.

pengertian rukyat dalam islam

PEMAKAIAN ALAT RUKYAT DALAM KONTEKS FIQIH
Oleh : Moh. Thoriq

I.    PENDAHULUAN.

Alhamdulillahi robbil alamin, segala puji bagi Allah SWT. Atas limpahan hidayah, taufiq, serta i'anahnya kepada kita semua. Shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada beliau Nabi Muhammdad SAW. Nabi yang menunjukkan kepada kita semua jalan yang terang, sehingga kita dapat membedakan mana yang haq dan mana yang bathil

Pada kurun waktu ini, terasa perlu ditumbuhkan methode yang tepat dalam penentuan awal waktu yang benar benar ilmiah dan terpadu dengan kaidah syar'i, penggunaan pemikiran yang matematis dan teori probabelitas yang terdukung oleh data serta teguh berpegang pada kaidah syar'i perlu tetap dikembangkan dalam kegiatan rukyat dan hisab di Indonesia. Hisab dan rukyat adalah dua hal yang sangat penting bagi ummat islam, sebab pelaksanaan ibadah dalam ajaran islam banyak yang dikaitkan dengan hasil dari kedua hal tersebut.

Sistem hisab dan rukyat ternyata mampu menjembatani penyeragaman pandangan serta sikap umat Islam di Indonesia dalam menentukan saat pelaksanaan ibadah merkeka, mendekatkan pola dan cara perhitungan hisab di indonesia, saggup memadukan dengan serasi  antara pandangan ahli hisab dengan pandangan ahli rukyat. Kalau semula dianggap bahwa antara hisab dan rukyat bisa bertentangan dan memang pernah menjadi alasan untuk pertentangan di antara umat islam,  ternyata kita dapat menunjukan perpaduan dan keserasiannya. Hisab dan rukyat justru saling kait mengkait  dan saling bantu membantu. Hisab yang menyediakan data bagi pelaksanaan rukyat, mendukung pelaksanaan rukyat betul betul benar dan tepat, baik tentang posisi hilal, saat pengamatan maupun penggunaan peralatannya. Rukyat yang dilaksanakan dengan pedoman dan nilai ilmiyah, berfungsi menguji kebenaran perhitungan hisab dan dapat dimanfaatkan untuk koreksi.

Aspek probabilitas perlu dikembangkan sebagai bahan penentuan kegiatan rukyat dan hasilnya yang bermanfaat untuk penentuan hari hari besar. Kemampuan sistem memadu hisab dan rukyat dapat menembus benteng kekakuan pandangan antara para ahli hisab  disatu pihak dan para ahli rukyat dipihak lain. Bukan hanya terbatas ditingkat nasional atau regional saja, tatapi bahkan sampai ketingkat internasional. Konsep yang memadukan dengan serasi antara hisab dan rukyat ternyata mampu meredakan ketegangan dan dapat diterima oleh kelompok ahli rukyat dan kelompok ahli hisab. Sudah barang tentu semuanya belum berjalan sempurna seperti yang kita harapkan, karena disana sini masih juga ada perbedaan.

BABI 
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Rukyat
1.    Dari segi bahasa
 “Rukyat” (    رؤية   ) adalah lafadz bahasa arab yang berarti “ melihat “ kata kerjanya (راى ).
Ra a (راى ) mempunyai beberapa mashdar , antara lain rukyan (رؤيا) dan Rukyatan (رؤية). Rukyan berarti “mimpi” (المنامما تراة فى ), sedangkan rukyatan berarti “melihat dengan mata atau dengan akal atau dengan hati “ (نظر بالعين اوبالعقل اوبالقلب ). Kedua mashdar mempunyai isim jamak yang sama, yaitu Ru an (رؤى).

Dalam penggunaan sehari-hari, lafadz dengan pengertian seperti diatas jarang dipakai. Lafadz “rukyat” sudah merupakan istilah yang biasa dipakai oleh para ahli fiqih atau masyarakat luas untuk pengertian melihat bulan baru “Rukyatul Hilal” yang ada kaitannya dengan bulan qomariyah.

2.    Dari segi istilah
Pengertian dari segi istilah mengalami berbagai perkembangan sesuai dengan fungsi dan kepentingan penggunaannya.

Semula, pengertian rukyat adalah melihat hilal pada saat matahari terbenam pada akhir bulan Sya’ban atau Romadlan dalam rangka menentukan awal bulan qomariyah berikutnya. Jika pada saat  matahari terbenam tersebut hilal dapat dilihat , maka malam itu dan keesokannya merupakan tanggal satu bulan baru, sedangkan jika hilal tidak tampak maka malam itu dan keesokannya merupakan tanggal 30 bulan yang sedang berlangsung, atau dengan kata lain, bulan yang sedang berlangsung DIISTIKMALKAN (disempurnakan) menjadi tiga puluh hari.

Pengertian tersebut didasarkan kepada hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Bukhori Muslim dari Abu Hurairah “ Berpuasalah kamu sekalian jika melihat hilal dan berbukalah jika melihatnya, jika keadaan mendung maka sempurnakanlah bilangan Sya’ban 30 hari “  

Pengertian seperti tersebut diatas menunjukkan bahwa rukyat hanya dilakukan pada akhir bulan Sya’ban dalam rangka awal bulan Ramadlan dan pada akhir bulan Ramadlan dalam rangka menentukan awal bulan Syawal.

