0
     BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Qodzaf adalah menuduh orang lain melakukan zina. Dalam islam menuduh orang lain berzina adalah salah satu dari dosa besar yang membinasakan bagi pelakunya. Dan dalam makalah ini akan dibahas tentang bagaimana tuduhan itu dapat dikenakan hadd atau hukuman. 

Apalagi di zaman sekarang ini masalah perzinaan semakin dianggap seperti hal yang biasa bagi pelakunya baik remaja ataupun yang sudah berkeluarga. Ironi sekali jika remaja yang menjadi harapan bangsa harus ternoda nama besarnya akibat pergaulan yang tidak terarah, tidak lepas dari topik makalah ini bahwa qadzaf (tuduhan) dijatuhkan dengan tatanan sesuai syara’ diantaranya dengan mendatangkan empat orang saksi. Namun jika seseorang menuduh orang lain berzina tanpa adanya saksi ataupun bukti maka hadd atau hukuman akan dijatuhkan padanya.

Dan menjadi harapan dengan terselesainya makalah ini, mahasiswa mampu memahami dampak negatif dari zina dan memahami bagaimana jika kita dihadapkan dalam suatu kasus perzinaan kita mampu mengambil keputusan yang tepat sesuai apa yang ada dalam syara’. Dan mampu mengaplikasikannya kedalam kehidupan sehari-hari yang nantinya dapat bermanfaat bagi kehidupan masyarakat dan agama.

B. Rumusan Masalah

Dari tema bahasan tentang “Hadzul qodzaf” terdapat beberapa masalah yang dibahas, yaitu meliputi :
  • Apakah saja  ruang lingkup bahasan dan pengertian dari qadzaf !
  • Bagaimanakah kadar hukuman qadzaf itu !
  • Bagaimanakah  hadd menuduh orang banyak !
  • Apa yang menyebabkan gugurnya hadd qadzaf !

BAB II
PEMBAHASAN MASALAH

Dalam makalah ini kita bahas meliputi makna qadzaf, qadzif (pelaku qadzaf), maqdzuf (korban qadzaf), hukumnya, dan dengan alat bukti apa qadzaf itu ditetapkan.m pokok pembicaraan dalam makalah ini adalah firman Allah  :

    “ dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) kemudian mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera dan janganlah kamu terima kasaksian mereka untuk selamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik, keculai orang-orang yang berttaubat sesudah itu dan memperbaiki (dirinya)…” (QS. An nur :4-5)

1.    Qadzif

Mengenai qadzif (orang yang menuduh orang lain berzina), fuqaha sepakat bahwa ada dua syarat yang harus dipenuhi yaitu dewasa dan berakal atau mukallaf.

2.    Maqdzuf

Maqdzuf (orang yang dituduh berzina), fuqahqa spakat ada lima syarat bagi madzuf, yaitu dewasa, merdeka, kerhormatan dirinya terjaga (al-‘afaf) atau tidak berbuat zina , islam, dan ia mempunyai alat untuk berzina. Hukumannya adalah delapan puluh kali dera, jika pelakunya orang merdeka, dan jia budak, maka hukumannya adalah empat puluh deraan.

3.    Qadzaf

Qodzaf berarti tuduhan, suduhan yang dilakukan orang lain kepada lainnya telah melakukan sebuah perzinaan dan qodzaf sendiri dapat terkena hadd atau hukuman.

Mengenai qadzaf yang mengakibatkan hukuman hudud, qadzaf atau tuduhan dapat dinyatakan melalui ucapan “engkau tela berzina”, atau “hai pezina”atau “si fulan telah menzinamu” atau “hai pelacur”.seandainya seseorang mengatakan kepada anaknya sendiri atau kepada anak orang lain ,”hai anak zina”, maka kalimat itu secara tidak langsung tuduhan kepada ibu si anak tersebut .

Fuqaha sepakat bahwa qadzaf apabila diucapkan dengan kata-kata yang jelas, maka qadzif harus dikenai hukuman had, tetapi jika diucapkan dengan kata sindiran “hai orang-orang yang suka homo seks”, maka fuqaha masih beda pendapat.Syafi’i, Abu hanifah, Ats- Tsauri, dan Ibnu Abi Laila berpendapat bahwa  tuduhan dengan kata-kata sindiran tidak terkena hukuman hadd, hanya saja Abu Hanifah dan Syafi’i memenetapkan ta’zir baginya. Malik dan para pengikutnya berpendapat justru yang mendapatkan had adalah penuduh yang menggunakan kata-kata sindiran.

Orang tua  tidak dikenakan hukuman had karena menuduh anaknya sendiri berzina, melainkan hanya dikenakan hukuman ta’zir, seperti halnya tuduhan yang dilakukan orang yang bukan mukallaf.

   Pembicaraan tentang hukuman meliputi macamnya, bilangannya, dan hal-hal yang menggugurkan hadd.
Mengenai kadar hukuman, fuqaha sepakat bahwa hukuman terebut adalah delapan puluh kali dera bagi qadzif yang merdeka, berdasarkan firman Allah dalam surat an nur ayat 4. Kemudian fuqaha berselisih pendapat tentang hukuman seorang hamba yang menuduh orang merdeka. Jumhur fuqaha berpendapat bahwa hukumannya adalah separuh dari hukuman orang merdeka yakni empat puluh kali dera. Fuqaha lain berpendapat, hukumannya adalah sama dengan hukuman orang merdeka sebab mereka berpegangan pada keumuman nash Alquran lagipula, fuqaha sependapat bahwa hukuman hamba adalah delapan puluh kali dera. Oleh karenanya, kadar tersebut tentu lebih pantas bagi hamba. sedangkan jumhur fuqaha menqiyas hukuman terhadap hamba itu dengan hadd  terhadap hamba karena zina.

