dengan cara pemungutan suara dari pendengar, suatu komite hakim atau juri maka seorang hakim juga dapat menyajikan suatu kritik yaitu :

a. Keputusan oleh para pendengar. Apabila suatu pemungutan suara dilemparkan kepada para pendengar, maka kepeda mereka dapat diminta untuk mengemukakan pendapat terhadap usul itu sendiri setelah mempertimbangkan argumen pada kedua belahpikah, atau kegunaan perdebatan, ataupun keduanya.

b. Keputusan oleh para hakim. Karena para pendegar belum tentu merupakan orang yang ahli dalam teknik pengambilan keputusan mengenai mnfaat perdebatan lebih baik keputusan seorang hakim yang ahli dalam teori perdebatan. Mereka mungkin mengadakan perundingan untuk mecapai suatu keputusan.

c. Keputusan dengan kritik. Pada masa akhir ini telah sering diadakan keputusan dengan kritik. Seorang ahli mengenai argumentasi dan perdebatan diundang untuk memberikan suatu keputusan mengenai perdebatan itu dan suatu keputusan mengenai karya para pendebat. Diapun dapat mengomentari aspek dasar dan penampilan

2. perdebatan tanpa keputusan resmi
Diskusi itu akan memperlihatkan sampai dimana taraf dan kemampuan para pendengar dan pertanyaan-pertanyaan yang di ajukan akan mencerminkan butir-butir yang belum dibuat jelas, serta argument-argumen yang tidak ditunjang secara memuaskan. Banyak perguruan tinggi yang lebih mengutamakan perdebatan tanpa keputusan karena mereka ingin memusatkan perhatian terhadap pemberitahuan atau pelaporan kepada para pendengar saja.

3. pentingnya keputusan
Orang-orang yang bertanggung jawab terhadap penataan perdebatan hendaknya memilih hakim-hakim yang berwenang dan tidak berprangsangka sehingga keputusan yang diambil benar-benar jujur, adil dan tepat sasaran. Penekanan yang berlebihan akan mengubah program perdebatan dan membuatnya menjadi pertandingan belaka.

I. TURNAMEN DEBAT
Turnamen debat mempunyai beberapa nilai yang berhubungan dengan pendidikan. Sebagai latihan tunggal suatu program debat memberi keuntungan yang tidak sedikit. Tetapi tujuan dari suatu masa perdebatan hal itu akan mengarah pada tujuan yang salah. Bahayanya ialah para pastisipan beranggapan bahwa keputusan yang memenangkannya merupakan criteria utama keberhasilan.

1. Prosedur turnamen debat
Prosedur yang lazim disuatu turnamen debat ialah turut mengundang beberapa lembaga untuk mengirimkan suatu tim afirmati dan suatu tim negative. Bagi perdebatan mengenai sebuah suatu tema, pasangan-pasangan yang berdebat sebaiknya adalah kelipatan empat, contohnya kita analogikan 16, masing-masing tim berarti mempunyai 16 perdebatan pada putaran pertama. Selanjutnya pada putaran kedua 16 tim pendebat dieliminasi oleh seorang hakim yang akhirnya didapatkan tim yang tersisih dan yang melanjutkan ke putaran kedua.

2. Masalah-masalah dalam turnamen debat
Yang menjadi masalah pokok turnamen debat ini adalah menemukan sejumlah hakim yang cukup berwenang untuk member keputusan-keputusan yang akan mendapat respek. Masalah lain adalah daya tahan dari semua yang bersangkutan mewajibkan perdebatan yang berkesinambungan selama beberapa jam mengenai suatu masalah. Ketika para anggota debat beranggapan tujuan utama karir berrbicara mereka selaku mahasiswa tingkat prasarjana, perdebatan itu hendaklah mempertimbangkannya serta menyesuaikannya dengan tujuannya

J. NORMA-NORMA DALAM BERDEBAT DAN BERTANYA
1. norma-norma dalam berdebat
Semua pembicara hendaknya memiliki:
a. Pengetahuan mengenai pokok pembicaraan
b. Kemampuan menganalisis
c. Pengertian mengenai prinsip-prinsip argumentasi
d. Apresiasi terhadap kebenaran fakta-fakta
e. Kecakapan menemukan buah pikiran
f. Keterampilan dalam membuktikan kesalahan
g. Keteraarahan, kelancaran dalam penyampaian pidato (Mulgrave, 1954:75)
2.norma-norma bertanya
a. mengetahui yang akan didiskusikan sebelum bertanya
b. bersungguh-sungguh dalam mencari informasi
c. janganlah kita ingin menguji pembicara
d. singkat dan tepat
e. tidak terlalu berbelit-belit
f. hindarkan pertanyaan dari prasangka emosional
g. pertanyaan mempunyai tujuan tertentu yaitu mencari penjelasan dan fakta-fakta yang telah dikemukakan pembicara.
h. ajukanlah pertanyaan-pertanyaan khusus
I.hindarkan cara berfikir yang tidak masuk akal dengan tidak untuk mendemonstrasikan keterampilan kita sendiri (powers,1951:311).

BAB III
SIMPULAN DAN SARAN
3.1. SIMPULAN
Simpulan dari pembahasan diatas adalah:
Debat merupakan suatu argumen untuk menentukan baik tidaknya suatu usul tertentu yang didukung oleh satu pihak yang disebut pendukung / afirmatif, dan ditolak, disangkal, oleh pihak lain yang disebut penyangkal atau negatif
3.2. SARAN
Penulis mempunyai saran-saran yaitu:
- Sebaiknya dalam debat kita menggunakan bahasa yang baik dan benar
- Jangan menggunakan emosi ketika berpendapat maupun menyanggah
- Menerima kritikan dan saran
DAFTAR PUSTAKA
Tarigan, Henry Guntur.1981. Berbicara Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.

Poskan Komentar

 
Top