Dalam perkembangan selanjutnya, “Rukyatul Hilal” tersebut tidak hanya dilakukan pada akhir Sya’ban dan Ramadlan saja, namun juga pada bulan-bulan lainnya terutama menjelang awal-awal bulan  yang ada kaitannya dengan waktu pelaksanaan ibadah atau hari-hari besar Islam, seperti bulan Dzul Hijjah, Muharram, Rabiul Awal dan Rajab. Bahkan untuk kepentingan pengecekan hasil hisab serta melatih keterampilan pelaksana, “melihat hilal” tersebut dilakukan setiap awal bulan qomariyah. Sehingga dengan demikian pelaksanaan rukyat tidak hanya dilakukan pada awal Ramadlan dan Syawal saja namun juga dapat dilakukan pada awal bulan-bulan qomariyah lainnya.

Jika kita lihat dari sarana yang dipergunakan, semula pelaksanaan rukyat hanya dilakukan dengan mata telanjang, tanpa alat, dan hanya melihat kearah ufuk bagian barat,  tidak tertuju pada suatu posisi tertentu. Dari keadaan seperti ini timbul istilah rukyat bil’aini atau rukyat bil fi’li.

Setelah kebudayaan manusia semakin maju, maka pelaksanaan rukyatpun secara berangsur dilengkapi dengan sarana serta berkembang terus menuju kesempurnaan sesuai dengan perkembangan tehnologi, maka pelaksanaan rukyat dapat mengarahkan pandangan kesuatu posisi tempat hilal berada, diatas ufuk bagian barat, sehingga pandangan tidak ngawur dan konsentrasi dapat dicapai dengan baik. Bahkan lebih jauh dari itu, dengan dibantu oleh alat maka gerak hilal dapat diikuti terus menerus, walaupun pada prakteknya hilal tidak tampak karena faktor cuaca,misalnya. Dan jika hilal berhasil dilihat, maka gambarnya akan dapat diabadikan serta posisi dan waktunya dapat diukur dengan tepat dan meyakinkan.

Penggunaan alat yang baik dan hasil perhitungannya yang akurat akan dapat membantu dalam pelaksanaan rukyat, sehingga hasilnya dapat dipertanggung jawabkan dan dapat dijadikan data bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Rukyat yang demikian ini dalam dunia astronomi dikenal dengan istilah Observasi. 

B.    Dasar Hukum Rukyat

Dalam Al Qur’an tidak ada  satu ayatpun yang tegas memerintahkan rukyat dalam menentukan awal bulan qomariyah. Namun demikian al Qur’an banyak pula mengemukakan tentang gerak dan keadaan benda-benda langit, terutama bulan dan matahari, serta dikaitkan dengan periode bulan qomariyah. Diantara ayat-ayat tersebut adalah Surat Yunus ayat 5,

Yang artinya:
Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak[669]. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.

Kata-kata وقدره منازل disambung dengan عدد السنين لتعلموا menunjukkan bahwa bilangan yang dimaksud oleh ayat tersebut adalah tahun qomariyah, sebagai rangkaian dari bulan-bulan qomariyah. Dalam surat Yasin ayat 39 disebutkan bahwa Allah menjadikan manzilah –manzilah bulan, sehingga setelah bulan menduduki manzilah terakhir, ia mempunyai bentuk seperti tanda tua (bulan sabit).

Bentuk bulan seperti terlihat dari bumi, setiap hari mengalami perubahan. Mula-mula kecil seperti tanda tua, kemudian membesar dan menjadi setengah lingkaran, lalu purnama satu lingkaran penuh, kemudian mengecil kembali, lalu menghilang dan akhirnya muncul kembali berbentuk seperi tanda tua yang digambarkan pada ayat tersebut diatas.

Periode perubahan bentuk bulan tersebut  sebagai akibat perpindahan menelusuri satu manzilah kemanzilah lainnya dan merupakan periode pergantian waktu bulan qomariyah. Bentuk bulan seperti tanda tua adalah bentuk bulan yang terjadi pada awal bulan qomariyah.

Ayat-ayat Al Qur’an lainnya yang berkaitan dengan benda-benda langit dan penetapan awal bulan qomariyah adalah : Al Baqoroh 189, Al Isro’ 12, At taubah 36, An Nahl 16, Al Hijr 16, Al anbiya’ 33, Al An’am 96 dan 97, Yasin 38, 39 dan 40, Arrohman 5 dan 33, dan lain-lain.

Pada ayat-ayat Al Qur’an  diatas tidak ada satu pun yang memerintahkan rukyat dalam penetapan awal bulan qomariyah, maka dalam hadist Nabi Muhammad SAW dapat kita jumpai dengan jelas dan tegas perintah-perintah untuk melakukan Rukyatul Hilal.

Hadist-hadist tersebut antara lain :
صوموا لرؤيته وافطروا لرؤيته فان غبى عليكم فاكملوا العدد
Artinya : Berpuasalah kamu jika melihat hilal dan berbukalah kamu jika melihat hilal. Jika mendung maka sempurnakanlah bilangan (hari pada bulan yang berlangsung, tiga puluh).

اذا رايتموا الهلال فصوموا واذا رايتموه فافطروا فان غم عليكم فصوموا ثلاثين
Artinya : Jika kamu melihat hilal maka berpuasalah, dan jika kamu melihat hilal berbukalah, jika mendung berpuasalah tiga puluh hari. 

صوموا لرؤيته وافطروا لرؤيته فان اغمى عليكم فاقدروا له ثلاثين
Artinya : Berpuasalah kamu jika melihat hilal,  dan berbukalah kamu jika melihat hila, Jika mendung maka takdirkanlah tiga puluh hari. 

اذا رايتموا الهلال فصوموا واذا رايتموه فافطروا فان غم عليكم فاقدروا له.
Artinya : Jika kamu melihat hilal maka berpuasalah, dan jika kamu melihat hilal maka berbukalah, jika mendung maka takdirkanlah,

صوموا لرؤيته وافطروا لرؤيته فان غبي عليكم فاكملوا عدة شعبان ثلاثين
Artinya : Berpuasalah kamu jika melihat hilal, dan berbukalah jika melihat hilal. Jika mendung maka sempurnakanlah bilangan bulan Sya’ban tiga puluh hari.