      Fuqaha sepakat apabila seorang menuduh orang lain berkali-kali dalam satu waktu, maka ia dikenai satu hukuman (hadd). Jadi, ia tidak dihukum setiap qadzaf. Tetapi jika kemudian ia menuduh lagi, maka ia dijatuhi hukuman lagi. Dan jika ia menuduh lagi, maka ia dijatuhi hukuman lagi dan begitu seterusnya.

Fuqaha berselisih pendapat apabila ada sorang menuduh orang banyak berbuat zina. Segolongan fuqaha berpendapat bahwa orang tersebut hanya dijatuhi hukuman satu kali, baik qadzaf itu dilontarkan secara bersamaan ataupun terpisah-pisah. Menurut golongan lain masing-masing maqdzuf berhak menjatuhi hadd atasnya. Dalam riwayat Al-Hasan Bin Hay bahwa ia berkata, jika seorang berkata “barang siapa masuk rumah ini, maka ia telah berbuat zina,” maka qadzif dijatuhi hukuman sebanyak oran yang masuk itu.

Menurut golongan lain, apabila qadzaf terhadap mereka (maqdzuf) dikumpulkan dalam satu ucapan, seperti “hai orang-orang yang berzina”, maka qadzif harus dijatuhi hukuman satu kali, sedang apabila ia berkata kepada masing-masing orang “hai orang yang bezina” kepada masing-masing orang, maka ia dijatuhi hukuman setiap orang yang dituduhnya.

Fuqaha yang berpendapat bahwa hukuman hadd adalah hak masing-masing orang atau hak adami, jadi apabila satu qadzif saat menuduh orang banyak, terdapat sebagian yang memaafkan sean mayoritas tidak, maka hukuman (hadd) tidak menjadi gugur atasnya.

Fuqaha yang membedakan antara menuduh orang banyak dalam satu atau beberapa ucapan, dalam satu majlis, atau beberapa majlis. Itu karena mereka berpendapat bahwa hukuman itu harus terbilang sesuai dengan bilangan qadzaf. Demikian itu karena apabila blangan maqdzuf dikumpulkan dengan bilangan qadzaf, maka hukuman itu harus juga sama dengan jumlah maqdzuf.

Hadd menuduh zina dapat gugur dari si penuduh dengan adanya tiga perkara:

1.    Si penuduh (qadzif) dapat mendatangkan empat saksi
Berdasarkan ijmak, perkara yang dapat menghindarkan hukuman hadd terhadap qadzif adalah manakala perbuatan zina tersebut dapat ditetapkan dengan empat orang saksi. Seandainya saksi kurang dari empat orang , maka mereka terkena hukuman hadd menuduh berzina.

2.    Si tertuduh (maqdzuf) memaafkan qadzif
Hukuman hadd menuduh orang lain berzina dapat digugurkan karena ada pemaafan dari orang yang dituduhnya atau dari ahli waris yag memperoleh warisan harta peninggalannya.

3.    Si penuduh bersumpah li’an dalam kaitannya dengan hak seorang istri
Tiada larangan seorang suami (bila terpaksa) menuduh istrinya berbuat zina, jika memang si suami mengetahui perbuatan zina istrinya ketika masih dalam ikatan pernikahan dengannya, dengan berdasarkan dugaan yang kuat disertai dengan tanda-tanda yang menunjukkan hal itu.
Ketika suami menuduh zina istrinya, dandia tidak mampu mendatangkan saksi (bukti) maka wajib dilaksanakan hadd menuduh zina atas diri suami, kecuali apabila dia bersumpah li’an. Dan ketika ia bersumpah li’an maka gugurlah hadd tersebut atau dirinya.

BAB III
PENUTUP

A.    Simpulan

1.    Hadzul Qadzaf  memiliki unsur: qadzif (orang yang menuduh zina), maqdzuf (orang yang dituduh zina), qadzaf (tuduhan zina).
2.    Hukuman Hadd itu sebanyak delapan kali dera sesuai dalam Alqur’an.
3.    Menuduh orang banyak telah melakukan zina terdapat perbedaan pendapat dari fuqaha, ada yang dihitung per maqdzuf ada juga yang dihitung jadi satu hadd.
4.    Gugurnya hadd qadzaf itu ada beberapa sebab :
a.    Si penuduh (qadzif) dapat mendatangkan empat saksi
b.    Si tertuduh (maqdzuf) memaafkan qadzif
c.    Si penuduh bersumpah li’an dalam kaitannya dengan hak seorang istri

B.    Saran dan Kritik

Akhirnya makalah ini sampai pada penutup dan terkhir yang ingin penulis sampaikan dari makalah ini bahwa penulis menyadari makalah kami masih sangatlah jauh dari kriteria makalah yang baik dan benar, dari itu kami tidak bosannya sangatlah mengharapkan saran dan kritik yang membangun guna evaluasi pada makalah kami berikutnya. Dan semoga terselesainya makalah ini dapat memberi manfaat bagi kita semua terlebih bagi yang memanfaatkannya…. Amin Ya Robbal Alamin.







DAFTAR PUSTAKA


    Rusyd Ibnu, Bidayatul Mujtahid, Pustaka Amani, Jakarta :2007

    Aziz  Zainudin Bin Abdul, Terjemah Fathul Mu’in, Sinar Baru Algesindo,      Bandung: 2005

    Al-bagha Mustofa Da’ib, At Tadzhib Fi Adillati Ghoyati Wat Taqrib, Toha Putra, Semarang: 1993

Next
Posting Lebih Baru
Previous
This is the last post.

Poskan Komentar

 
Top