صوموا لرؤيته وافطروا لرؤيته فان حال بينكم وبينه سحاب فاكملوا العدة ثلاثين، فلا تستقبلوا الشهر استقبالا
Artinya : Berpuasalah kamu jika melihat hilal, dan berbukalah jika melihat hilal. Jika antara kamu dan hilal terdapat awan maka sempurnakanlah bulan yang sedang berlangsung tiga puluh hari. Janganlah sekali-kali mendahului bulan.

Berdasarkan hadits-hadits tersebut diatas, sebagaian fuqoha menetapkan bahwa melaksanakan rukyatul hilal untuk menentukan awal bulan Ramadlan dan Syawal adalah wajib kifayah, sedangkan sebagian fuqoha lainnya menetapkan tidak demikian.

Sebagian fuqoha memandang rukyat adalah salah satu cara dalam menetapkan awal bulan qomariyah, dan cara lainnya adalah dengan hisab. Jadi rukyat bukannya satu-satunya cara menetapkan bulan qomariyah.
Disebutkan dalam kitab Tuhfatul Muhtaj sebagai berkut : yang artinya, “ Bila (hisab) qoth’iy telah menunjukkan atas wujudnya hilal, setelah terbenamnya matahari, sehingga dapat dilihat, namun dalam prakteknya tidak dapat dilihat, sepatutnya dianggap cukup.

Demian pula Ibnu Rusyd dalam Bidayatul Mujtahid telah menulis sebagai berikut : yang arinya “ Diriwayatkan dari sebagian ulama salaf, bahwa jika hilal tertutup awan, maka ia kembali kepada hisab yang berdasarkan perjalanan  bulan dan matahari. Itulah madhabnya Muthorof bin suhair, termasuk ulama besar Tabi’in. Dan Ibnu Suraij bercerita  dari imam syafi’i bahwa imam Syafi’i berkata : Orang –orang yang mazdhapnya itu mengambil pedoman dengan bintang-bintang dan kedudukan bulan, kemudian jelas baginya bahwa hilal telah dapat dilihat namun tertutup awan. Maka orang tersebut boleh menjalankan puasa. 

Terlepas dari perbedaan pendapat para fuqoha seperti tersebut diatas. Pelaksanaan rukyat adalah suatu hal yang sangat penting dan harus dilakukan oleh para petugas Badan Peradilan Agama sesuai dengan wewenangnya. 


C.    Peranan Rukyat

Pelaksanaan rukyat yang dilakukan oleh masyarakat luas pada tanggal 29 Sya’ban dan 29 Ramadlan mempunyai peran yang sangat menentukan dalam penetapan awal bulan Ramadlan dan Syawal. Walaupun para ulama berlainan pendapat tentang wajibnya  pelaksanaan rukyat pada kedua tanggal tersebut namun mereka sepakat bahwa laporan “Telah Melihat Hilal”  yang dilakukan oleh saksi yang adil  merupakan alat bukti untuk menetapkan awal bulan Ramadlan dan Syawal. Jika itu terjadi  maka seluruh kaum muslimin  seluruh negeri akan serempak melaksanakan ibadah puasa  atau hari raya pada hari yang sama. Tidak ada alasan bagi kaum muslimin untuk menolak penetapan awal bulan berdasarkan kesaksian tersebut. Dengan demikian maka kesatuan umat dan kekompakan akan tetap terjamin .

Selain hal tersebut diatas, pelaksanaan rukyatpun mempunyai peran yang sangat besar dalam melakukan kontrol terhadap suatu hasil perhitungan. Sebagai mana diketahui bahwa dikalangan kaum muslimin terdapat aneka ragam sistim perhitungan awal bulan qomariyah yang berbeda satu sama lain. Perbedaan itu meliputi cara dan data yang dipergunakan. Pada umumnya sistim-sistim tersebut menggunakan data astronomis sebagai hasil penelitian para ahli dimasa yang sudah cukup lama dan mempergunakan sistem tabel. Tidak kurang dari 5 (lima) sistim  perhitungan yang berkembang di Indonesia mempergunakan data dan sistim seperti tersebut diatas. Keistimewaan dari sistim ini, perhitungan dapat dilakukan dengan sederhana, mudah dan cepat tanpa harus mencari data baru dan mengerti ilmu ukur bola, namun kelemahannya tidak memperoleh hasil yang tepat.

Dari hasil pelaksanaan rukyat yang dilakukan secara terarah, teliti dan berkali-kali, kita dapat memperoleh suatu kesimpulan  sistim dan data perhitungan mana yang mendekati kebenaran dan dapat dijadikan pegangan. Disamping itu,  kita dapat melatih keterampilan serta memperoleh  pengalaman yang berharga dalam cara melaksanakan rukyatul hilal.

Dalam prakteknya, pelaksanaan rukyatul hilal  tidak hanya untuk melihat hilal semata,  namun  juga kita banyak hal-hal lain yang sangat perlu dikuasai oleh seorang yang akan observasi seperti mencocokkan waktu, menentukan arah geografis, melakukan pengukuran ketinggian suatu benda langit dan sebagainya.

Melihat hilal itu sendiri adalah pekerjaan yang sangat sulit untuk dapat dilakukan. Hal ini disebabkan umur bulan  setelah  ijtimak  masih sangat muda dan posisinyapun masih sangat dekat dengan matahari, sehingga sinar yang dipantulkan masih sangat kecil dan warnanya pun  tidak  begitu kontras dengan warna langit yang melatar belakanginya. Oleh karena itu  sangat jarang orang  dapat berhasil melihat hilal tanggal satu. 

D.    Pandangan Ulama Tentang Penggunaan Alat Rukyat.

Rukyat bil fi’li dengan menggunakan alat (Nazharah) sampai saat ini belum ada kesepakatan diantara para ulama, Ada beberapa pendapat yang dapat dijadikan acuan :
1.    Pendapat Ibnu Hajar yang menyatakan tidak boleh Rukyat dengan menggunakan alat sebangsa kaca (nahwi mir’atin). (Tuhfatul Muhtaj, 3:382).

2.    Pendapat Asysyarwani yang menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan sebangsa kaca adalah air, ballur (benda yang berwarna putih seperti kaca), dan alat yang mendekatkan yang jauh atau memperbesar yang kecil. Namun, kemudian Asysyarwani mengemukakan pendapatnya sendiri bahwa walaupun menggunakan alat tetap masih bisa disebut sebagai Rukyat (Hasyiatusy Syarwani, 3:332).

3.    Pendapat yang lebih tegas dikemukakan oleh Al Muthi’i. Ia menyatakan: “Rukyat Bil Fi’li dengan mempergunakan alat (Nazharah) tetap dapat diterima karena yang terlihat melalui alat tersebut adalah Hilal itu sendiri (Ainul Hilal) bukan yang lain. Fungsi alat hanya untuk membantu penglihatan dalam melihat yang jauh atau sesuatu yang kecil.”

E.    Manajemen Rukyat
Agar pelaksanaan rukyatul hilal dapat berjalan dengan lancar, terarah serta mencapai sasaran yang dikehendaki maka perlu adanya penerapan menejemen dalam penyelenggaraan rukyat, terutama penyelenggaraan rukyatul hilal  untuk penetapan tanggal 1 Ramadlan atau 1 Syawal.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penyelenggaraan rukyatul hilal adalah sebagi berikut :
1.    Perencanaan

Perencanaan adalah tugas pertama yang harus dilakukan sebelum melakukan kegiatan-kegiatan lainnya. Tanpa suatu rencana yang matang maka semua kegiatan tidak akan terlaksana dengan baik dan tidak akan tentu ujung pangkalnya. Kegiatan yang termasuk perencanaan rukyatul hilal adalah :

a.    Menentukan tujuan penyelenggaraan.

Tujuan penyelenggaraan ini dapat dikaitkan dengan kepentingan rukyatul hilal itu sendiri, apakah untuk kepentingan penetapan 1 Ramadlan atau 1 Syawal, pengecekan hasil perhitungan, melatih ketrampilan dan sebagainya.

Penentuan tujuan ini merupakan hal yang sangat penting, sebab dapat mewarnai seluruh kegiatan-kegiatan.
b.    Menentukan lokasi.
c.    Menentukan waktu.
d.    Menentukan para pelaksana.
e.    Menentukan alat-alat.
f.    Menentukan data perhitungan dan tehnik penyelenggaraan rukyat.
g.    Menentukan sistim laporan dan saranya.
h.    Menentukan anggaran biaya.

2.    Pengorganisasian.
    Yang dimaksud dengan pengorganisasian disini adalah pembentukan atau team pelaksana rukyatul hilal  berikut pembagian tugasnya.
Beberapa hal yang penting untuk ditangani dalam masalah pelaksanaan rukyatul hilal adalah :

a.     Bidang penyelenggaraan tehnis. Bidang ini meliputi penentuan lokasi dan waktu, penyediaan alat, penyediaan data hisab, penentuan tehnis rukyat serta memimpin jalannya pelaksanaan melihat hilal.

b.    Bidang pengiriman laporan. Bidang ini meliputi penyediaan fasilitas laporan, penyusunan laporan, koordinasi dengan Postel, pengiriman laporan dari seluruh kegiatan rukyatul  hilal.

c.     Bidang pemeriksaan dan pengesahan hasil rukyat. Bidang ini meliputi pencatatan dan pemeriksaan saksi yang melihat hilal kemudian menetapkan bahwa kesaksian tersebut dapat diterima atau ditolak. Bidang ini merupakan tugas yang berhubungan langsung dengan hukum, oleh sebab itu para pelaksananya harus terdiri dari para hakim dan panitera.

d.    Bidang umum.Bidang ini meliputi segala kegiatan yang tidak termasuk kepada bidang-bidang sebelunnya. Kegiatan bidang umum terdiri dari masalah-masalah administrasi, keuangan,konsumsi, transportasi, dokumentasi, publikasi dan sebagainya.

3.    Pelaksana dan Koordinasi Pelaksanaan Tugas.
  Agar pelaksanaan rukyatul hilal itu terkoordinasi, sebaiknya dibentuk suatu tiem pelaksana rukyat. Tiem ini hendaknya dari unsur-unsur terkait, misalnya Pengadilan Agama, Kementerian Agama, Organisasi Masyarakat, Ahli hisab, Orang yang memiliki ketrampilan rukyat, dll. Atau dapat juga sebuah tiem dari suatu organisasi masyarakat dengan koordinasi unsur-unsur terkait tersebut,

4.    Pengawasan.
Pengawasan / kontrol ini bertujuan mengetahui apakah segala sesuatu telah berjalan sesuai dengan rencana yang ditetapkan,  apakah  ada kesulitan dan kelemahan-kelemahan  serta mungkinkah diadakan perbaikan. Dalam pelaksanaan rukyatul hilal, hal-hal yang perlu mendapat kontrol yang baik adalah penyelenggaraan tehnis rukyat itu sendiri seperti pembuatan arah geografis, pencocokan waktu, penentuan ketinggian hilal dan azimuth  dan lain sebagainya.


F.    Alat-alat Hisab dan Rukyat.
1.    Alarm Clock.
 Adalah jam ( beker atau arloji ) yang dapat distel sekehendak hati untuk mengeluarkan bunyi tanda pengingat. Dalam pelaksanaan rukyat, terutama pada saat kita tidak dapat melihat Matahari terbenam, alat ini cukup berguna, walaupun bukan suatu keharusan. Dengen menyetel Alarm Clock untuk saat Matahari terbenam dan saat Hilal terbenam (berdasarkan hasil perhitungan), seolah-olah kita diberi aba-aba dan dikomando untuk mulai dan mengakhiri pelaksanaan rukyat. Dengan mempergunakan Alarm Clock, hasil perhitungan itu tidak hanya diindra oleh mata saja, melainkan dapat dapat juga dirasakan oleh telinga untuk kemudian diteliti didalam observasi.

2.    Altimeter.

Adalah alat pengukur tinggi suatu tempat, alat ini bersifat barometrik,artinya pengukuran tinggi tempat yang didasarkan pada tekanan udara tempat tersebut dibandingkan dengan tempat lainnya, misalnya permukaan air laut. Oleh karena itu pada saat alat ini dipasang, kondisi udara pada tempat yang dicari ketinggiannya dengan tempat yang menjadi standar haruslah sama. 

Kondisi udara yang baik untuk setiap tempat adalah sekitar jam 10.00 atau lebih dan tidak terlalu sore. Jarak tempat yang akan dicari ketinggiannya dengan tempat yang menjadi standar juga sangat mempengaruhi ketepatan penggunaan alat ini, sebab semakin jauh jarak antara kedua tersebut, kemungkinan perbedaan kondisi udaranya akan semakin besar. Oleh karena sukarnya menentukan kesamaan kondisi udara tersebut maka hasil dari penggunaan  alat ini hanyalah merupakan estimit saja, tidak pasti. Yang lebih pasti dan teliti dalam menentukan ketinggian tempat ini, adalah dengan menggunakan Theodolit, dan dilakukan secara estafet.

Namun demikian,  penggunaan Altimeter dalam menentukan tinggi tempat yang ada hubungannya dengan rukyat hisab sudah cukup memadai. Hal ini disebakan karena perbedaan beberapa meter dari tinggi suatu tempat tidak akan berpengaruh besar terhadap nilai kerendahan ufuknya.


3.    Chronometer atau Lonceng Astronomi.

Adalah jam/penunjuk waktu yang nilai ketepatannya sangat tinggi. Alat ini sangat penting dalam pelaksanaan navigasi. Didalam hisab rukyat, alat ini juga sangat diperlukan. Semua hasil perhitungan yang ada hubungannya dengan waktu, kebenarannnya hanya bisa dicheck  dengan mempergunakan alat penunjuk waktu yang sangat tepat dan teliti. Alat inipun dapat dipergunakan untuk menentukan Bujur suatu tempat.

4.     Gawang lokasi.
Adalah sebuah alat sederhana yang digunakan untuk menentukan ancer-ancer posisi Hilal dalam pelaksanaan rukyat. Alat ini terdiri dari dua bagian yaitu :

a.    Tiang Pengincar, sebuah tiang tegak terbuat dari besi yang tingginya sekitar satu sampai satu setengah meter dan pada puncaknya diberi lobang kecil untuk mengincar Hilal.

b.    Gawang Lokasi, Yaitu dua buah tiang tegak, terbuat dari besi berongga,semacam pipa. Pada ketinggian yang sama dengan tinggi tiang teropong, kedua tiang tersebut dihubungkan oleh mistar datar,  sepanjang kira-kira 15 sampai 20 cm, sehingga kalau kita melihat melalui lobang kecil yang terdapat pada ujung Tiang Pengincar menyinggung garis atas mistar tersebut, pandangan kita akan menembus persis permukaan air laut yang merupakan ufuk ma'i/Visible horizon. Diatas kedua tiang tersebut terdapat pula dua buah tiang besi yang atasnya sudah dihubungkan oleh mistar mendatar.

 Kedua tiang ini dimasukkan ke dalam rongga dua tiang pertama,sehingga tinggi rendahnya dapat dstel menurut tinggi hilal pada saat observasi. Jarak yang baik antara Tiang Pengincar dan Gawang Lokasi sekitar lima meter, atau lebih. Jadi fungsi Gawang Lokasi ini adalah untuk melokalisir pandangan kita agar tertuju kearah posisi Hilal yang sudah diperhitungkan lebih dahulu. Untuk mempergunakan alat ini, kita harus sudah punya hasil perhitungan tentang Tinngi dan Azimuth Hilal, dan pada tersebut harus sudah terdapat Arah Mata Angin yang cermat.

5.    Jarum Pedoman atau Kompas.

Adalah alat penunjuk arah mata angin. Jarum Pedoman terbuat dari logam magnetis yang diletakkan sedemikian rupa sehingga dengan mudah dapat bebas bergerak ke semua arah. Jarum Pedoman akan selalu menunjuk ke arah Utara, namun tidak persis menunjuk kearah Titik Kutub Utara. Untuk mendapatkan arah Utara yang tepat, harus diadakan Koreksi Deklinasi Magnetis. Koreksi ini tidak sama untuk setiap saat dan tempat. Dalam mempergunakan alat ini, hendaknya dijaga agar terhindar dari pengaruh magnetis benda-benda sekitarnya. Oleh karena itu, Jarum Pedoman yang baik disamping harus mempunyai gerak yang bebas dan Skala Azimut yang teliti, juga harus diberi sangkar atau tempat yang menjauhkannya dari pengaruh magnetis benda-benda sekitarnya.
Dua istilah penting yang perlu diketahui dalam hubungannya dengan alat ini :

a.     Deklinasi, yaitu sudut yang dibuat oleh Jarum Pedoman dengan arah Utara Selatan pada bidang mendatar.
b.    Inklinasi, yaitu sudut yang dibuat oleh Jarum Pedoman dengan arah Utara Selatan pada bidang Vertikal.
c.   
6.    Mesin Hitung.

Mesin Hitung adalah suatu alat yang dipergunakan untuk membantu dalam soal hitung menghitung.
Pada garis besarnya mesin hitung terbagi dua bagian :

a.Mesin hitung yang bersifat mekanik, digerakan oleh per, bukan oleh listrik. Mesin hitung ini hanya dapat digunakan dalam masalah penjumlahan dan perkalian, bahkan ada yang hanya penjumlahan saja. Alat semacam ini tidak bisa dipergunakan untuk masalah Hisab dan Rukyat, sebab tidak dapat untuk mencari fungsi goneometris, logaritma, akar dan lain sebagainya yang sangat diperlukan dalam Hisab Rukyat.

b.Mesin hitung yang bersifat elektronis, digerakkan oleh listrik. Mesin hitung ini dikenal dengan nama "Calkulator"  Disamping Calculator yang hanya mempunyai fungsi penjumlahan dan perkalian saja, juga terdapat calkulator yang dapat mencari fungsi goneometris, logaritma, akar, pangkat, dan lain sebagainya  yang sangat membantu dalam kelancaran hitung menghitung. Calkulator semacam ini dikenal dengan istilah  "Scientific Calkulator".

 Sistem Hisab yang mempergunakan kaidah-kaidah Spherical Trigonometry, sangat memerlukan Scientific Calkulator ini. Untuk melakukan perhitungan dalam jumlah besar, seperti menemukan awal dan akhir waktu sholat setiap hari selama setahun, atau menentukan arah Qiblat untuk tiap-tiap ibukota negara seluh dunia dan sebagainya, dapat dipergunakan mesin hitung "Programming Calkulator".

Calculator jenis ini  sebelum melakukan perhitungan dapat dipakai mem "Program" rumus terlebih dahulu. Artinya kita memasukkan rumus untuk mendapatkan "Program" nya, bahkan Program ini dapat disimpan dalam sebuah "kaset khusus" untuk dipergunakan bila mana perlu tanpa mem "Program" lagi terlebih dulu. Setelah kita mempunyai program, kita hanya tinggal memasukkan data yang diperlukan dan seketika itu akan keluar hasilnya. Dengan demikian perhitungan yang berjumlah banyak, asal rumusnya sama, akan dapat diselesaikan dalam waktu yang relatif singkat.


7.    Mistar Radial
Adalah alat sederhana untuk mengukur derajat posisi suatu benda langit dari posisi yang ditentukan. Alat ini terbuat dari sebuah mistar atau benda lurus lainnya yang diberi skala milimeter dan sentimeter.
Alat ini penting sekali bagi orang yang melaksanakan Rukyatul Hilal dengan mata telanjang serta tidak mempunyai alat dan hasil perhitungan yang teliti. 

8.    Pemotret Bintang dan Pesawat Equatoral


Pemotret bintang adalah  alat pemotret yang dapat mengambil gambar suatu benda langit. Sudah barang tentu, alat ini harus ditempatkan pada sebuah teropong  yang ditujukan tepat pada benda langit tersebut. Teropong yang biasa digunakan memotret bintang adalah "Pesawat Equatorial" yaitu sebuah teropong yang sumbunya diletakkan searah dengan sumbu langit. Sehingga koordinat yang dipakaipun bukan lagi Tinggi dan Azimuth, melainkan Deklinasi dan Ascensio Rekta, dengan bantuan jam Bintang. Oleh karena itu, dengan melihat tabel astronomis yang memuat data benda langit tersebut, peredarannya akan mudah untuk selalu diawasi.

Walaupun secara hukum, adanya bukti potret Hilal itu bukan merupakan suatu keharusan dalam menentukan Awal Bulan Qomariyah, namun hal itu merupakan sesuatu yang sangat diperlukan. Selain untuk dokumentasi sejarah, potret hilal ini juga dapat dijadikan obyek study penelitian dalam rangka meningkatkan kwalitas perhitungan dan pengambilan data, juga terutama dalam rangka meningkatkan keberhasilan dalam pelaksanaan Rukyatul Hilal itu sendiri.

9.    Pesawat Lingkaran Meridian atau Transit Theodolit.
   
 Adalah sebuah teropong  yang hanya dapat bergerak bebas sepanjang bidang meridian, arah utara selatan. Pada alat ini terdapat sebuah skala yang dipasang vertikal dengan pembagian satuan derajat. Pesawat ini dipergunakan untuk menentukan saat dan tinggi suatu benda langit yang sedang berkulminasi. Tinggi kulminasi dari benda langit tersebut dapat dilihat pada skala yang dipasang vertikal tadi.

Dengan mengetahui tinggi kulminasi dan deklinasi, yang diperoleh antara lain dari Almanak Nautika, kita dapat menentukan Lintang Tempat secara teliti.

10.    Pesawat Pelaluan atau Pesawat Passage.

Adalah pesawat seperti pesawat Lingkaran Meridian, hanya pesawat pelaluan ini tidak dilengakapi dengan skala derajat yang berfungsi untuk mengukur Tinggi Kulminasi dari suatu benda langit.

Jadi, pesawat pelaluan ini hanya dipergunakan untuk mengetahui "saat" setiap benda langit berkulminasi.
Walaupun demikian  pesawat ini juga masih sangat diperlukan dalam menentukan Waktu Pertengahan Matahari Setempat (LMT), menentukan Awal Waktu Dhuhur, menentukan Ascensio Rekta dan sebagainya.

11.    Radio.
Radio adalah alat komunikasi yang bekerja dengan mempergunakan gelombang udara/gelombang radio. Pesawat ini ada dua macam, yaitu yang khusus menerima saja seperti kebanyakan radio yang beredar dimasyarakat, dan pesawat yang bisa menerima dan mengirim/timbal balik, yaitu seperti pesawat – pesawat komunikasi yang dipakai oleh para pengemudi pesawat terbang dan kapal laut.

Di dalam pelaksanaan Rukyatul Hilal, alat ini penting sekali, gunanya antara lain untuk mencocokkan  waktu dan memberi laporan dengan cepat. 

12.    Rubu' Mujayyab.
Adalah suatu alat untuk menghitung fungsi goneometris, yang sangat berguna untuk memproyeksikan suatu peredaran benda langit pada lingkaran vertikal. Alat  ini terbuat dari kayu/papan/mika berbentuk seperempat lingkaran, salah satu mukanya biasanya ditempeli kertas yang sudah yang telah diberi gambar seperempat lingkaran dan garis-garis derajat serta garis-garis lainnya. Dalam istilah goneometri alat ini disebut " Qwadran ".
Bagian-bagian penting dari Rubu' :
a.    Bagian yang melengkung  sepanjang seperempat lingkaran, disebut QOUS (BUSUR). Bagian ini diberi skala derajat 0 sampai dengan 90 yang dimulai dari sisi JAIB TAMMAM dan diakhiri pada sisi JAIB.

b.    Satu sisi lurus tempat mengincar sasaran, disebut JAIB. Artinya sinus. Bagian ini diberi skala 0 sampai dengan 60 yang disebut satuan SITTINI (satuan seperenampuluhan) atau 0 sampai dengan 100 yang disebut A'syari (satuan desimal). Dari tiap titik satuan skala itu, ditarik garis yang tegak lurus terhadap sisi JAIB itu sendiri. Garis-garis itu disebut JUYUB MANKUSAH.

c.    Sisi lurus lainnya, disebut sisi JAIB TAMMAM, (artinya Cosinus), yang memuat  skala seperti pada sisi JAIB. Juga dari tiap titik skala ini ditarik garis yang tegak lurus terhadap sisi JAIB TAMMAM itu sendiri. Garis-garis ini disebut JUYUB MABSUTHOH.

d.    Titik pusat Rubu', disebut MARKAZ, Titik ini merupakan perpotongan antara sisi JAIB dengan sisi JAIB TAMMAM. Pada titik ini terdapat lobang kecil yang dimasuki benang.

e.    Pada benang tersebut ada simpulan kecil, terbuat dari benang juga yang dapat digeser turun naik dengan mudah, berfungsi sebagai pemberi tanda. Simpulan ini disebut MURI.

f.    Bandul, terbuat dari logam yang diikatkan pada ujung benang. Bandul ini berfungsi untuk meluruskan benang sehingga dengan jelas benang tersebut menempati titik atau garis tertentu. Bandul ini disebut SYAKUL.

g.    Lobang kecil sepanjang sisi JAIB yang berfungsi sebagai teropong untuk mengincar suatu benda langit atau sasaran lainnya. Lubang ini disebut HADAFAH.

Rubu'  yang baik adalah yang ukurannya cukup besar, skalanya teliti dan tepat, lubang pada Markaz hanya pas untuk benang saja (tidak longgar) dan lobang Hadafahnya tidak terlalu besar serta persis berimpit dengan sisi Jaib. Disamping itu, jika Rubu' tersebut akan dipergunakan untuk mengincar sasaran, hendaknya memakai tiang yang dapat distel sedemikian rupa sehingga kalau sasarannya sudah kena, posisinya tidak berubah lagi dan dengan tepat benang bersyakul itu akan menunjukkan posisi yang sebenarnya.

13.    Stopwatch.

Adalah penunjuk waktu yang dapat distel dan diberhentikan seketika sekehendak pemakai. Kegunaan STOPWATCH ini adalah untuk mengukur waktu suatu kejadian yang memakan waktu relatif pendek, seperi balap renang, lari jarak pendek, pacuan kudan pengukuran panjang pernafasan dan sebagainya. Prinsip cara kerja alat ini sama seperti jam penunjuk waktu lainnya, hanya dalam skala satuan waktunya  alat ini menggunakan skala satuan waktu yang lebih detail. Semakin dtail skala satuan waktunya, semakin baik Stopwatch ini dalam penggunaannya.

Dalam pelaksanaan Rukyatul Hilal alat ini penting sekali. Antara lain dapat dipergunakan untuk mengukur waktu antara Matahari terbenam dengan waktu Hilal mulai dapat dirukyat, dan untuk mengukur waktu lama Hilal dapat di Rukyat. Kedua jarak waktu ini, selain penting untuk dilaporkan  demi kepentingan hukum, juga kalau dihubungkan dengan posisi Hilal yang teliti, maka dapat diadakan suatu evaluasi dari kebenaran atau kelemahan sistim perhitungan yang dipergunakan.

Juga dengan bantuan Stopwatch, kita dapat mengukur waktu yang teliti tentang lama Matahari terbenam, sejak piringan bawah menyentuh Ufuk Mar'i sampai piringan atas menghilang sama sekali. Hal ini penting sekali, dan akan memberi gambaran tentang lama piringan Matahari melewati posisi tertentu, seperti Matahari menempati posisi yang akan membuat bayang-bayang mengarah ke Qiblat.

Juga peristiwa gerhana dan peristiwa penting lainnya yang ada hubungannya dengan Hisab Rukyat sangat memerlukan alat ini.

14.    Theodolit. 

Theodolit adalah suatu alat yang dipergunakan untuk menentukan Tinggi  dan Azimuth suatu benda langit. Alat ini mempunyai dua buah sumbu. Yaitu sumbu "Vertikal", untuk melihat skala ketinggian benda langit, dan sumbu "Horizontal", untuk melihat skala Azimuthnya. Sehingga teropongnya yang digunakan  untuk mengincar benda langit dapat bebas bergerak ke semua arah. Jenis Theodolit ini ada yang khusus dipakai untuk menentukan tinggi benda langit yang sedang berkulminasi. Artinya ukuran Azimuthnya sudah ditetapkan permanen,  yaitu 0 derajat dan 180 derajat. Teropongnya diletakkan vertikal dan hanya bebas  bergerak kearah Utara Selatan. (Lihat Pesawat Lingkaran Meridian). Selain untuk menentukan posisi benda langit, alat ini juga dapat digunakan untukmengukur tanah dan mengukur ketinggian secara tepat.

Alat ini penting untuk pelaksanaan Hisab Rukyat, sebab dalam Rukyat yang diperhitungkan adalah posisi hilal dari Ufuq Mar'i dan Azimuth hilal dari salah satu arah mata angin (Utara atau Barat). Dalam Rukyat , juga selalu diperhitungkan Nilai kerendahan Ufuk yang dipengaruhi oleh tinggi tempat Peninjau. Ketinggian ini secara tepat dan teliti dapat diukur dengan mempergunakan THEODOLIT.

15.    Tongkat Istiwa'. 

Tongkat Istiwa' adalah sebuah tongkat yang ditancapkan tegak-lurus pada bidang datar dan diletakkan pada tempat terbuka, Sehingga Matahari dapat menyinarinya dengan bebas.

Pada zaman dahulu tongkat ini dikenal dengan nama “GNOMON”.Dimesie, orang bisa menggunakan Obelisk sebagai pengganti tongkat. Dinegeri kita, sampai sekarang masih banyak orang yang mempergunakan Tongkat Istiwa sebagai alat untuk mencocokkan Waktu Istiwa (Waktu Matahari Pertengahan Setempat atau Local Mean Time) dan untuk menentukan waktu-waktu Shalat.

Banyak sekali kegunaan dari Tongkat Istiwa ini, antara lain :
a.       Untuk  menentukan arah mata angin.
b.    Untuk mengetahui “saat” Matahari berkulminasi.
c.       Untuk mengetahui tinggi posisi matahari.
d.    Untuk dipakai melukis arah Qiblat.  




   III.      Kesimpulan
  1. Rukyat secara Istilah adalah melihat Hilal pada saat matahari terbenam pada akhir bulan qomariyah dalam rangka menentukan awal bulan qomariyah.
  2. Rukyat yang baik itu tidak hanya dilakukan pada akhir Sya’ban, Romadlan, Dzul Qo’dah saja, tetapi dilaksanakan pada bulan-bulan yang lain.
  3. Fungsi Rukyat disamping untuk mengetahui Hilal pada awal bulan qomariyah, juga dapat sebagai kontrol dalam Hisab.
  4.  Dasar adanya Rukyat adalah dari Hadits-hadits Nabi Muhammad SAW.
  5. Para Ulama mempunyai pandangan yang berbeda tentang boleh dan tidaknya memakai alat Rukyat.
  6. Rukyat agar dapat berhasil dengan baik perlu adanya menejemen yang baik pula.
  7. Alat-alat Rukyat disamping yang kami sebutkan diatas, tentunya masih banyak lagi alat rukyat yang modern, seperti Komputer,Telepon,Hp, Internet, GPS dan lain-lain.
  8. IV.Penutup
  9. Demikian makalah saya susun, usaha maksimal telah saya lakukan demi sempurnanya makala ini,  tentunya masih banyak kekurangan dan kesalahan, saran dan kritik yang membangun kami harapkan dari teman-teman, terutama yang terhormat Bapak Dosen pengampu mata kuliah Fiqh Muqorin. Semoga bermanfaat….amin

Daftar Pustaka.

Al Qur’an dan terjemah, Departemen Agama Republik Indonesia, 1982/1983.
 Almanak Hisab Rukyat, Badan Hisab & Rukyat Departemen Agama,Proyek Pembinaan Badan Peradilan Agama Islam 1981.
Jamil, Ahmad, Ilmu Falak Teori dan Aplikasi, Amzah Jakarta 2009.
Khazin, Muhyiddin, Ilmu Falak dalam Teori dan Praktek, Buana Pustaka tahun 2004.
Pedoman Tehnik Rukyat, Departemen Agama RI, Derektorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, Derektorat Pembinaan Badan Peradilan Agama Islam, tahun 1994/1995.
Ruskanda, Farid, Rukyah Dengan Tehnologi, Gema Insani Pres, Jakarta 1994.
Azhari, Susiknan, Hisab dan Rukyat, Pustaka Pelajar Yogyakarta 2007.


Judul Artikel: pengertian rukyat dalam islam
Rating: 100% based on 99998 ratings. 5 user reviews.
Ditulis Oleh Sang Pecinta

Link: http://makalahkomplit.blogspot.com/2012/09/pemakaian-alat-rukyat-dalam-konteks.html Terimakasih atas kunjungan Sobat beserta kesediaan Anda membaca artikel ini (http://makalahkomplit.blogspot.com/2012/09/pemakaian-alat-rukyat-dalam-konteks.html). Kritik dan Saran sobat dapat sampaikan melalui Kotak komentar dibawah ini. http://makalahkomplit.blogspot.com/2012/09/pemakaian-alat-rukyat-dalam-konteks.html, http://makalahkomplit.blogspot.com/2012/09/pemakaian-alat-rukyat-dalam-konteks.html, http://makalahkomplit.blogspot.com/2012/09/pemakaian-alat-rukyat-dalam-konteks.html, Selamat membaca di Makalah Komplit

Temukan Judul: semua Artikel , Manfaat dari , Ikut sertakan judul , , , , dan

0 komentar:

Poskan Komentar